Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Kerja Sungguhan atau Hanya Formalitas? Mengupas Fenomena Quiet Quitting dan Makna Kerja Berkah
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Kerja Sungguhan atau Hanya Formalitas? Mengupas Fenomena Quiet Quitting dan Makna Kerja Berkah

admin@mediakampus
Last updated: April 4, 2026 9:27 am
admin@mediakampus Published April 4, 2026
Share
Kerja Sungguhan atau Hanya Formalitas? Mengupas Fenomena Quiet Quitting dan Makna Kerja Berkah
Sunarto (Mahasiswa Program Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung - Unisba, Dosen FEB Untag Samarinda)
SHARE

Oleh Sunarto (Mahasiswa Program Doktor Manajemen Unisba Dosen FEB Untag Samarinda)

PERNAHKAH seseorang datang ke tempat kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai standar, lalu pulang tanpa beban—namun di dalam dirinya terasa hampa? Secara fisik ia hadir tetapi secara psikologis seolah  “mengundurkan diri” sejak lama. Fenomena ini kini dikenal luas dengan istilah quiet quitting, sebuah gejala baru dalam dunia kerja modern yang patut dicermati secara serius.

Quiet quitting bukanlah bentuk pengunduran diri secara formal, juga bukan kemalasan ekstrem. Fenomena ini lebih subtil: karyawan tetap bekerja tetapi hanya sebatas memenuhi kewajiban minimum. Tidak ada dorongan untuk berkontribusi lebih, tidak ada keterikatan emosional terhadap pekerjaan, dan tidak ada semangat untuk berkembang. Kondisi ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam, yakni hilangnya makna dalam bekerja. Ketika pekerjaan hanya dipandang sebagai rutinitas maka keterlibatan batin perlahan menghilang.

Mengapa Fenomena Ini Terjadi?
Realitas di banyak organisasi menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kontribusi dan penghargaan. Karyawan bekerja keras tetapi merasa kurang diapresiasi. Loyalitas tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Di sisi lain, tuntutan pekerjaan terus meningkat tanpa diiringi pengakuan yang layak.

Situasi ini melahirkan sikap pragmatis: bekerja secukupnya karena usaha tambahan dianggap tidak memberikan nilai tambah yang signifikan. Dengan kata lain, quiet quitting bukan semata persoalan individu, melainkan refleksi dari sistem kerja yang belum sepenuhnya adil dan
manusiawi. Bahkan, berdasarkan laporan Gallup (2023), hanya sebagian kecil karyawan di dunia yang benar-benar terlibat secara emosional dalam pekerjaannya. Sisanya berada dalam kondisi disengagement yang berpotensi menurunkan produktivitas organisasi.

Dalam kerangka Islam, kerja tidak semata-mata aktivitas ekonomi untuk memperoleh penghasilan. Lebih dari itu, kerja merupakan bagian dari ibadah yang memiliki dimensi spiritual. Setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang benar memiliki nilai di sisi Allah. Kelelahan dalam bekerja bukan sekadar konsekuensi fisik  tetapi juga dapat bernilai pahala. Tanggung jawab pekerjaan dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh integritas.

Sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 58, manusia diperintahkan untuk menunaikan amanah  sebaik-baiknya. Hal ini menegaskan bahwa pekerjaan bukan hanya urusan profesional tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Akar Masalah: Hilangnya Niat dalam Bekerja
Salah satu persoalan mendasar yang sering diabaikan adalah niat. Banyak individu bekerja semata karena faktor eksternal seperti gaji, jabatan, atau tuntutan ekonomi. Faktor-faktor tersebut memang penting tetapi ketika menjadi satu-satunya tujuan, pekerjaan kehilangan makna yang lebih dalam.

Dalam Islam, niat memiliki posisi sentral. Aktivitas yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda bergantung pada orientasi batinnya. Pekerjaan yang dilakukan dengan kesadaran ibadah akan melahirkan sikap yang berbeda dibandingkan pekerjaan yang hanya didorong oleh kepentingan material.

Fenomena disengagement mulai terlihat di kalangan tenaga kerja, khususnya generasi muda, juga menunjukkan adanya kebutuhan  makna dan keseimbangan hidup yang lebih besar.

Sebagai respon terhadap fenomena quiet quitting, diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis  tetapi juga menyentuh dimensi nilai. Dalam perspektif MSDM berbasis Islam, konsep kerja berkah menjadi alternatif yang relevan. Kerja berkah bukan sekadar bekerja keras atau bekerja pintar, melainkan bekerja dengan kesadaran nilai dan tanggung jawab spiritual.

Ada beberapa prinsip utama yang menjadi cirinya, pertama Amanah – menjalankan tugas dengan jujur dan penuh tanggung jawab, meskipun
tanpa pengawasan. Kedua, Ikhlas – tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama, melainkan mencari rida Allah. Ketiga, Ihsan – bekerja secara optimal dengan kualitas terbaik, bukan sekadar memenuhi standar minimum. Keempat Keadilan – tidak merugikan pihak lain serta menjaga integritas dalam setiap aktivitas kerja.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa Allah mencintai individu yang bekerja secara profesional dan menyempurnakan pekerjaannya. Ini menunjukkan bahwa kualitas kerja memiliki dimensi spiritual yang tinggi dalam Islam.

Refleksi untuk Individu
Fenomena quiet quitting seharusnya menjadi bahan refleksi bagi setiap individu. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya tentang apa yang diperoleh dari pekerjaan tetapi juga bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan.

Apakah seseorang hanya bekerja ketika diawasi? Apakah usaha yang diberikan selalu minimal sesuai imbalan? Ataukah ada kesadaran bahwa setiap pekerjaan adalah amanah?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah seseorang benar-benar bekerja atau sekadar hadir.

Di sisi lain, organisasi memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Karyawan bukan sekadar sumber daya, melainkan manusia yang memiliki kebutuhan akan penghargaan, keadilan, dan makna.

Organisasi perlu memastikan adanya sistem kompensasi yang adil,  pengakuan terhadap kontribusi karyawan, budaya kerja yang mendukung keseimbangan hidup dan nlai etika yang kuat dalam kepemimpinan.

Tanpa hal tersebut, disengagement akan terus meningkat dan berdampak pada kinerja jangka panjang.

Penutup: Antara Kehadiran dan Makna
Pada akhirnya, fenomena quiet quitting menghadirkan pilihan mendasar bagi setiap individu: menjadi sekadar bagian dari sistem, atau menjadi pribadi yang bekerja dengan kesadaran penuh.

Dalam perspektif Islam, nilai suatu pekerjaan tidak hanya diukur dari hasil yang tampak tetapi juga dari niat, proses, dan integritas yang menyertainya. Karena pada akhirnya, yang akan dipertanggungjawabkan bukan hanya apa yang dihasilkan tetapi juga bagaimana amanah itu dijalankan.***

TAGGED:#QuietQuitting #FenomenaKerjaModern #MaknaBekerja #KerjaBerkah #MotivasiKerja #EtosKerjaIslam #ProduktivitasKaryawan #ManajemenSDM #KeseimbanganHidupKerja #SpiritualitasDalamKerja
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
Unisba Expo 2026 Jadi Wadah Apresiasi Tridarma dan Pengenalan Dunia Kampus

Unisba Expo 2026 Jadi Wadah Apresiasi Tridarma dan Pengenalan Dunia Kampus

admin@mediakampus admin@mediakampus Januari 21, 2026
Unisba dan Momen Strategis: Menjadi Rumah bagi Sosialisasi Instrumen Akreditasi LAM-Teknik 2025
Festival Peduli Autisme 2026 di Depok: Menguatkan Edukasi dan Semangat Inklusi di Ruang Publik
Unisba dan Puskesmas Kopo Dorong Kesadaran Perempuan terhadap Kesehatan Rahim
Raih Juara I di Ajang Internasional “AEO”, Mahasiswa Psikologi Unisba Jadi Kebanggaan
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar