Oleh: Lukman Priyandono*
PERNAH bayangkan suatu pagi kamu masuk kantor, lalu menerima notifikasi di ponsel. “Selamat, kinerjamu meningkat 12 persen berdasarkan algoritma. Insentif telah ditransfer.” Tidak ada atasan yang menepuk pundak. Tidak ada diskusi hangat. Yang ada hanya layar dan deretan angka penentu nasib. Kedengarannya fiksi ilmiah? Faktanya, ini sudah terjadi di banyak perusahaan global. Dari rekrutmen hingga promosi jabatan, keputusan tentang karier seseorang kini semakin ditentukan oleh AI. Bekerja pun terasa seperti beribadah kepada mesin, bukan kepada Allah SWT.
AI memang menggoda manajemen. Ia bekerja 24 jam tanpa perlu ngopi atau makan siang. Ia tak pernah minta lembur dan bisa memproses ribuan data dalam hitungan detik. Bagi pemilik modal, ini surga efisiensi. Tapi dalam Islam, efisiensi tanpa keadilan adalah kezaliman. Bagi pekerja biasa, di mana letak kemanusiaan kita? Karyawan dipecat berdasarkan rekomendasi algoritma bukan isapan jempol. Performa mereka “dinyatakan kurang” oleh sistem, tanpa diberi kesempatan menjelaskan konteks. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia berhak mendapat perlakuan adil karena keadilan adalah fondasi syariah. Padahal produktivitas bisa turun karena masalah keluarga atau tim sedang krisis. Mesin tak pernah tanya kabar. Ia hanya membaca data mentah, lupa bahwa manusia punya hati yang butuh kehangatan.
Ironisnya, selama ini kita mengadu ke bagian personalia. Tapi ketika mereka sibuk mengadopsi teknologi, siapa yang membela kita? Fungsi kepegawaian masih berkutat pada urusan administratif: ngurus kontrak, hitung gaji, jadi polisi absensi. Padahal dalam Islam, memimpin berarti melayani. Ketika teknologi mengambil alih, bagian personalia kehilangan relevansi. Mereka sibuk mengoperasikan software, lupa bahwa di balik data ada manusia. Di era mesin mulai jadi bos, kebutuhan akan pembela justru besar. Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Dave Ulrich mengingatkan bahwa pengelola SDM harus jadi champion pembela karyawan dan mitra strategis. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep “khalifah” yang menjaga keseimbangan dan keadilan. Peran pertama: pembela karyawan. Ketika algoritma merekrut, menilai, atau memecat, tim kepegawaian harus hadir memastikan keadilan. Yang lemah jangan tertindas angka buta. Konteks personal harus diperhitungkan. Allah SWT memerintahkan kita berlaku adil karena adil lebih dekat kepada takwa. Peran kedua: agen perubahan. Transformasi digital bukan sekadar beli software tapi perubahan budaya. Bagian personalia harus memastikan saat perusahaan mengejar efisiensi, tak ada karyawan tertinggal. Dalam syariah, perubahan harus membawa maslahat bagi semua.
PR Besar Pengelola SDM Indonesia
Di Indonesia, tantangan ini makin nyata. Banyak perusahaan adopsi teknologi tapi dampak sosialnya diabaikan. Bagian kepegawaian masih jadi tukang administrasi. Kesejahteraan psikologis karyawan jarang prioritas. Padahal dalam Islam, menjaga jiwa (hifdz al-nafs) adalah tujuan utama syariah.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, pastikan penggunaan AI etis dan transparan sesuai syariah. Jangan biarkan mesin mengambil keputusan tanpa pengawasan manusia. Karyawan berhak tahu data yang dikumpulkan dan bagaimana digunakan. Kedua, bangun budaya kerja berpusat pada manusia. Efisiensi penting, tapi jangan sampai kantor kehilangan kehangatan. Beri ruang obrolan ringan, apresiasi langsung, rasa aman berbicara. Islam mengajarkan bahwa amanah kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ketiga, jadikan manajemen SDM arsitek pengalaman kerja Islami, bukan sekadar pengelola tenaga kerja. Teknologi bisa bantu pekerjaan lebih cepat, tapi hanya sentuhan manusiawi yang membuat karyawan betah. Rasulullah teladan dalam memperlakukan bawahan dengan kasih.
Pada Akhirnya
Kita tak bisa menghentikan mesin. AI akan terus masuk ke ruang kerja. Tapi soal perlakuan adil, keputusan bijaksana, dan penghormatan pada manusia—itu bukan urusan mesin. Itu amanah yang harus dijaga. Di garda terdepan, bagian personalia harus memilih: jadi operator teknologi, atau perisai penjaga kemanusiaan sesuai nilai Islam. Karena sehebat algoritma, ia tak bisa menggantikan ketulusan pemimpin yang bertanya, “Kamu kenapa? Ada yang bisa dibantu?” Rasulullah pun selalu memulai hari dengan menanyakan keadaan sahabatnya. Di kantor masa depan, pertanyaan itu akan menentukan apakah kita masih bekerja sebagai manusia bermartabat, atau sekadar roda mesin raksasa yang melupakan bahwa setiap diri akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amanahnya.***
*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda.


