MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) — Menjadi tenaga profesional tidak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan akademik dan keterampilan kerja. Mahasiswa juga perlu memiliki karakter, integritas, serta landasan moral dan spiritual yang kuat sebagai bekal menghadapi dunia profesional.
Hal tersebut menjadi perhatian Universitas Islam Bandung (Unisba) melalui Lembaga Peningkatan Insan Mujahid-Mujtahid-Mujaddid (LPI3M). Lembaga tersebut memberikan pembinaan keislaman bagi mahasiswa tingkat akhir Politeknik Al Islam Bandung melalui kegiatan Pesantren Intensif Calon Ahli Madya Tahun Akademik 2025/2026.
Kegiatan pembinaan berlangsung selama tiga hari, 27–29 Agustus 2026, bertempat di Kampus II Unisba, Ciburial, Kabupaten Bandung. Peserta berasal dari mahasiswa tingkat akhir Politeknik Al Islam Bandung dari beberapa program studi, di antaranya Administrasi Rumah Sakit, Radiodiagnostik dan Radiologi, serta Terapi Wicara.
Pesantren tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman keislaman yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa yang akan memasuki dunia profesional, khususnya sebagai calon tenaga kesehatan. Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan wawasan agama, tetapi juga menekankan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan kerja.
Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya penting untuk memperkuat kesiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.
Menurutnya, nilai moral dan spiritual menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan profesi, terutama dalam bidang kesehatan yang berkaitan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat.
Perpaduan Kelas Besar dan Tutorial
Untuk membuat pembinaan lebih efektif, Pesantren Intensif Calon Ahli Madya menggunakan dua pola pembelajaran, yakni kelas besar dan tutorial.
Pada sesi kelas besar, mahasiswa mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas diri. Di antaranya pengembangan insan cerdas dan kompetitif di era digital, konsep pelayanan prima dalam perspektif Islam, serta pemahaman mengenai kesehatan mental.
Sementara itu, sesi tutorial memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih praktis. Peserta dibekali materi thaharah, teori dan praktik salat berjamaah, fikih salat bagi pasien, bimbingan doa untuk orang sakit, pembinaan bacaan Al-Qur’an, tafakkur fiddin, hingga praktik pemulasaraan jenazah.
Ketua LPI3M Unisba, Dr. Parihat, Dra., M.Si., menjelaskan bahwa seluruh rangkaian pembinaan diarahkan untuk membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang bertakwa, berperilaku Islami, sekaligus memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalankan profesi.
Ia berharap pembekalan selama pesantren dapat menjadi bagian dari karakter mahasiswa ketika kelak memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Perkuat Kemampuan Al-Qur’an dan Komunikasi
Selain pembelajaran keislaman, peserta juga mengikuti sejumlah kegiatan pendukung. Salah satunya evaluasi kemampuan membaca Al-Qur’an melalui placement test.
Kegiatan spiritual turut diperkuat melalui salat tahajud berjamaah serta ceramah tematik yang dilaksanakan setelah salat Magrib dan Subuh.
Mahasiswa juga memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan komunikasi melalui Lomba Parade Ceramah. Ajang tersebut menjadi sarana untuk melatih keberanian berbicara di depan publik sekaligus meningkatkan kemampuan menyampaikan pesan-pesan keislaman secara efektif.
Melalui Pesantren Intensif Calon Ahli Madya, LPI3M Unisba dan Politeknik Al Islam Bandung berupaya menghadirkan pembinaan yang menyatukan kompetensi akademik, keterampilan profesional, karakter, dan akhlak.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya siap memasuki dunia kerja sebagai tenaga profesional, tetapi juga mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjunjung nilai kemanusiaan, serta memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keislaman.
(askur/nmn)


