MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) — Wisuda menjadi momen istimewa bagi Raihan Nurhafidz. Bagi wisudawan Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung (Unisba) ini, gelar sarjana bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan buah dari perjuangan panjang selama empat tahun.
Di tengah kesibukan menjalani perkuliahan dan organisasi, Raihan juga bekerja sebagai ojek online (ojol) untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus meringankan beban ekonomi keluarganya.
Raihan dikukuhkan sebagai wisudawan Unisba dalam prosesi yang berlangsung di Kampus Utama Unisba, Sabtu–Minggu (21–22/8/2026). Ia menyelesaikan studi pada 27 April 2026 dengan IPK 3,82 dan predikat Pujian.
Sejak awal, Raihan memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain ingin membanggakan orang tua, ia memilih Unisba karena menilai kampus tersebut memiliki lingkungan pendidikan yang baik serta kuat dalam nilai-nilai keagamaan.
Selama menjalani perkuliahan, Raihan memperoleh Beasiswa Jabar Future Leadership (JFLS). Beasiswa tersebut tidak hanya membantu meringankan biaya pendidikan, tetapi juga memberinya kesempatan berinteraksi dan mengenal mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat.
Meski mendapat bantuan beasiswa, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Raihan pun memilih bekerja sebagai ojol setelah menyelesaikan aktivitas perkuliahannya.
“Memang saya ingin ikut bermain atau nongkrong setelah selesai kuliah tetapi saya melihat kondisi keuangan orang tua maupun saya sendiri memang kekurangan. Maka dari itu saya memberanikan untuk ngojek,” ujar Raihan.
Keputusan tersebut membuat Raihan harus pandai mengatur waktu. Seusai mengikuti kuliah dan kegiatan organisasi, ia kembali turun ke jalan untuk mencari penghasilan.
Di lingkungan kampus, Raihan juga aktif berorganisasi. Ia pernah terlibat dalam Kepanitiaan Pemilihan dan Persidangan di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (KP2FTK). Setelah itu, ia bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan ditempatkan di bidang media informasi.
Pengalaman Unik Selama Menjadi Ojol
Pekerjaan sebagai ojol memberikan Raihan berbagai pengalaman yang tidak selalu ditemuinya di bangku kuliah.
Salah satunya terjadi ketika ia mendapat pesanan makanan pada malam hari. Saat mengikuti petunjuk aplikasi peta, Raihan justru menemukan dirinya berada di kawasan pemakaman.
“Di map enggak ada tapi tiba-tiba pas saya mau belok ternyata di situ kuburan yang banyak,” katanya sambil tertawa.
Bagi Raihan, menjadi ojol bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan. Pekerjaan tersebut menjadi bentuk tanggung jawabnya untuk ikut membantu kondisi ekonomi keluarga.
Raihan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ibunya merupakan ibu rumah tangga yang juga menjalankan warung kecil, sedangkan ayahnya bekerja sebagai satpam. Sebelum menjadi satpam, sang ayah juga pernah bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Pengalaman orang tua tersebut membuat Raihan memahami arti kerja keras sejak dini.
Orang Tua Jadi Sumber Kekuatan Raihan
Ayah Raihan menggambarkan putranya sebagai sosok yang penurut dan tidak banyak menuntut. Sejak kecil, Raihan dinilai telah ikut merasakan perjuangan orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dia memang termasuk anak yang penurut. Dia tuh kayak ikut penderitaan orang tuanya. Dia mengalami apa yang orang tua alami,” ujar sang ayah.
Ketika Raihan memutuskan melanjutkan kuliah, orang tuanya sempat khawatir tidak mampu membiayai pendidikan hingga selesai. Namun, dukungan keluarga serta pesan dari kakeknya yang telah meninggal dunia menjadi penyemangat untuk terus berjuang.
“Dari awal kita bilang, ayo berjuang bareng-bareng,” kata ayah Raihan.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan dalam perjuangan bersama. Orang tua membantu biaya kuliah sesuai kemampuan, sementara Raihan berusaha memenuhi kebutuhan hariannya melalui penghasilan sebagai ojol.
Sang ibu mengaku sering merasa sedih ketika melihat putranya pulang setelah kuliah dalam keadaan lelah, tetapi kemudian kembali bekerja.
“Pas pulang ke rumah, setelah kuliah, langsung ngojek. Pas datang kelihatan lelahnya,” tutur sang ibu.
Meski harus menjalani rutinitas yang padat, Raihan tetap berusaha menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Ia berhasil menyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh Pembiasaan Shalat Berjamaah terhadap Kecerdasan Emosional Siswa di MTs As-Shofa Cisarua” dan meraih gelar sarjana dengan predikat Pujian.
Keberhasilan Raihan menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan besar bagi kedua orang tuanya. Ia menjadi anak pertama dalam keluarga yang berhasil meraih gelar sarjana.
“Suatu kemenangan buat keluarga kami. Apalagi ini baru pertama yang jadi sarjana. Suatu kemenangan, kebanggaan, rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. Abang bisa berhasil jadi sarjana,” ungkap sang ibu.
Bagi keluarga, salah satu momen paling melegakan adalah ketika Raihan berhasil menyelesaikan sidang. Setelah melewati proses tersebut, perjuangan selama empat tahun seolah terbayar lunas.
Kini, Raihan memasuki fase kehidupan berikutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia telah bekerja di Astro Highland Ciater pada bagian marketing, khususnya sebagai content creator.
Meski telah memiliki pekerjaan, Raihan masih menyimpan cita-cita untuk menjadi PNS, sebagaimana kakeknya. Untuk sementara, ia memilih menjalani pekerjaan yang ada sembari terus mencari peluang untuk mewujudkan impian tersebut.
Raihan: Wisuda Adalah Titik Awal
Bagi Raihan, keberhasilan meraih gelar sarjana bukanlah garis akhir. Ia justru melihat wisuda sebagai awal untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
“Buat teman-teman wisudawan semuanya, jangan patah semangat. Perjalanan ini baru dimulai. Ini titik awal kita untuk menjadi lebih besar dan lebih baik ke depannya,” pesannya.
Bagi kedua orang tuanya, keberhasilan Raihan menjadi jawaban atas doa dan pengorbanan yang selama ini mereka jalani bersama.
“Bang, ternyata perjuangan kita berhasil. Pengorbanan Abang selama ini ternyata Allah kabulkan,” ujar sang ayah.
Sementara sang ibu menitipkan pesan kepada anak pertamanya agar tetap bersyukur dan menjaga akhlak setelah memasuki kehidupan dewasa.
“Abang, Mama bangga sama Abang. Tetap bersyukur tetap jadi anak yang saleh. Bagaimanapun juga Abang sudah dewasa tetap jadi anak Mama dan Ayah,” katanya.
Perjalanan Raihan dari ruang kuliah, organisasi, hingga menjadi ojol menjadi kisah tentang kerja keras dan kemandirian. Gelar sarjana yang kini disandangnya menjadi bukti bahwa doa, dukungan orang tua, dan kegigihan dalam menghadapi keterbatasan dapat mengantarkan seseorang menuju cita-cita.
Namun, sebagaimana pesan Raihan, wisuda bukanlah akhir. Setelah toga dilepas, perjuangan untuk menjadi pribadi yang lebih besar dan memberikan manfaat justru baru dimulai.(askur/nmn)***


