MEDIA-KAMPUS.COM — Konferensi internasional bidang kedokteran dan kesehatan yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menjadi ruang pertemuan peneliti lintas negara untuk memperluas pertukaran ilmu dan membahas masa depan kesehatan berkelanjutan. Melalui Bandung International Conference on Medical and Health Sciences (BICMHS) 2026, FK Unisba juga mendorong pengembangan riset yang memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan sekaligus manfaatnya bagi masyarakat.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-22 FK Unisba tersebut berlangsung di Oakwood Hotel Merdeka Bandung, Sabtu (3/10/2026). Tahun ini, BICMHS mengusung tema “Academic Synergy for Sustainable Health: Bridging Social Impact, Environmental Awareness, and Scientific Progress”.
Tema tersebut menempatkan sinergi akademik, kepedulian lingkungan, dampak sosial, dan perkembangan sains sebagai bagian dari pembahasan kesehatan berkelanjutan.
Dekan FK Unisba, Dr. Santun Bhekti Rahumah, dr., M.Kes., M.M., menyampaikan bahwa tantangan kesehatan di tengah perubahan global membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar pengembangan kemampuan klinis. Kemajuan ilmu pengetahuan perlu dihubungkan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
“Keberlanjutan kesehatan hanya dapat dicapai ketika akademisi, sistem pelayanan kesehatan, dan masyarakat bersinergi untuk membangun masa depan yang lebih sehat dan tangguh,” ujar Santun.
BICMHS 2026 menghadirkan lima pembicara dengan latar belakang institusi yang beragam. Mereka adalah Assoc. Prof. Dr. Julie Saunders dari University of Western Australia, Australia; Assoc. Prof. Dr. Lelly Yuniarti, S.Si., M.Kes. dari FK Unisba; Ms. Emelyn A. Singson, RPh dari Goldenstate University, Filipina; Prof. Dr. Roy Rillera Marzo dari Curtin University Malaysia; serta drg. Citra, MARS yang mewakili RS Welas Asih, Jawa Barat.
Keterlibatan para pembicara tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperoleh perspektif berbeda dalam pengembangan ilmu kedokteran dan kesehatan.
Santun mengajak peneliti, pemakalah, dan peserta menggunakan konferensi ini untuk menyampaikan hasil penelitian, mendiskusikan temuan, memperluas jaringan akademik, serta menjajaki kemungkinan kerja sama lintas negara.
“Semoga konferensi ini menjadi ruang pertukaran yang melahirkan gagasan kreatif dan kerja sama strategis untuk memajukan kesehatan berkelanjutan,” katanya.
Diikuti Sekitar 140 Peserta
Ketua Pelaksana BICMHS 2026, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., mengungkapkan bahwa konferensi tahun ini diikuti sekitar 140 peserta. Sebanyak 120 orang di antaranya merupakan presenter yang memaparkan hasil penelitian, dengan sekitar 50 presenter berasal dari luar Indonesia.
Peserta internasional tersebut berasal dari Filipina, China, Thailand, dan Malaysia.
Menurut Titik, keterlibatan akademisi dari berbagai negara memperluas jejaring BICMHS sekaligus membuka ruang bagi penguatan kolaborasi penelitian dan pertukaran pengetahuan.
“Alhamdulillah, dari tahun ke tahun partisipasinya semakin meningkat. Kegiatan tahunan ini juga semakin mendapat perhatian dan dukungan, baik dari pimpinan maupun Unisba yang terus mendorong kolaborasi,” ungkapnya.
Peningkatan partisipasi tersebut menjadi bagian dari perkembangan konferensi yang diselenggarakan secara berkala oleh FK Unisba. Dukungan institusi juga berperan dalam membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas.
Penelitian yang dipresentasikan dalam BICMHS 2026 mencakup bidang klinis maupun nonklinis. Sejumlah kajian membahas penyakit, ilmu kedokteran dasar, kesehatan masyarakat, dan berbagai persoalan kesehatan yang berkembang di tengah masyarakat.
Titik Respati menyoroti perhatian para peneliti terhadap dampak yang dapat dihasilkan dari penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Khususnya di lingkungan FK Unisba, hasil kegiatan akademik mulai diarahkan agar memiliki manfaat yang lebih nyata di luar lingkungan perguruan tinggi.
“Kalau saya lihat, para presenter sekarang sudah lebih berpikir terhadap dampak. Terutama dari internal Fakultas Kedokteran, mereka sudah berupaya agar penelitian maupun pengabdian yang dilakukan dan dilaporkan di sini merupakan sesuatu yang berdampak,” katanya.
Beragam topik dipresentasikan dalam konferensi ini, mulai dari kesehatan industri dan masyarakat, sistem kesehatan, bioetika dan humaniora, ilmu biomedis, pengobatan herbal, penyakit infeksi, pendidikan kedokteran, teknologi medis, kesehatan spiritual dan Islam, kesehatan kerja, farmakologi dan farmasi, hingga kedokteran olahraga, toksikologi, dan teratogenisitas.
Cakupan tersebut memperlihatkan luasnya ruang kajian dalam ilmu kesehatan. Pertemuan berbagai disiplin juga membuka peluang untuk membahas persoalan kesehatan dari sudut pandang yang berbeda, baik melalui pengembangan ilmu maupun penerapannya dalam kehidupan masyarakat.
Unisba Perkuat Sinergi Akademik
Mewakili Rektor Unisba, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sumber Daya Umum dan Keuangan (PSDUK) Unisba, Dr. Helmi Aziz, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa BICMHS menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi akademik dalam pengembangan ilmu kedokteran dan kesehatan.
Menurut Helmi, konferensi internasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyampaikan hasil penelitian sekaligus mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif dari berbagai kalangan akademisi.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian dan berbagi temuan ilmiah, tetapi juga untuk bertukar perspektif, mengeksplorasi gagasan baru, memperkuat jejaring akademik, serta membangun kolaborasi dalam menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan ilmu kedokteran dan kesehatan perlu disertai kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, kolaborasi yang terbentuk melalui BICMHS diharapkan dapat berlanjut menjadi kerja sama yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas kesehatan.
BICMHS 2026 juga memperoleh akreditasi 2 Satuan Kredit Profesi (SKP) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Melalui konferensi ini, FK Unisba memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan jejaring akademik internasional dalam rangkaian Milad ke-22. Penguatan kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung perkembangan penelitian kesehatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta mendorong pendekatan kesehatan berkelanjutan.(askur/nmn)***


