Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Tiga Kisah Inspiratif di Balik Wisudawan Berprestasi Unisba 2026
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Feature

Tiga Kisah Inspiratif di Balik Wisudawan Berprestasi Unisba 2026

admin@mediakampus
Last updated: Agustus 23, 2026 9:47 am
admin@mediakampus Published Agustus 23, 2026
Share
Tiga Kisah Inspiratif di Balik Wisudawan Berprestasi Unisba 2026
Meisya Febriana meraih Yudisium Pujian dengan IPK tertinggi di Unisba dengan IPK 3,98. Sementara itu, Muhammad Farhan Faiz Mubarok menjadi wisudawan tercepat setelah menyelesaikan studi dalam 3 tahun, 4 bulan, 21 hari. Adapun Najwa Zahra Tunnisa tercatat sebagai wisudawan termuda pada usia 20 tahun 10 bulan 21 hari.(foto: komhumas unisba)
Meisya Febriana meraih Yudisium Pujian dengan IPK tertinggi di Unisba dengan IPK 3,98. Sementara itu, Muhammad Farhan Faiz Mubarok menjadi wisudawan tercepat setelah menyelesaikan studi dalam 3 tahun, 4 bulan, 21 hari. Adapun Najwa Zahra Tunnisa tercatat sebagai wisudawan termuda pada usia 20 tahun 10 bulan 21 hari.(foto: komhumas unisba)
SHARE

WISUDA Universitas Islam Bandung (Unisba) yang berlangsung pada Sabtu–Minggu (21–22/8/2026) menjadi momen membahagiakan bagi para lulusan. Namun, di balik prosesi wisuda tersebut, tersimpan cerita perjuangan yang berbeda dari setiap mahasiswa.

Contents
Meisya Febriana, Raih IPK 3,98 Tanpa Mengejar Predikat TertinggiFarhan Faiz Mubarok, Menjadi Wisudawan Tercepat karena Mengatur StrategiNajwa Zahra Tunnisa, Wisudawan Termuda di Usia 20 TahunTiga Prestasi, Tiga Jalan Perjuangan

Tiga lulusan Unisba menjadi sorotan karena berhasil mencatatkan prestasi unik selama menjalani pendidikan. Meisya Febriana meraih Yudisium Pujian sekaligus menjadi lulusan dengan IPK tertinggi di Unisba, yakni 3,98. Muhammad Farhan Faiz Mubarok tercatat sebagai wisudawan tercepat setelah menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun, 4 bulan, 21 hari. Sementara Najwa Zahra Tunnisa menjadi wisudawan termuda pada usia 20 tahun 10 bulan 21 hari.

Menariknya, ketiga prestasi tersebut tidak pernah secara khusus mereka jadikan target sejak awal kuliah. Ketiganya justru mencapai hasil tersebut melalui proses yang dijalani dengan konsisten sesuai dengan perjalanan masing-masing.

Meisya Febriana, Raih IPK 3,98 Tanpa Mengejar Predikat Tertinggi

Meisya Febriana menjadi contoh bahwa pencapaian akademik dapat lahir dari konsistensi tanpa harus terobsesi menjadi yang terbaik.

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba itu berhasil meraih Yudisium Pujian dengan IPK 3,98, sekaligus mencatatkan diri sebagai lulusan dengan IPK tertinggi di Unisba. Ia menyelesaikan studi selama tiga tahun enam bulan dan dinyatakan lulus pada 31 Maret 2026.

Perempuan kelahiran Bandung, 7 Februari 2004, tersebut mengaku tidak pernah menargetkan diri untuk mendapatkan nilai akademik tertinggi. Karena itu, ia merasa terkejut ketika mengetahui dirinya berhasil meraih pencapaian tersebut.

“Sebetulnya saat tahu ternyata dapat IPK tertinggi, pertama-tama merasa kaget dan sekaligus merasa bangga juga sama diri sendiri,” ujar Meisya.

Sejak awal perkuliahan, Meisya memilih fokus pada pembelajaran dan berusaha menuntaskan setiap kewajiban akademik dengan sebaik mungkin.

“Saya tipe yang belajar dulu aja, ngelakuin dulu aja. Enggak harus banget jadi yang tertinggi,” katanya.

Selain aktif mengikuti perkuliahan, Meisya juga terlibat dalam sejumlah kegiatan akademik. Ia pernah bergabung dalam penelitian bersama beberapa dosen Fikom Unisba. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan proses diskusi dan kerja tim dalam penelitian sekaligus membantunya memahami materi kuliah yang berkaitan dengan riset.

Di luar kampus, Meisya juga memiliki aktivitas kewirausahaan. Sejak November 2023, ia menjalankan usaha kecil bernama Mianis yang memproduksi homemade chocolate.

Usaha tersebut bermula dari kegemarannya memasak serta kebiasaan membawa bekal buatan sendiri ke kampus. Setelah mendapatkan respons positif dari teman-temannya, Meisya kemudian mengembangkan makanan tersebut menjadi produk yang dijual.

Ia juga pernah menjalani magang di DPRD Jawa Barat pada divisi Hubungan Masyarakat, Protokoler & Publikasi. Pengalaman tersebut kemudian menumbuhkan ketertarikannya pada bidang graphic design. Kemampuan itu terus dikembangkan melalui berbagai karya visual, termasuk untuk mendukung kegiatan bisnisnya.

Prestasi Meisya tidak hanya berupa IPK. Ia meraih The University Best Presenter and Best Article – SPeSIA Unisba 2026 serta Juara 2 Poster Design Competition dalam Parade Riset Komunikasi Unisba.

Ia juga menjadi Research Contributor dalam artikel jurnal “Konstruksi Nasionalisme Generasi Z di Era Media Digital dalam Membangun Ketahanan Informasional” yang diterbitkan dalam Jurnal Riset Manajemen Komunikasi pada 2024.

Bagi Meisya, mendapatkan hasil akademik yang baik tidak harus ditempuh dengan metode belajar yang rumit. Menurutnya, hal paling penting adalah hadir dan benar-benar mengikuti proses pembelajaran di kelas.

“Hadir di kelas. Tidak hanya hadir saja, tapi hadir dan betul-betul duduk untuk mencari ilmu dari pembelajaran-pembelajaran di kelas,” katanya.

Farhan Faiz Mubarok, Menjadi Wisudawan Tercepat karena Mengatur Strategi

Berbeda dengan Meisya, Muhammad Farhan Faiz Mubarok mencatat prestasi melalui kecepatan menyelesaikan pendidikan.

Lulusan Fikom Unisba itu berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu 3 tahun, 4 bulan, 21 hari dan tercatat sebagai Wisudawan Tercepat Unisba.

Farhan dinyatakan lulus pada 22 Januari 2026 dengan IPK 3,91 dan predikat Pujian. Pemuda kelahiran Sukabumi, 1 Desember 2004, yang kini berdomisili di Majalaya, Kabupaten Bandung, tersebut menegaskan bahwa menjadi wisudawan tercepat bukanlah target yang ia tetapkan sejak awal.

Keputusan menyelesaikan kuliah lebih cepat berawal dari pertimbangan praktis. Farhan ingin mengurangi biaya UKT dengan memperpendek masa studinya. Ia kemudian mengatur pengerjaan skripsi agar dapat diselesaikan sekitar enam bulan.

“Sebenarnya dari awal saya tidak menargetkan untuk menjadi wisudawan tercepat. Namun, karena ingin memangkas biaya UKT juga, akhirnya saya mengatur agar proses skripsi bisa dipercepat menjadi sekitar enam bulan,” ungkapnya.

Dalam skripsinya, Farhan membahas strategi komunikasi interpersonal tour guide dalam meningkatkan kepuasan wisatawan. Penelitian tersebut dimulai melalui Seminar Proposal pada November dan dilanjutkan hingga sidang skripsi pada Januari.

Meski menyelesaikan pendidikan dalam waktu relatif singkat, Farhan tetap aktif dalam berbagai kegiatan. Ia menjadi Asisten Laboratorium Radio Fikom Unisba, pengisi siaran radio, serta MC dalam berbagai kegiatan seminar kampus.

Pengalaman jurnalistik juga diperolehnya ketika menjalani magang sebagai reporter di Radio Elshinta 89,3 FM Bandung selama dua bulan pada September–Oktober 2024.

Dari sisi akademik, Farhan bersama timnya, Bobis dan Firgifa, meraih penghargaan Best Research Award dalam Parade Riset Fikom Unisba 2025.

Ia juga mengikuti seluruh rangkaian Pendidikan Agama Islam (PAI) 1–7 serta Pesantren di Unisba. Menurut Farhan, kegiatan tersebut memberikan bekal spiritual dan nilai-nilai keislaman yang mendukung perjalanan pendidikannya.

Dalam menyelesaikan studi, Farhan mendapat dukungan dari keluarga, teman-teman, serta dosen pembimbing Dr. Oji Kurniadi, Drs., M.Si.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Farhan ingin terlebih dahulu memasuki dunia kerja untuk memperluas pengalaman sekaligus membangun portofolio. Setelah memiliki pengalaman yang cukup, ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

“Semoga pencapaian ini bisa memberikan motivasi dan inspirasi bagi adik-adik tingkat di Unisba agar bisa menjalani kuliah dengan baik dan lulus tepat waktu,” tutup Farhan.

Najwa Zahra Tunnisa, Wisudawan Termuda di Usia 20 Tahun

Kisah berbeda datang dari Najwa Zahra Tunnisa. Lulusan Fakultas Kedokteran Unisba tersebut berhasil menjadi wisudawan termuda setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran pada usia 20 tahun 10 bulan 21 hari.

Najwa yang berasal dari Bekasi memang telah menjalani pendidikan formal lebih cepat dibandingkan sebagian besar teman seusianya. Ia bahkan sudah masuk sekolah dasar ketika berusia lima tahun.

Menurut Najwa, hal tersebut bukan karena mengikuti program akselerasi. Sejak awal, ia memang menjalani pendidikan pada usia yang lebih muda.

“Awalnya orang tua bilang coba saja ikut dulu. Kalau tidak naik kelas juga tidak apa-apa. Tapi ternyata naik-naik, bisa lanjut,” cerita Najwa.

Perjalanan pendidikan tersebut terus berlanjut hingga perguruan tinggi. Najwa diterima di Fakultas Kedokteran Unisba pada usia 17 tahun dan menjadi bagian dari angkatan 2022.

Walaupun usianya satu hingga dua tahun lebih muda dibandingkan sebagian teman seangkatannya, Najwa mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam beradaptasi.

“Enggak terlalu gimana-gimana, karena jaraknya juga enggak terlalu jauh sama teman-teman yang lain. Beda satu atau dua tahun, jadi masih bisa mengikuti,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Najwa harus menjalani aktivitas perkuliahan yang cukup padat. Namun, ia tetap aktif mengikuti pesantren, bela negara, serta organisasi mahasiswa.

Najwa bergabung dengan BEM Fakultas Kedokteran sebagai anggota Departemen JAMTIBI (Jami’yyatul Mutt’alimi Thibbil Islam).

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah kebersamaan dengan teman-teman selama menjalani pendidikan kedokteran. Beban perkuliahan yang cukup berat membuat mereka terbiasa belajar bersama dan saling membantu, terutama ketika menghadapi ujian.

“FK sendiri kan sangat berat. Jadi kami suka belajar bareng-bareng. Pas tiap ujian kita belajar bareng, sharing semua bareng-bareng,” tuturnya.

Najwa juga merasakan perubahan sistem pembelajaran dari daring menuju tatap muka. Ketika pertama kali kuliah, sebagian besar kegiatan akademik masih dilakukan secara online. Ia baru merasakan perkuliahan tatap muka secara lebih penuh pada semester tiga.

Cita-cita menjadi dokter telah dimiliki Najwa sejak kecil. Setelah belum berhasil mendapatkan perguruan tinggi negeri yang menjadi pilihannya, ia mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi swasta di Bandung hingga akhirnya diterima di Unisba.

Setelah menyelesaikan Sarjana Kedokteran, perjalanan Najwa masih berlanjut. Ia harus menjalani tahap profesi atau koas sebelum dapat resmi menjadi dokter.

Untuk pilihan spesialisasi, Najwa belum menentukan bidang yang akan dipilih karena ingin memperoleh lebih banyak pengalaman selama menjalani koas. Namun, ia mulai memiliki ketertarikan pada bidang Manajemen Rumah Sakit dan berencana mempertimbangkan pendidikan S2 di bidang tersebut.

“Untuk spesialis belum tahu, tapi ada niatan ngambil S2 Manajemen Rumah Sakit,” ujarnya.

Seperti Meisya dan Farhan, Najwa juga tidak pernah menargetkan diri menjadi wisudawan termuda. Ia hanya menjalani pendidikan tahap demi tahap hingga akhirnya mencapai pencapaian tersebut.

“Yakin saja untuk terus berusaha. Pasti tiap usaha juga enggak akan mengkhianati hasil kita. Jadi terus saja berjuang,” pesannya.

Tiga Prestasi, Tiga Jalan Perjuangan

Kisah Meisya, Farhan, dan Najwa memperlihatkan bahwa setiap pencapaian memiliki jalan yang berbeda.

Meisya Febriana meraih IPK tertinggi melalui konsistensi dalam menjalani proses pembelajaran. Muhammad Farhan Faiz Mubarok menjadi wisudawan tercepat karena mampu mengatur waktu dan strategi penyelesaian studi. Sementara Najwa Zahra Tunnisa menjalani pendidikan sejak usia lebih muda hingga akhirnya menjadi wisudawan termuda Unisba.

Ketiganya membuktikan bahwa prestasi tidak selalu harus diawali dengan target menjadi yang terbaik, tercepat, ataupun termuda. Fokus pada proses, menyelesaikan tanggung jawab, memanfaatkan kesempatan, dan terus berusaha dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang bahkan sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Pada akhirnya, wisuda bukan hanya tentang toga, gelar, dan seremoni kelulusan. Di balik setiap pencapaian terdapat cerita tentang kerja keras, ketekunan, dukungan keluarga, serta perjalanan panjang yang membuat setiap lulusan memiliki kisahnya sendiri.(askur/nmn)***

TAGGED:#WisudaUnisba #WisudawanBerprestasi #Unisba #UniversitasIslamBandung #MahasiswaBerprestasi #WisudawanTercepat #WisudawanTermuda #InspirasiMahasiswa #PrestasiMahasiswa #KisahInspiratif
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
Perkuat Spiritualitas Ramadan, Unisba Selenggarakan Tasmī’ Al-Qur’an bagi Mahasiswa

Perkuat Spiritualitas Ramadan, Unisba Selenggarakan Tasmī’ Al-Qur’an bagi Mahasiswa

admin@mediakampus admin@mediakampus Februari 24, 2026
Universitas Islam Bandung Kukuhkan Lebih dari 1.200 Lulusan pada Wisuda Gelombang I 2025/2026
PKM Unisba di Desa Cinunuk: Optimalisasi Biopori dan Penerangan Jalan Tenaga Surya
Pojok Statistik Unisba Tingkatkan Literasi Data lewat Kuliah Statistik Nasional Bahas Strategi Klasifikasi Machine Learning
Tanya Kuliah Komunikasi Strata Sarjana Fikom Universitas Islam Bandung
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar