PAGI itu, suasana Kampung Adat Kuta terasa berbeda. Warga berkumpul di balai pertemuan, sebagian membawa buku catatan, sebagian lagi dengan wajah penuh antusias. Mereka tidak sedang mengikuti acara adat, melainkan belajar bersama tim dari Universitas Islam Bandung (Unisba) tentang bagaimana mengelola air bersih dan bersiap menghadapi bahaya kebakaran.
Kampung yang dikenal dengan kearifan lokalnya ini menjadi tuan rumah Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digagas Unisba dan didukung pendanaan dari Ditjen Dikti Ristek. Tema yang diangkat sederhana tapi sangat dekat dengan kehidupan warga: “Pemberdayaan Tata Kelola Air Bersih dan Antisipasi Kebakaran.”
Selama tiga hari, sejak 16 hingga 18 September 2025, kegiatan berjalan penuh dinamika. Pada hari pertama, warga diajak berdiskusi tentang kemampuan mereka untuk berkontribusi dalam pengelolaan air. Forum bertajuk Ability & Willingness to Pay itu seolah membuka kesadaran bersama: menjaga air bersih tidak hanya tugas segelintir orang, tapi tanggung jawab seluruh komunitas.
Hari kedua, suasana makin hidup. Lewat Workshop Community-Based Water Governance, warga belajar merancang aturan main dalam mengelola air. Dari penyusunan SOP distribusi hingga pembentukan Kelompok Pengelola Air Bersih (KPA), semuanya dilakukan bersama. “Kami jadi merasa punya andil, bukan hanya menunggu bantuan,” ujar salah satu warga yang ikut aktif memberi masukan.
Puncak kegiatan terjadi di hari ketiga. Balai pertemuan berubah menjadi arena simulasi. Warga berlatih menggunakan APAR, mencoba mengoperasikan hidran komunitas, hingga menyusun tim Relawan Siaga Api. Tawa dan semangat terdengar ketika para ibu rumah tangga mencoba menyemprotkan air, sementara para pemuda sigap mempelajari teknik dasar pemadaman api.
Ketua tim PKM, Dr. Ivan Chofyan, menuturkan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan upaya membangun kemandirian. “Air bersih adalah sumber kehidupan. Kebakaran adalah ancaman yang bisa datang tiba-tiba. Dengan adanya kelompok pengelola dan relawan siaga, kami berharap warga Kampung Kuta bisa lebih tangguh dan siap,” katanya.
Dukungan juga datang dari tokoh adat Sanmarno, Kepala Desa Karangpaningal Ngudiarto, hingga Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis. Mereka menilai, selain manfaat praktis, kegiatan ini tetap selaras dengan semangat menjaga tradisi. “Kami ingin maju tanpa melupakan budaya leluhur,” ucap Sanmarno.
Kini, Kampung Adat Kuta tidak hanya dikenal sebagai penjaga kearifan lokal, tetapi juga sebagai contoh komunitas adat yang mampu beradaptasi dengan tantangan zaman. Warganya belajar, bahwa menjaga warisan tidak hanya soal ritual dan adat, tetapi juga bagaimana melindungi sumber daya alam dan keselamatan bersama.(ask/png)

