DI sebuah ruang sederhana di Pesantren Persis 45 Rahayu, suasana berbeda terasa pagi itu. Puluhan santri duduk dengan mata berbinar, menatap layar laptop dan ponsel mereka. Bukan sekadar belajar kitab atau tafsir seperti biasanya, kali ini mereka belajar sesuatu yang baru — menulis dengan bantuan Artificial Intelligence (AI).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digagas oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung (Unisba). Dengan mengusung tema “Pelatihan Menulis Berbasis AI”, kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia pesantren untuk menumbuhkan semangat literasi digital di kalangan generasi muda Islam.
Kegiatan dibuka dengan sambutan penuh semangat dari Dr. Fitroh Hayati, M.Pd.I., Kaprodi PAI Unisba. Dalam tutur lembutnya, ia mengingatkan para santri bahwa kemampuan menulis bukan hanya keterampilan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah ilmiah.
“AI tidak menggantikan manusia,” ujarnya, “tetapi menjadi sahabat berpikir yang menuntun kita untuk lebih kreatif, reflektif, dan produktif—dengan nilai-nilai Islam sebagai landasannya.”
Bagi para santri, kata “AI” mungkin terdengar asing. Namun hari itu, istilah itu berubah menjadi pengalaman nyata. Mereka belajar bagaimana teknologi bisa membantu menata kata, memperkaya ide, bahkan menemukan gaya menulis yang khas tanpa meninggalkan sentuhan spiritualitas dalam tulisan mereka.
Pesantren dan Kampus Berpadu dalam Misi Literasi
Dari pihak pesantren, Ust. Iman Hilman, S.Pd., selaku Mudir MA Persis 45 Rahayu, menyambut kolaborasi ini dengan tangan terbuka. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari visi pesantren untuk melahirkan generasi muslim yang cerdas digital, berakhlak, dan kreatif dalam menyampaikan gagasan.
“Santri harus bisa bicara kepada dunia lewat tulisan. Dengan AI, mereka belajar bahwa teknologi bisa menjadi alat dakwah dan pengembangan diri,” tutur Ust. Iman.
Pelatihan ini menghadirkan Dr. Asep Dudi S., S.Ag., M.Pd. sebagai narasumber utama. Dalam suasana hangat dan interaktif, ia memaparkan tentang dasar-dasar kepenulisan, fungsi AI dalam dunia menulis, hingga praktik membuat cerpen, artikel populer, dan karya ilmiah.
Lebih dari 80 santri kelas XII mengikuti pelatihan ini dengan antusias luar biasa. Mereka menulis, berdiskusi, dan mencoba perintah-perintah sederhana di platform berbasis AI. Hasilnya? Muncul tulisan-tulisan reflektif—tentang pengalaman spiritual, tentang cita-cita, bahkan tentang bagaimana menjadi santri di era digital.
“Rasanya seperti punya teman baru yang membantu menulis tanpa menggurui,” kata seorang santri sambil tersenyum. “Tapi tetap, ide dan nilai-nilai Islamnya harus datang dari diri kita.”
Sebagai penegasan komitmen bersama, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Agreement (IA) antara Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba dengan Pesantren Persis 45 Rahayu Bandung.
Kesepakatan ini menjadi dasar kerja sama berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Para asatidzah yang hadir turut memberikan dukungan, melihat pelatihan ini sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan zaman.
Kegiatan hari itu bukan sekadar pelatihan menulis. Ia menjadi titik temu antara tradisi dan inovasi — antara pesantren yang berakar pada nilai-nilai keislaman, dan kampus yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Para santri pulang membawa lebih dari sekadar catatan atau file digital. Mereka membawa kesadaran baru: bahwa menulis bisa menjadi jalan dakwah, dan teknologi — jika digunakan dengan bijak — dapat menjadi sarana untuk mengabdi kepada ilmu dan agama.
Di tengah cepatnya arus digital, sinergi seperti ini menjadi oase: tempat di mana akal, iman, dan teknologi bersatu dalam semangat literasi yang penuh makna.(askur/png)


