Oleh Nadhira Azalea Putri Ghaisani (Mahasiswa Fikom Unisba)
DALAM beberapa tahun terakhir, TikTok menjadi salah satu ruang digital yang paling sering digunakan generasi muda untuk mencari informasi, termasuk mengenai kesehatan mental. Video-video bertema psikologi, seperti ciri-ciri overthinking, bipolar, ADHD, hingga trauma childhood, sering viral dan mendapatkan jutaan tayangan. Meski tampak edukatif, tren ini perlahan melahirkan fenomena baru seperti self-diagnosis, yaitu kecenderungan mendiagnosis diri berdasarkan informasi singkat dari media sosial.
Fenomena ini menimbulkan persoalan serius. Banyak anak muda mulai meyakini bahwa mereka mengalami gangguan mental hanya karena merasa cocok dengan gejala yang disampaikan kreator konten. Padahal, gejala psikologis tidak bisa disimpulkan dari satu-dua ciri perilaku umum. Rasa sedih, cemas, atau mudah lelah, misalnya, dapat muncul akibat tekanan akademik, pola tidur buruk, atau kelelahan emosional, bukan berarti seseorang otomatis mengalami depresi.
Masalah menjadi lebih rumit ketika kreator konten menyederhanakan isu kesehatan mental menjadi daftar ceklis. Semakin cocok seseorang dengan daftar itu, semakin ia merasa “benar” bahwa dirinya mengalami gangguan tertentu. Ini bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berbahaya. Self-diagnosis dapat membuat seseorang semakin cemas, merasa “sakit” padahal tidak, bahkan menghambat mereka untuk mencari bantuan profesional yang sebenarnya dibutuhkan.
Di sisi lain, konten-konten psikologi populer memang memiliki manfaat. Banyak pengguna merasa terbantu karena lebih mengenali diri sendiri dan memahami pentingnya kesehatan mental. Namun tanpa pendampingan ahli, informasi tersebut mudah disalahartikan. TikTok adalah ruang hiburan, bukan ruang asesmen klinis. Informasi yang cepat, singkat, dan disederhanakan tidak boleh menggantikan proses diagnosis profesional yang membutuhkan observasi mendalam, wawancara berulang, dan penilaian medis yang ketat.
Generasi muda perlu lebih kritis dalam menyaring informasi kesehatan mental di media sosial. Menjadikan konten TikTok sebagai pemicu refleksi diri adalah hal baik, tetapi menjadikannya dasar diagnosis adalah langkah yang keliru. Jika seseorang merasa mengalami gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti kehilangan gairah, gangguan tidur, kecemasan berlebihan, dan kesulitan konsentrasi, maka langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan psikolog, bukan meneguhkan diri melalui video viral.
Pada akhirnya, literasi digital dan literasi kesehatan mental harus berjalan beriringan. Media sosial dapat menjadi ruang edukasi, tetapi kita harus memastikan bahwa pemahaman tidak berhenti pada tayangan singkat. Kesehatan mental adalah hal yang terlalu penting untuk diserahkan kepada algoritma.**


