SENIN pagi itu, suasana Ruang Rapat Gedung LPPM Universitas Islam Bandung (Unisba) terasa berbeda. Di balik meja panjang yang dipenuhi dokumen dan senyum hangat para pimpinan, tersimpan sebuah cita-cita besar: menjadikan kampus sebagai pusat perubahan yang berdampak — tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi bumi yang kian menua.
Hari itu, Unisba menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Kantor Cabang Pembantu Perguruan Tinggi Bandung (KCP PTB). Bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan langkah bersama untuk membangun kampus berkelanjutan dan berjiwa hijau, berkonsep zero waste.
Bagi Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., kesepakatan ini adalah perwujudan nyata dari semangat impactful campus — gagasan yang digelorakan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV untuk mendorong kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga pusat solusi bagi masalah sosial dan lingkungan.
“Kita tidak ingin konsep zero waste hanya berhenti di dalam pagar kampus. Tantangan sebenarnya ada di masyarakat Jawa Barat. Di situlah spirit ini akan diuji,” tutur Harits dengan nada penuh keyakinan.
Harits menyadari bahwa perubahan besar harus dimulai dari inovasi. Karena itu, Unisba kini bekerja sama dengan Kemendikbudristek dalam pengembangan Reaktor Plasma Dingin — teknologi modern yang mampu mengolah sampah tanpa menghasilkan emisi berbahaya. Teknologi ini merupakan bentuk nyata komitmen Unisba untuk berkontribusi terhadap lingkungan melalui sains dan riset.
“Dengan teknologi ini, kita tidak hanya berbicara tentang pengurangan sampah, tapi tentang masa depan yang lebih bersih,” ujarnya.
Kolaborasi dengan BNI pun disambut dengan antusias. Harits menyebut kerja sama ini sebagai simbiosis mutualisme — saling menguatkan antara potensi akademik kampus dan dukungan korporasi.
Sebelumnya, Unisba juga telah menjalin kemitraan dengan sejumlah bank seperti BSI, Bank Muamalat, dan Bank BJB, yang semuanya ikut menopang pengembangan kampus.
“Kami ingin membangun kampus yang tidak hanya maju secara akademik, tetapi juga berdampak bagi lingkungan dan masyarakat,” imbuhnya.
Harapan serupa datang dari pihak BNI. Rinaldo, Area Head BNI Wilayah 04, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin kerja sama ini berhenti pada tanda tangan MoU semata.
“Kami ingin melihat hasil nyata. Kolaborasi ini harus melahirkan program yang benar-benar memberi manfaat bagi kedua pihak — dan tentu saja bagi masyarakat,” ujarnya dengan optimis.
Kerja sama ini juga menjadi bagian dari program CSR yang digagas oleh LLDIKTI Wilayah IV bersama Kemendikbudristek, di mana Unisba dipercaya untuk aktif mengimplementasikan kegiatan berdampak sosial dan lingkungan.
Acara tersebut dihadiri oleh para pimpinan dari kedua institusi. Dari BNI hadir jajaran manajemen wilayah dan cabang, sementara dari Unisba hadir para wakil rektor dan kepala bagian yang membidangi keuangan serta kerja sama dalam negeri.
Namun di balik seremonial yang tampak formal itu, ada makna yang lebih mendalam: semangat gotong royong dalam menjaga bumi.
Kerja sama ini bukan sekadar menandatangani berkas, melainkan menandai komitmen dua institusi besar untuk membangun masa depan pendidikan yang hijau, inovatif, dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis sampah yang kian memprihatinkan, langkah Unisba dan BNI menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kampus — dari kesadaran, kolaborasi, dan tekad untuk tidak berhenti hanya pada wacana.(askur/png)


