Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Menelusuri Nilai Secangkir Kopi melalui Cup of Excellence dan Peran Petani
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Feature

Menelusuri Nilai Secangkir Kopi melalui Cup of Excellence dan Peran Petani

admin@mediakampus
Last updated: Oktober 27, 2026 1:47 am
admin@mediakampus Published Oktober 27, 2026
Share
Menelusuri Nilai Secangkir Kopi melalui Cup of Excellence dan Peran Petani
Kopi yang diperlombakan berupa lot, yaitu sejumlah biji kopi dari produksi tertentu yang identitasnya dapat ditelusuri. Setiap lot pemenang dapat dilacak hingga kebun asalnya, disertai informasi petani, varietas, dan pengolahannya.(foto: ist)
Kopi yang diperlombakan berupa lot, yaitu sejumlah biji kopi dari produksi tertentu yang identitasnya dapat ditelusuri. Setiap lot pemenang dapat dilacak hingga kebun asalnya, disertai informasi petani, varietas, dan pengolahannya.(foto: ist)
SHARE

Oleh  Ahmad Fadhli, S.Sos, M.Si (Dosen Fikom Unisba, Pengamat Kopi)

MUTU secangkir kopi menyimpan pekerjaan panjang di kebun dan tempat pengolahan. Ketika mutu itu diakui, nama petani selayaknya ikut memperoleh tempat. Semangat inilah yang diusung Cup of Excellence (CoE), sebuah program kompetisi dan lelang internasional yang menghubungkan kualitas kopi, pengakuan terhadap petani, dan peluang memperoleh harga premium.

CoE lahir di Brasil pada 1999 untuk membantu petani memperoleh penghargaan ekonomi yang lebih baik atas kopi berkualitas tinggi. Para perintisnya mempertemukan pengetahuan pengujian cita rasa dengan gagasan lelang daring. Melalui cara ini, kopi yang berhasil menunjukkan mutunya dapat diperkenalkan kepada pembeli di berbagai negara, bersama nama produsennya.

Pada 2002, pengelolaan program beralih kepada organisasi nirlaba Alliance for Coffee Excellence (ACE). Dalam perkembangannya, CoE menjadi organisasi tersendiri yang berfokus pada kompetisi dan pendidikan, sementara ACE melanjutkan pengelolaan lelang. Sejarah resmi program mencatat keterlibatan 17 negara, dengan perjalanan yang menjangkau Amerika Latin, Afrika, hingga Asia.

Kopi yang diperlombakan berupa lot, yaitu sejumlah biji kopi dari produksi tertentu yang identitasnya dapat ditelusuri. Setiap lot pemenang dapat dilacak hingga kebun asalnya, disertai informasi petani, varietas, dan pengolahannya. Keterlacakan tersebut membantu pembeli memahami kopi yang diperoleh sekaligus memberi ruang bagi pengakuan terhadap pekerjaan produsennya.

Kejujuran penilaian dijaga melalui blind cupping atau pengujian cita rasa secara buta. Sampel diberi kode sehingga juri tidak mengetahui identitas petani, kebun, maupun daerah asal saat menilai. Kopi diuji berulang oleh panel nasional dan internasional. Penyiapan sampel diatur untuk mengurangi pengaruh perbedaan sangrai, gilingan, takaran, suhu, dan kualitas air.

Menurut aturan program, kompetisi terbuka bagi petani di negara penyelenggara tanpa membedakan kondisi ekonomi, ketenaran, gender, atau lokasi. Sampel pertama dapat diajukan tanpa biaya. Prinsip keterbukaan ini menyediakan kesempatan bagi kerja yang tekun di kebun untuk memperoleh perhatian melalui hasil penilaian yang adil.

Setelah penjurian, lot pemenang ditawarkan melalui lelang internasional. Sebagian besar hasilnya kembali kepada petani. Harga premium yang berpeluang diperoleh memberi insentif untuk terus menjaga mutu, sementara hubungan dengan pembeli dapat berkembang menjadi kerja sama yang berlanjut. Dalam penjelasan program pada 2025, CoE menekankan penemuan kopi unggul dan hubungan berbasis kepercayaan sebagai bagian dari upaya memperbaiki penghidupan petani.

Pengaruhnya terhadap industri juga pernah ditelaah. Laporan penilaian dampak di Brasil dan Honduras yang terbit pada Januari 2015 menggambarkan dukungan CoE terhadap perdagangan langsung, keterampilan pengujian cita rasa, dan hubungan antara produsen dengan pembeli. Laporan itu menunjukkan bagaimana pengakuan terhadap mutu dapat membuka pasar sekaligus memperluas pengetahuan tentang kopi di negara penghasil.

Indonesia menyelenggarakan CoE pertamanya pada 2021. Pada edisi tersebut, Pantan Musara dari Aceh, atas nama Dilen Ali Gogo, memperoleh nilai 89,28 dan harga lelang 80 dolar AS per pound. Ibun Ita dari Jawa Barat, atas nama Ita Rosita, mencatat nilai 89,04 dan harga lelang 65,20 dolar AS per pound. Catatan ini memperlihatkan hubungan nyata antara mutu yang diakui, nama produsen yang dikenal, dan kesempatan memperoleh imbalan ekonomi.

CoE Indonesia 2026

Semangat merawat mutu itu kembali hadir dalam CoE Indonesia 2026. Berdasarkan data awal penerimaan, terdapat 119 lot dari 10 provinsi dengan total berat 54.758 pound, setara sekitar 24,84 ton. Median berat lot tercatat sekitar 208,72 kilogram, dengan rentang sekitar 169,08 hingga 613,10 kilogram. Angka-angka ini menggambarkan kopi yang telah diterima untuk mengikuti proses seleksi.

Jawa Barat menyumbang 42 lot dan Aceh 33 lot. Kedua provinsi itu mencakup sekitar 63 persen dari seluruh lot yang diterima. Berikutnya terdapat Jawa Timur dengan 11 lot, Jambi dan Sulawesi Selatan masing-masing delapan lot, Bali enam lot, Jawa Tengah lima lot, Sumatera Utara tiga lot, Sumatera Selatan dua lot, serta Sumatera Barat satu lot. Sebaran ini menghadirkan asal kopi yang beragam untuk dikenal dan diuji melalui proses yang sama.

Keragaman tersebut juga terlihat pada skala kebun. Bahan awal mencatat luas pengusahaan dari 0,3 hingga 200 hektare. Dari 119 lot tersebut, 18 berasal dari kebun mikro seluas kurang dari 0,5 hektare, 79 dari kebun rakyat seluas 0,5–2 hektare, 13 dari kelompok menengah seluas 2–10 hektare, dan sembilan dari perkebunan besar seluas lebih dari 10 hingga 200 hektare. Dalam konteks CoE, informasi luas kebun membantu pembeli memahami latar produksi. Penilaian cita rasa tetap memberi kesempatan kepada setiap lot untuk menunjukkan kualitasnya, dengan identitas produsen dirahasiakan selama pengujian.

Data panen buah kopi atau cherry memperlihatkan perbedaan kapasitas produksi antar kelompok. Median panen pada kategori kebun mikro tercatat 2.900 kilogram, kebun rakyat 5.000 kilogram, kelompok menengah 7.000 kilogram, dan perkebunan besar 25.000 kilogram. Angka panen buah kopi ini menggambarkan skala bahan baku yang dihasilkan sebelum pengolahan menjadi biji kopi. Di setiap skala, perhatian terhadap pemilihan bahan dan pengolahannya menjadi bagian dari upaya menjaga mutu.

Kebun asal lot juga memiliki lingkungan tumbuh yang beragam. Data awal menunjukkan rentang ketinggian mulai sekitar 950 hingga 1.910 meter di atas permukaan laut. Sistem budidayanya mencakup naungan sedang, naungan penuh, dan lahan terbuka, dengan naungan sedang menjadi kelompok terbanyak dalam grafik. Informasi ketinggian dan naungan memperkaya gambaran tentang tempat kopi tumbuh, serta membantu memperkenalkan konteks kebun kepada calon pembeli.

Keragaman kultivar menambah kekayaan bahan yang akan diuji. Ateng tercatat pada 60 lot, S-795 pada 36 lot, dan Typica pada 33 lot. Catatan awal juga memuat Timor Hybrid, Sigararutang, Andungsari, Bourbon, Catimor, serta sejumlah kultivar lainnya. Bahan tersebut mencakup lot dengan campuran varietas, sehingga satu lot dapat memiliki lebih dari satu kultivar. Keragaman ini menyediakan bahan bagi penguji untuk mengenali karakter kopi melalui penilaian cita rasa.

Perhatian terhadap kondisi fisik kopi terlihat dari pencatatan kadar air dan aktivitas air atau water activity. Median kadar air tercatat 10,48 persen, dengan rentang 10–12 persen. Median aktivitas air berada pada 0,565, dengan rentang 0,493–0,643. Pencatatan kedua parameter ini berguna untuk memantau kondisi kopi dalam penanganan dan penyimpanan, sebagai bagian dari pekerjaan menjaga kualitas sebelum kopi sampai kepada pembeli.

Seluruh catatan awal tersebut merupakan profil lot yang diterima sebelum penjurian. Penilaian cita rasa akan menentukan lot-lot yang memenuhi kriteria penghargaan. Karena itu, proses penjurian pada Oktober menjadi kesempatan untuk menguji bagaimana pekerjaan di kebun dan pengolahan hadir dalam kualitas secangkir kopi.

Menurut Country Coordinator CoE Indonesia, Andi Widjaja, kopi peserta akan disangrai oleh tim juru sangrai dan diuji oleh panel nasional yang terdiri atas 15 penguji cita rasa profesional dari berbagai daerah Indonesia. Kegiatan pengujian akan dipimpin Ricky Dyson sebagai penguji kepala atau head judge. Dyson merupakan salah satu head judge program CoE dan pendiri bersama Idle Hands Roasting Co. di Salt Lake City, Amerika Serikat.

Berdasarkan jadwal yang disampaikan Andi, penjurian praseleksi berlangsung pada 7–10 Oktober 2026, dilanjutkan penjurian nasional pada 12–15 Oktober dan penjurian internasional pada 19–22 Oktober. Rangkaian seleksi akan menghasilkan maksimal 30 lot terbaik yang memenuhi nilai minimum 87 dari skala 100. Bahan awal program mencantumkan penetapan pemenang sebagai tonggak kegiatan pada 22 Oktober.

Selanjutnya, pengiriman sampel dijadwalkan pada 2–30 November untuk memperkenalkan kopi pemenang kepada calon pembeli. Lot yang lolos sebagai CoE winner akan ditawarkan dalam CoE Auction pada 1 Desember 2026. Melalui tahap ini, pengakuan atas kualitas dipertemukan dengan kesempatan memperoleh harga premium dan membangun hubungan usaha yang berlanjut.

Pada akhirnya, semangat CoE tumbuh melalui ketekunan merawat mutu, keterbukaan asal kopi, dan penghargaan kepada orang yang menghasilkannya. Bagi Indonesia, manfaat program ini akan semakin berarti ketika pengakuan terhadap lot pemenang membantu petani menjaga kualitas dari panen ke panen. Setiap kopi yang sampai kepada pembeli membawa nama kebun dan kerja petani yang layak dikenal serta dihargai.***

TAGGED:#CupOfExcellence #CoEIndonesia2026 #KopiIndonesia #PetaniKopi #KopiSpesialti #MutuKopi #LelangKopiInternasional #KopiAceh #KopiJawaBarat #IndustriKopiIndonesia
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
PKM Unisba “Etnotherapeutik” Sabet Emas di PIMNAS ke-38 Tahun 2025

PKM Unisba “Etnotherapeutik” Sabet Emas di PIMNAS ke-38 Tahun 2025

admin@mediakampus admin@mediakampus Desember 2, 2025
Fakultas Dakwah Unisba Gandeng Baitul Mal Hadirkan Beasiswa Future Muslim Leaders Scholarship
Menjembatani Kampus dan Industri: Langkah Unisba Merancang Kurikulum Akuntansi di Era Digital
Prodi Manajemen Unisba Sukses Selenggarakan Student Creativity 2025
Kerjasama Fikom Unisba dan Diskominfo Kota Bandung Berdayakan KIM Kota Bandung
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar