MEDIA-KAMPUS.COM — Program Studi Magister Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar kegiatan Studium General bertajuk “Peluang dan Tantangan Teknologi Informasi Digital dan Media Sosial bagi Pendidikan Islami” pada Selasa (14/4). Kegiatan ini menjadi forum akademik penting dalam merespons derasnya arus disrupsi digital yang kini turut membentuk wajah pendidikan, khususnya pendidikan Islam di era modern.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba, Nan Rahminawati. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa dunia pendidikan harus siap menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital. Menurutnya, transformasi digital tidak hanya sebatas penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup perubahan cara pandang, metode pembelajaran, hingga nilai-nilai yang mendasari proses pendidikan.
Ia menegaskan bahwa pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai fundamentalnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Islam, Dedih Surana, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas akademik civitas akademika. Ia menyoroti pentingnya membangun digital mindset yang kritis, adaptif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Menurutnya, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan literasi digital yang baik agar penggunaannya tetap bijak, etis, dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan ini, hadir pula narasumber Santi Indra Astuti, seorang akademisi sekaligus praktisi literasi digital nasional. Ia memaparkan secara mendalam tentang fenomena disrupsi dalam dunia pendidikan, termasuk pergeseran otoritas keilmuan akibat terbukanya akses informasi secara luas.
Ia menjelaskan bahwa era digital saat ini ditandai dengan demokratisasi pengetahuan, di mana informasi dapat diakses oleh siapa saja. Namun, kondisi ini juga menuntut kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu menyaring dan memanfaatkan informasi secara tepat.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa transformasi digital dalam pendidikan meliputi integrasi teknologi dalam pembelajaran, pengembangan desain pembelajaran berbasis digital, kolaborasi melalui platform daring, hingga refleksi pedagogik yang berkelanjutan. Hal tersebut memerlukan dukungan dari berbagai aspek, mulai dari literasi digital, pengalaman penggunaan teknologi, pelatihan profesional, hingga kesiapan institusi pendidikan.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya diukur dari kemampuan teknis semata, tetapi juga dari kemampuan membangun budaya digital yang sehat. Tanpa etika dan budaya yang kuat, kecakapan digital justru berpotensi menimbulkan dampak negatif.
Kegiatan ini turut menyoroti pentingnya pengembangan digital mindset di kalangan pendidik, seperti sikap adaptif, inovatif, reflektif, serta memiliki growth mindset dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks pendidikan Islam, hal ini menjadi krusial untuk memastikan nilai-nilai keislaman tetap terinternalisasi dalam proses pembelajaran berbasis teknologi.
Melalui penyelenggaraan Studium General ini, Prodi Magister Pendidikan Islam FTK Unisba menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan Islam yang responsif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berakar kuat pada nilai-nilai keislaman.
Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, hingga praktisi pendidikan. Diharapkan, kegiatan ini mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di era digital.(ask/png)***


