SUASANA Ruang Multimedia pagi itu berbeda dari biasanya. Deretan kursi siswa yang biasanya dipenuhi alat praktik kini berganti dengan wajah-wajah penuh antusias. Mereka bukan sedang menghadapi ujian, melainkan menyiapkan diri untuk masa depan — masa depan sebagai content creator di era kecerdasan buatan.
Di panggung depan, spanduk bertuliskan “Menjadi Content Creator di Era AI & Otomatisasi Digital” terbentang lebar. Bukan sekadar seminar biasa, kegiatan yang digagas oleh Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FIKOM) Telkom University ini menjadi ruang perjumpaan antara semangat muda dan pengetahuan baru yang tengah mengubah wajah industri kreatif, Jum’at (17/10)
“AI itu bukan musuh, tapi asisten yang cerdas,” ucap Fiqie Lavani Melano, S.I.Kom., M.I.Kom., dengan penuh semangat saat membuka sesi pemaparan. Kalimat sederhana itu langsung mencuri perhatian para siswa.
Fiqie menjelaskan bahwa di tengah derasnya arus otomatisasi, kemampuan berpikir kreatif dan empatik justru menjadi pembeda utama manusia dari mesin. Menurutnya, teknologi hanya akan menjadi alat yang kuat jika digunakan oleh orang yang memiliki ide dan nilai.
Empat tahap menjadi kreator pun dijabarkan dengan lugas — mulai dari menemukan niche, menyusun content plan, memproduksi karya yang menarik, hingga membangun hubungan emosional dengan audiens.
Namun yang paling ditekankan Fiqie adalah etika digital. Ia mengingatkan bahaya deepfake, fake news, dan plagiarisme yang bisa merusak integritas seorang kreator. “Gunakan AI untuk membantu, bukan menggantikan kreativitas kalian. Sentuhan personal itulah yang membuat konten hidup,” pesannya menutup sesi.
Seminar ini bukan sekadar duduk dan mendengarkan. Para siswa diajak bermain dalam sesi “Tebak Gambar” — permainan ringan yang menantang peserta menebak tokoh publik dari simbol visual yang lucu dan misterius. Gelak tawa pun memenuhi ruangan, mencairkan suasana sekaligus membuka ruang interaksi antara siswa dan narasumber.
Di sela kegiatan, dilakukan juga Pre-Test dan Post-Test untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan siswa berkembang. Hasilnya? Banyak yang terkejut betapa besar peran AI yang ternyata bisa membantu proses kreatif, bukan sekadar alat teknologi.
Dialog Antargenerasi: Dari Dosen ke Siswa
Menjelang akhir acara, sesi tanya jawab menjadi momen paling hidup. Beragam pertanyaan dilontarkan tanpa ragu — mulai dari bagaimana membuat konten FYP di TikTok, tips percaya diri di depan kamera, hingga cara menghadapi pencurian ide oleh kreator lain.
Fiqie menjawab satu per satu dengan gaya santai tapi penuh motivasi. “Yang penting mulai dulu. Jangan tunggu sempurna, karena dunia digital lebih menghargai keberanian daripada keraguan,” ujarnya disambut tepuk tangan.
Kepala Sekolah SMKN 5 Bandung, Kiki Rachmat Nugraha, S.Pd., mengaku bangga dengan kegiatan ini. “Anak-anak kami bukan hanya belajar teori, tapi juga mendapat inspirasi langsung tentang dunia yang akan mereka hadapi. Sangat relevan dan membuka wawasan,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Rana Akbari Fitriawan, S.Sos., M.Si., selaku ketua pelaksana kegiatan, menegaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari komitmen Telkom University untuk terus berbagi ilmu melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas).
“Generasi muda hari ini perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan, tapi juga mental kreatif dan kemampuan adaptasi teknologi. Kami ingin mereka tumbuh sebagai kreator yang beretika dan berdampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, semangat para siswa terlihat berbeda. Mereka pulang dengan mata berbinar — membawa pulang bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga keyakinan bahwa masa depan kreatif ada di tangan mereka sendiri.
Melalui seminar ini, Telkom University tidak hanya membagikan teori, tetapi juga menyalakan api kreativitas dan keberanian dalam diri generasi muda. Di era kecerdasan buatan yang serba cepat, justru keaslian, empati, dan cerita manusialah yang akan terus abadi. (askur/png)

