DI ruang 407 Gedung LPPM Unisba lantai empat, suasana Kamis pagi itu (23/10) terasa berbeda. Para akademisi, praktisi industri, dan alumni berkumpul, bukan sekadar untuk berdiskusi, tapi untuk menyusun arah baru pendidikan akuntansi di tengah gelombang besar digitalisasi.
Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Penyusunan Kurikulum Program Studi yang Link and Match dengan Dunia Industri dan Perkembangan Teknologi Informasi” ini menjadi ruang pertemuan gagasan antara dunia akademik dan industri — dua kutub yang kini semakin tak terpisahkan.
FGD yang digelar Program Studi Sarjana dan Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Bandung (Unisba) itu dilakukan secara hybrid. Sebagian peserta hadir langsung di kampus, sebagian lagi mengikuti lewat Zoom Meeting, menjadikan forum ini contoh nyata dari bagaimana teknologi telah menjadi bagian dari sistem pendidikan.
Kurikulum yang Hidup dan Bergerak
“Mahasiswa kini tak hanya perlu paham teori, tapi juga siap menghadapi realitas industri yang berubah cepat,” ujar Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA., Kaprodi Magister Akuntansi Unisba, membuka pemaparan.
Didampingi Dr. Kania Nurcholisah, S.E., M.Si., Kaprodi Akuntansi Unisba, keduanya menegaskan bahwa kurikulum bukanlah dokumen statis, melainkan “organisme hidup” yang harus terus beradaptasi.
Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan sistem keuangan berbasis data kini menjadi lanskap baru dunia akuntansi — dan Unisba tidak ingin tertinggal.
Diskusi ini dihadiri berbagai tokoh penting dari sektor industri, asosiasi profesi, dan lembaga strategis: BPK, DJP, IAI Jawa Barat, Bank Syariah Indonesia (BSI), serta para alumni yang kini berkiprah di Deloitte, KPMG, hingga lembaga pemerintahan seperti BNPT RI.
Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi tak bisa berjalan sendiri. Kampus perlu belajar langsung dari dunia kerja — dunia yang kelak akan dimasuki oleh para mahasiswanya.
“Sinergi antara akademisi dan industri adalah kunci untuk melahirkan akuntan yang tak hanya kompeten secara teori, tapi juga siap bekerja dengan nilai dan integritas,” tutur Prof. Dr. Rozainun Haji Abdul Aziz, PMK, CA. (M), President ASEAN Accounting Education Workgroup, yang hadir sebagai narasumber utama.
Beliau menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum dengan standar pendidikan akuntansi ASEAN agar lulusan Indonesia mampu bersaing di tingkat regional.
Tak kalah menarik, para alumni muda Unisba juga turut berbagi cerita. Muhammad Raihan Nur, auditor di Deloitte, mengisahkan bagaimana pemahaman praktis tentang teknologi audit menjadi kebutuhan utama di lapangan. Sementara Dewi Intan dari Bank Syariah Indonesia Tbk menekankan pentingnya soft skill dan literasi digital bagi akuntan muda.
“Saat bekerja, kita tak hanya bicara angka. Kita bicara data, sistem, dan tanggung jawab publik,” ujarnya.
Selain dua narasumber utama, forum ini juga menghadirkan sederet pakar profesional seperti Dr. Hery Subowo, Staf Ahli BPK Bidang Manajemen Risiko; Kurniawan Nizar, Kepala Kanwil DJP Jawa Barat I; dan Tedy, Ketua Korda IAPI Jawa Barat.
Diskusi berlangsung dinamis — bukan sekadar seremonial, melainkan arena bertukar pengalaman nyata dari ruang rapat, pasar keuangan, dan ruang kelas.
Misi Lebih Besar dari Sekadar Kurikulum
FGD ini menjadi bagian dari komitmen FEB Unisba untuk terus memperkuat visi keilmuan yang berakar pada nilai Islam namun berpandangan global.
Melalui kegiatan seperti ini, Unisba berupaya memastikan agar kurikulum yang disusun tidak hanya relevan dengan zaman, tetapi juga mencerminkan semangat rahmatan lil ‘alamin — pendidikan yang memberdayakan dan membawa manfaat luas.
Bagi Unisba, menyusun kurikulum bukan hanya soal memenuhi standar akademik. Ini adalah proses membangun jembatan — antara teori dan praktik, antara ruang kuliah dan dunia kerja, antara nilai-nilai keilmuan dan kebutuhan industri. Dan dari ruang diskusi di lantai empat itu, jembatan masa depan akuntansi Unisba sedang dibangun. Perlahan, tapi pasti.(askur/png)

