SUARA riuh tawa mahasiswa terdengar memenuhi ruang Student Centre Universitas Islam Bandung (Unisba) siang itu, Senin (10/11). Di tengah panggung sederhana berdiri dua sosok yang tak asing di dunia penyiaran: Andrie Kemir Maulana, Program Director & Creative dari Voks Radio, dan rekannya Dimas Soeharko, seorang penyiar muda yang energinya mampu menular ke seluruh ruangan.
Mereka bukan datang untuk sekadar berbicara tentang teori komunikasi. Keduanya hadir untuk menularkan rasa — semangat di balik mikrofon, denyut kreativitas yang membuat dunia radio tetap hidup di tengah derasnya arus digitalisasi.
Inilah suasana kuliah umum bertajuk “Creative Waves: Surfing the Future of Broadcasting”, kolaborasi antara Laboratorium Radio Fikom Unisba dan Voks Radio, yang dirancang bukan sebagai ruang ceramah, tetapi sebagai panggung eksplorasi bagi mahasiswa yang tengah menapaki dunia broadcasting dan konten kreatif.
“Radio itu bukan sekadar suara di udara,” ujar Andrie Kemir sambil tersenyum, “tetapi tentang bagaimana kita menciptakan pengalaman bagi pendengar.”
Ucapannya disambut anggukan antusias dari para mahasiswa. Andrie kemudian mengisahkan perjalanan Voks Radio beradaptasi di era digital — bagaimana kreativitas menjadi kunci untuk tetap relevan di tengah persaingan media sosial, podcast, dan streaming yang tak ada habisnya.
Sementara itu, Dimas Soeharko membawa suasana ke arah yang lebih hangat. Ia bercerita tentang kekuatan storytelling. Baginya, seorang penyiar bukan hanya pembaca naskah, tetapi “teman bicara” bagi ribuan orang yang mungkin sedang merasa sendiri.
“Kalimat sederhana seperti ‘hai, kamu nggak sendirian’ bisa jadi penyelamat hari seseorang,” katanya, yang langsung membuat beberapa mahasiswa tersenyum.
Belajar Menyapa dengan Hati
Berbeda dari kuliah umum biasanya, sesi kali ini jauh dari kesan kaku. Para mahasiswa tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut bermain peran menjadi penyiar dadakan.
Ada yang tampil gugup, ada yang justru percaya diri memegang mikrofon dan menyapa “pendengar” imajiner. Tawa pecah ketika salah satu mahasiswa spontan membuka siaran dengan gaya penyiar radio jadul, lengkap dengan efek suara buatan sendiri.
Namun di balik keceriaan itu, ada pesan yang kuat: dunia penyiaran menuntut keberanian untuk menjadi diri sendiri, berpikir kreatif, dan mampu beradaptasi. “Kreativitas itu seperti ombak,” ujar Andrie di penghujung sesi. “Kita tidak bisa melawannya, tapi bisa belajar berselancar di atasnya.”
Kuliah umum ini menjadi refleksi bahwa radio belum mati. Ia hanya berganti wajah — hadir di YouTube, di Spotify, di platform digital lain, tapi dengan jiwa yang sama: menyampaikan cerita dan menjalin kedekatan.
Melalui kegiatan ini, Fikom Unisba ingin menanamkan nilai bahwa media bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang ekspresi dan kreativitas tanpa batas.
“Creative Waves: Surfing the Future of Broadcasting” bukan sekadar judul acara, melainkan simbol perjalanan generasi baru penyiar yang siap menghadapi masa depan media dengan keberanian dan imajinasi.
Karena pada akhirnya, seperti kata Dimas, “Selama masih ada cerita untuk dibagikan, suara radio akan selalu menemukan pendengarnya — di mana pun mereka berada.”(ask/png)

