Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Bos Baru Kita Adalah Algoritma: Siapa Menjaga Etika dan Kemanusiaan di Era AI?
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Bos Baru Kita Adalah Algoritma: Siapa Menjaga Etika dan Kemanusiaan di Era AI?

admin@mediakampus
Last updated: Maret 18, 2026 10:51 am
admin@mediakampus Published Maret 18, 2026
Share
Lukman Priyandono (mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda)
SHARE

Oleh: Lukman Priyandono*

Contents
PR Besar Pengelola SDM IndonesiaPada Akhirnya

PERNAH bayangkan suatu pagi kamu masuk kantor, lalu menerima notifikasi di ponsel. “Selamat, kinerjamu meningkat 12 persen berdasarkan algoritma. Insentif telah ditransfer.” Tidak ada atasan yang menepuk pundak. Tidak ada diskusi hangat. Yang ada hanya layar dan deretan angka penentu nasib. Kedengarannya fiksi ilmiah? Faktanya, ini sudah terjadi di banyak perusahaan global. Dari rekrutmen hingga promosi jabatan, keputusan tentang karier seseorang kini semakin ditentukan oleh AI. Bekerja pun terasa seperti beribadah kepada mesin, bukan kepada Allah SWT.

AI memang menggoda manajemen. Ia bekerja 24 jam tanpa perlu ngopi atau makan siang. Ia tak pernah minta lembur dan bisa memproses ribuan data dalam hitungan detik. Bagi pemilik modal, ini surga efisiensi. Tapi dalam Islam, efisiensi tanpa keadilan adalah kezaliman. Bagi pekerja biasa, di mana letak kemanusiaan kita? Karyawan dipecat berdasarkan rekomendasi algoritma bukan isapan jempol. Performa mereka “dinyatakan kurang” oleh sistem, tanpa diberi kesempatan menjelaskan konteks. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia berhak mendapat perlakuan adil karena keadilan adalah fondasi syariah. Padahal produktivitas bisa turun karena masalah keluarga atau tim sedang krisis. Mesin tak pernah tanya kabar. Ia hanya membaca data mentah, lupa bahwa manusia punya hati yang butuh kehangatan.

Ironisnya, selama ini kita mengadu ke bagian personalia. Tapi ketika mereka sibuk mengadopsi teknologi, siapa yang membela kita? Fungsi kepegawaian masih berkutat pada urusan administratif: ngurus kontrak, hitung gaji, jadi polisi absensi. Padahal dalam Islam, memimpin berarti melayani. Ketika teknologi mengambil alih, bagian personalia kehilangan relevansi. Mereka sibuk mengoperasikan software, lupa bahwa di balik data ada manusia. Di era mesin mulai jadi bos, kebutuhan akan pembela justru besar. Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Dave Ulrich mengingatkan bahwa pengelola SDM harus jadi champion pembela karyawan dan mitra strategis. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep “khalifah” yang menjaga keseimbangan dan keadilan. Peran pertama: pembela karyawan. Ketika algoritma merekrut, menilai, atau memecat, tim kepegawaian harus hadir memastikan keadilan. Yang lemah jangan tertindas angka buta. Konteks personal harus diperhitungkan. Allah SWT memerintahkan kita berlaku adil karena adil lebih dekat kepada takwa. Peran kedua: agen perubahan. Transformasi digital bukan sekadar beli software tapi perubahan budaya. Bagian personalia harus memastikan saat perusahaan mengejar efisiensi, tak ada karyawan tertinggal. Dalam syariah, perubahan harus membawa maslahat bagi semua.

PR Besar Pengelola SDM Indonesia

Di Indonesia, tantangan ini makin nyata. Banyak perusahaan adopsi teknologi tapi dampak sosialnya diabaikan. Bagian kepegawaian masih jadi tukang administrasi. Kesejahteraan psikologis karyawan jarang prioritas. Padahal dalam Islam, menjaga jiwa (hifdz al-nafs) adalah tujuan utama syariah.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, pastikan penggunaan AI etis dan transparan sesuai syariah. Jangan biarkan mesin mengambil keputusan tanpa pengawasan manusia. Karyawan berhak tahu data yang dikumpulkan dan bagaimana digunakan. Kedua, bangun budaya kerja berpusat pada manusia. Efisiensi penting, tapi jangan sampai kantor kehilangan kehangatan. Beri ruang obrolan ringan, apresiasi langsung, rasa aman berbicara. Islam mengajarkan bahwa amanah kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ketiga, jadikan manajemen SDM arsitek pengalaman kerja Islami, bukan sekadar pengelola tenaga kerja. Teknologi bisa bantu pekerjaan lebih cepat, tapi hanya sentuhan manusiawi yang membuat karyawan betah. Rasulullah teladan dalam memperlakukan bawahan dengan kasih.

Pada Akhirnya

Kita tak bisa menghentikan mesin. AI akan terus masuk ke ruang kerja. Tapi soal perlakuan adil, keputusan bijaksana, dan penghormatan pada manusia—itu bukan urusan mesin. Itu amanah yang harus dijaga. Di garda terdepan, bagian personalia harus memilih: jadi operator teknologi, atau perisai penjaga kemanusiaan sesuai nilai Islam. Karena sehebat algoritma, ia tak bisa menggantikan ketulusan pemimpin yang bertanya, “Kamu kenapa? Ada yang bisa dibantu?” Rasulullah pun selalu memulai hari dengan menanyakan keadaan sahabatnya. Di kantor masa depan, pertanyaan itu akan menentukan apakah kita masih bekerja sebagai manusia bermartabat, atau sekadar roda mesin raksasa yang melupakan bahwa setiap diri akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amanahnya.***

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda.

TAGGED:#AmanahKemanusiaan #AlgoritmaDanManusia #EtikaAI #HumanCenteredWorkplace #KeadilanDalamKerja #SDMIslami #TransformasiDigital #AIUntukKemanusiaan #KepemimpinanBerkeadilan #DuniaKerjaMasaDepan
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
Unisba Gelar PKM Berdampak di Sukaluyu, Lansia Dapat Edukasi Penyakit dan Swamedikasi Aman

Unisba Gelar PKM Berdampak di Sukaluyu, Lansia Dapat Edukasi Penyakit dan Swamedikasi Aman

admin@mediakampus admin@mediakampus Februari 3, 2026
Dosen FH Unisba Sabet Penghargaan Outstanding Paper 2025 dari Emerald Literati Awards
Kolaborasi Orang Tua dalam Menjamin Santri Tetap Sehat di Pesantren
Special Screening Apresiasi Film Jawa Barat 2023 di Bandung Creative Hub
Lewat Inovasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi, Unisba Dukung Pemprov Jabar Wujudkan Zero Waste
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar