RABU pagi yang cerah di Kota Bandung, suasana él Hotel tampak berbeda. Lobi hotel dipenuhi deretan peserta dengan name tag tergantung di leher, beberapa di antaranya berbincang dalam bahasa asing, sementara yang lain sibuk membuka laptop atau mengecek agenda di ponsel. Hari itu, 10 September 2025, Universitas Islam Bandung (Unisba) kembali menorehkan catatan penting: menggelar The 8th Bandung Annual International Conference (BAIC 2025).
Namun, BAIC bukan sekadar konferensi biasa. Ia adalah pertemuan gagasan, tempat para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai belahan dunia saling bertukar pikiran. Tahun ini, konferensi yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-67 Unisba mengusung tema yang begitu relevan: “Halal Ecosystem and Sustainability.”
Di tengah riuh tamu yang memenuhi ballroom, Prof. Dr. Atih Rohaeti Dariah, Wakil Rektor II Unisba, berdiri dengan penuh keyakinan di podium. Suaranya mantap, mengalun memenuhi ruangan.
“Ekosistem halal bukan sekadar soal standar agama,” ucapnya. “Ia adalah kerangka yang menuntun pada transparansi, keadilan, dan penciptaan nilai jangka panjang. Di situlah letak keberlanjutan sejati.”
Kata-katanya seolah menyentuh nurani para hadirin. Banyak yang mengangguk setuju, seakan sadar bahwa konsep halal bukan hanya urusan dapur atau label makanan, melainkan fondasi bagi sebuah peradaban yang lebih adil dan berkelanjutan.
Pertemuan Lima Negara
Di deretan kursi peserta, hadir akademisi dari Amerika Serikat, India, Malaysia, Thailand, hingga Filipina. Dari total 298 peserta, sebagian besar adalah dosen dan peneliti muda. Mereka datang dengan antusias, membawa makalah, ide, sekaligus semangat untuk menjalin kolaborasi lintas batas.
Empat nama besar hadir sebagai pembicara utama. Di antaranya Prof. K.A. Aboobaker dari India yang dikenal dengan kepiawaiannya di bidang teknik dan arsitektur, hingga Kimberly Jean B. Surmeon dari Filipina yang getol mendorong riset kesehatan masyarakat. Dari Indonesia, ada Prof. Dr. Tasya Asprianti dan Riko Amir, S.T., M.T., M.Sc. yang memberikan perspektif segar tentang manajemen dan kebijakan anggaran SDM.
Setiap paparan disimak dengan seksama, tak jarang disambut tepuk tangan. Diskusi yang lahir terasa hangat, kadang kritis, namun tetap dibalut semangat kolaborasi.
Di sela-sela konferensi, terselenggara lokakarya khusus dengan tajuk yang indah: “Transcending Borders, Transforming Disciplines.” Dua tokoh penting, Dr. Titik Respati dari Unisba dan Dr. Josie Yap-Tirador dari Filipina, menjadi motor penggeraknya.
Di ruang itu, tak ada sekat kebangsaan. Para peneliti duduk melingkar, saling bertukar ide. Mereka bicara tentang riset kolaboratif yang bisa menjembatani isu-isu Asia, dari kesehatan hingga pembangunan sosial. Seseorang berkomentar, “Inilah cara terbaik agar penelitian tidak berhenti di atas kertas, tapi nyata menyentuh kehidupan.”
Simposium Ilmiah yang Hidup
BAIC 2025 terbagi ke dalam dua simposium besar: SoRes yang mengulas sosial-humaniora, dan SiRes yang fokus pada sains dan teknologi. Di setiap ruangan, suasana akademik terasa hidup. Presentasi demi presentasi digelar, para juri menilai, moderator menjaga ritme, dan timekeeper mengingatkan waktu.
Menariknya, setiap ruangan memilih presenter terbaik. Bagi mereka yang terpilih, kesempatan besar menanti: publikasi di jurnal internasional atau prosiding bereputasi.
Di akhir acara, Ketua LPPM Unisba, Prof. Dr. Neni Sri Imaniyati, menyampaikan refleksi yang begitu dalam.
“BAIC 2025 bukan sekadar konferensi,” ujarnya. “Ini adalah gerakan yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan pengabdian masyarakat dengan nilai-nilai Islam. Kami ingin masa depan halal yang berkelanjutan, etis, inklusif, dan relevan secara global.”
Kata-kata itu menutup hari yang penuh gagasan. Para peserta pun pulang dengan membawa lebih dari sekadar makalah – mereka pulang dengan jejaring baru, inspirasi segar, dan keyakinan bahwa ekosistem halal bisa menjadi jalan menuju dunia yang lebih berkelanjutan.
Bandung sore itu kembali tenang, namun gema diskusi BAIC 2025 masih terasa. Seperti benih yang ditanam, ia siap tumbuh menjadi gerakan ilmiah lintas batas, membawa pesan: halal adalah jalan menuju keberlanjutan.(askur/png)


