MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Suasana ruang kelas SLB Negeri A Pajajaran, Kota Bandung, tampak lebih semarak pada Kamis (22/10/2026). Melalui kegiatan Abdimas IPSMF 2026 bertajuk Youth Voice Matters, para siswa mengikuti pelatihan komunikasi persuasif dan praktik public speaking untuk mengembangkan keberanian menyampaikan gagasan, mengenali potensi diri, serta membangun kepercayaan diri.
Kegiatan yang berlangsung di SLB Negeri A Pajajaran, Jalan Pajajaran Nomor 50, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40171, ini menjadi ruang belajar yang mendorong siswa agar berani menyuarakan pemikiran, harapan, dan cita-cita mereka.
Dalam sesi pematerian, narasumber Armien menjelaskan bahwa public speaking merupakan seni berbicara di depan umum dengan baik dan terarah. Persiapan pesan sebelum berbicara menjadi salah satu langkah penting agar seseorang lebih siap dan mampu mengurangi rasa gugup ketika tampil di hadapan orang lain.
“Proses penyampaian pesan yang sudah disiapkan sebelumnya agar nantinya tidak grogi saat ingin berbicara,” ujar Armien, Kamis (22/10/2026).
Pelatihan ini dirancang untuk membantu peserta didik mengembangkan keterampilan komunikasi sekaligus meningkatkan keberanian dalam menyampaikan ide. Dengan pendekatan interaktif dan inklusif, siswa diperkenalkan pada cara menyusun pesan persuasif, memahami kebutuhan audiens, serta mengungkapkan gagasan menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dimengerti.
Materi dan metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik tunanetra dan siswa berkebutuhan khusus lainnya agar setiap peserta memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar dan berpartisipasi.
Sepanjang kegiatan, para siswa menunjukkan antusiasme dalam mengikuti materi dan latihan komunikasi. Mereka belajar mengemukakan pendapat secara terstruktur, mengelola rasa gugup, serta membangun citra diri yang positif.
Sesi praktik public speaking menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Sejumlah siswa berkesempatan memperkenalkan diri, menceritakan hobi, hingga mengungkapkan impian mereka di hadapan peserta lainnya.
Armien menekankan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada pesan yang disampaikan, tetapi juga pada kemampuan pembicara membangun kedekatan emosional dengan audiens. Interaksi dua arah diperlukan agar komunikasi berlangsung lebih hidup dan menarik.
“Saya bertanya terkait apa kesukaan dan hobi kalian yang nantinya kalian bisa interaktif juga untuk menjawab pertanyaan saya,” kata Armien.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa minat dan hobi pribadi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun keterlibatan siswa. Ketika pembicaraan dikaitkan dengan hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka, seperti klub sepak bola favorit atau grup idola, siswa cenderung lebih antusias dalam merespons dan menyampaikan pendapat.
Dengan mengangkat topik yang mereka sukai, proses belajar komunikasi terasa lebih relevan, menyenangkan, dan mendorong peserta untuk berani mengekspresikan diri.
Pelatihan Komunikasi Inklusif bagi Siswa Disabilitas
Pada sesi berikutnya, siswa mendapatkan bimbingan mengenai teknik penyampaian pesan secara runtut, penggunaan intonasi yang jelas, pemilihan kata kunci, serta pemanfaatan bahasa tubuh yang sesuai.
Bagi siswa tunanetra, pelatihan memberikan perhatian khusus pada penguatan vokal, pengaturan napas, kejelasan artikulasi, dan penggunaan alat bantu presentasi yang mendukung pembelajaran inklusif.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah sesi presentasi harapan. Setiap siswa diberi kesempatan menyampaikan harapan, cita-cita, serta gambaran tentang pribadi yang ingin mereka bangun di masa depan. Mereka juga diajak mengungkapkan bagaimana orang lain biasanya memandang diri mereka.
Meski sebagian peserta masih merasakan gugup ketika diminta berbicara atau menjawab pertanyaan, keberanian mereka untuk mencoba menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Melalui latihan singkat, padat, dan jelas, siswa didorong untuk mulai membiasakan diri tampil dan berbicara di depan umum.
Rasa gugup yang muncul merupakan hal yang wajar, terutama bagi remaja yang masih mengembangkan keberanian untuk tampil di hadapan orang lain. Karena itu, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi penting untuk membantu mereka mengubah kecemasan menjadi kepercayaan diri.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa setiap siswa memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui kesempatan belajar, pendampingan, dan ruang berekspresi yang tepat.
Youth Voice Matters, Dorong Suara Anak Muda Menjadi Bagian Perubahan
Melalui program Youth Voice Matters, diharapkan semakin banyak peserta didik yang merasa didengar, dihargai, dan memiliki keberanian untuk mengambil peran dalam perubahan di lingkungan sekitarnya.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga pada upaya membangun kepercayaan diri, mengenali potensi personal, serta mengembangkan keterampilan menyampaikan gagasan secara persuasif dan inklusif.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan program penguatan komunikasi yang berkelanjutan. Inisiatif tersebut sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam menghadirkan ruang belajar yang memberdayakan, menghargai keberagaman kebutuhan peserta didik, dan memberikan tempat bagi suara generasi muda untuk tumbuh serta berkontribusi bagi masyarakat.(askur/nmn)***


