DI ruang kuliah modern Shinawatra University, suara langkah kaki mahasiswa terdengar bersahut-sahutan pagi itu, 8 Oktober 2025. Di hadapan mereka berdiri seorang dosen asal Bandung dengan senyum ramah dan bahasa tubuh yang penuh percaya diri: Dr. Hendrati Dwi Mulyaningsih, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Bandung (Unisba).
Ia tidak datang untuk sekadar mengajar. Ia datang membawa semangat lintas bangsa—mengalirkan ilmu, nilai, dan inspirasi dalam kuliah tamu bertema “Strategic Management in the Era of Global Business Transformation.”
Sebanyak 90 mahasiswa Faculty of Management tampak menyimak dengan antusias. Mereka bukan hanya mendengar tentang teori manajemen strategis, tetapi juga diajak menelusuri bagaimana dunia bisnis menuntut agility, pola pikir inovatif, dan kemampuan berkolaborasi lintas budaya.
Bagi Dr. Hendrati, manajemen bukan hanya tentang angka dan strategi. “Ilmu ini hidup bila dipraktikkan dengan nurani,” ujarnya lembut kepada mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa etika bisnis dan prinsip keberlanjutan (sustainability) bukan sekadar konsep akademik, tetapi kompas moral yang menentukan arah perusahaan di masa depan.
Suasana ruang kuliah menjadi dialog terbuka yang hangat. Bahasa kadang menjadi batas, tapi senyum dan empati menjembataninya. Mahasiswa Thailand itu mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk, mencatat, dan bertanya dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Salah satu peserta, Suphansa Chaiyaporn, mengaku terinspirasi.
“Dr. Hendrati membuat kami memahami bahwa strategi bisnis bukan hanya tentang teori di buku, tetapi tentang bagaimana manusia beradaptasi dan berinovasi menghadapi perubahan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Di balik sesi akademik itu, terselip makna yang lebih dalam: ilmu yang dibagikan bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran lintas budaya tentang arti keberlanjutan dan kemanusiaan.
Bagi Unisba, kegiatan ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi perjalanan spiritual ilmu—mewujudkan misi universitas yang berorientasi internasional tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kemanusiaan.
Kerja sama antara Unisba dan Shinawatra University pun menjadi jembatan bukan hanya bagi pertukaran pengetahuan, tetapi juga pertemuan nilai-nilai universal: kejujuran, tanggung jawab, dan kemajuan bersama.
Saat kuliah berakhir, para mahasiswa bertepuk tangan panjang. Dr. Hendrati menundukkan kepala, tersenyum hangat, dan berkata pelan, “Terima kasih, kalian membuat ilmu ini terasa hidup.”
Hari itu, di sebuah ruang kuliah di Bangkok, bukan hanya teori manajemen yang diajarkan — tetapi juga pelajaran tentang kemanusiaan dan harapan.(askur/png)


