MEDIA-KAMPUS.COM – Rektor Universitas Islam Bandung, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan Idulfitri sebagai momentum strategis untuk memperkuat ukhuwah akademik sekaligus meningkatkan semangat pengabdian kepada kampus dan masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan dalam acara Silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah yang berlangsung di Aula Unisba, Jalan Tamansari No. 1 Bandung, Jumat (27/3/2026).
Memperkuat Ukhuwah Akademik di Momentum Idulfitri
Kegiatan bertema “Memperkuat Ukhuwah Akademik Menuju Kampus Berdampak dan Berdaya Saing Global” ini dihadiri oleh jajaran Badan Pengawas dan Pengurus Yayasan Unisba, pimpinan universitas, dekan, dosen, hingga tenaga kependidikan.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan ucapan Idulfitri sekaligus mengajak seluruh keluarga besar Unisba untuk mempertahankan nilai-nilai positif yang telah ditempa selama Ramadan.
“Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi. Saya mewakili pimpinan universitas mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan proses pembentukan karakter yang seharusnya terus berlanjut. Nilai disiplin, semangat ibadah, dan pengabdian perlu diimplementasikan dalam aktivitas akademik sehari-hari.
Rektor juga mengingatkan pesan tokoh pendiri Unisba, KH E.Z. Muttaqien, agar sivitas akademika menanamkan karakter Mujahid (pejuang), Mujtahid (pemikir), dan Mujaddid (pembaharu).
Menurutnya, ketiga nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Dengan karakter itu, Unisba diharapkan mampu terus berkembang menjadi kampus yang memberi dampak bagi umat dan bangsa,” tambahnya.
Tausiyah Mendiktisaintek: Ilmu Harus Berlandaskan Ketakwaan
Dalam kesempatan yang sama, tausiyah Idulfitri disampaikan oleh Brian Yuliarto yang hadir secara daring melalui Zoom.
Ia menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan karakter yang harus berkelanjutan.
“Ramadan melatih kita mengendalikan diri, disiplin, dan jujur. Setelah Ramadan, justru perubahan itu harus semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia akademik membutuhkan fondasi spiritual yang kuat. Tanpa ketakwaan, ilmu dan riset berpotensi kehilangan arah.
“Ilmu bisa menyimpang, riset bisa tidak jujur, dan inovasi kehilangan keberkahan jika tidak dilandasi nilai spiritual dan integritas,” jelasnya.
Selain itu, Mendiktisaintek menyoroti pentingnya kolaborasi dalam dunia akademik. Menurutnya, kekuatan individu tidak cukup tanpa kerja sama yang solid.
“Sering kali kita kuat secara individu, tetapi lemah dalam kolaborasi. Padahal ilmu berkembang melalui kerja sama. Ukhuwah akademik harus menjadi energi untuk menghasilkan dampak nyata,” tegasnya.
Silaturahmi sebagai Wujud Ketakwaan
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Yayasan Unisba, Miftah Faridl, menegaskan bahwa silaturahmi Idulfitri bukan hanya tradisi, tetapi bagian dari implementasi nilai keimanan.
Ia mengingatkan ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya memberi kepada yang tidak memberi, menyambung hubungan yang terputus, serta memaafkan kesalahan orang lain.
“Islam tidak mengajarkan dendam. Justru melalui silaturahmi, kita diajarkan untuk saling memaafkan dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, seluruh sivitas akademika Unisba diharapkan semakin solid dalam kebersamaan dan meningkatkan dedikasi untuk menjadikan kampus sebagai institusi yang berdampak luas serta mampu bersaing di tingkat global.(sani/png)***


