SUASANA di Auditorium Gedung Dekanat lantai 8 Universitas Islam Bandung (Unisba) pada hari itu terasa berbeda. Kursi-kursi penuh dengan undangan, akademisi, keluarga, dan kolega yang menantikan momen bersejarah: sidang terbuka promosi doktor pertama yang digelar Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba. Di tengah sorotan itu, berdiri seorang perempuan yang tenang namun penuh keyakinan, Tia Muthiah Umar, promovendus yang hari itu akan mempertahankan disertasinya.
Tia bukan sekadar mahasiswa doktoral. Ia dikenal sebagai akademisi sekaligus pegiat komunikasi publik, bahkan pernah memimpin Aisyiyah Jawa Barat. Kepeduliannya pada isu keagamaan, media, dan kebangsaan membuat topik penelitiannya terasa relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
Disertasinya yang berjudul “Wacana Keagamaan di Televisi Muhammadiyah: Kajian Wacana Kritis Tindakan Komunikatif dalam Konteks Moderasi Beragama” menyoroti peran Televisi Muhammadiyah (TVMu) dalam menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan inklusif. Melalui program Dialektika, Tia menemukan bahwa TVMu konsisten mengedepankan wacana moderat yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan realitas kebangsaan Indonesia.
Menggunakan Analisis Wacana Kritis Van Dijk dan Teori Tindakan Komunikatif Jürgen Habermas, ia menyingkap bahwa media Islam bisa memainkan peran strategis: meredam polarisasi, membangun dialog, dan menjawab isu-isu sensitif terkait agama.
Lebih jauh, Tia memperkenalkan dua konsep baru: Wasathiyyah Journalism dan Wasathiyyah Media Economics. Wasathiyyah Journalism menekankan etika, keseimbangan, dan validitas pemberitaan. Sementara Wasathiyyah Media Economics menekankan bisnis media yang beretika, berkeadilan, dan tetap berorientasi pada misi sosial. Konsep ini menegaskan bahwa media Islam bukan sekadar saluran informasi, tetapi juga institusi publik yang bertanggung jawab.
Sidang hari itu dipimpin langsung oleh Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. Para promotor, Prof. Dr. Atie Rachmiatie, Dra., M.Si., Prof. Dr. Karim Suryadi, M.S., dan Dr. Kiki Zakiah, Dra., M.Si., memberi penekanan bahwa riset ini relevan dengan arus besar bangsa: menguatkan toleransi, dialog, dan kohesi sosial. Bahkan pakar media, Prof. Alex Sobur, memberikan apresiasi khusus dengan menyebut disertasi Tia sarat dengan narasi jurnalisme, keislaman, dan keindonesiaan.
Bagi Tia, pencapaian ini bukan sekadar gelar akademik. Ia memaknainya sebagai panggilan untuk terus menghadirkan wajah media Islam yang inklusif dan rasional, yang mampu merangkul keberagaman masyarakat Indonesia.
Sidang terbuka tersebut menegaskan satu hal: Unisba tidak hanya melahirkan doktor komunikasi, tetapi juga intelektual yang siap menjawab tantangan zaman. Dari ruang sidang di Tamansari, lahir gagasan-gagasan baru tentang bagaimana media bisa menjadi jembatan yang menyejukkan, bukan sekadar pengeras suara.(ask/png)

