MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) — Membangun kebiasaan hidup sehat membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Hal itu dibuktikan melalui program SALAM SEHAT Tamansari yang digagas Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba).
Sebanyak 50 warga RW 09 Kelurahan Tamansari, Kota Bandung, berhasil menuntaskan tantangan perubahan perilaku selama 14 hari. Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk membantu warga menerapkan pola hidup yang lebih teratur dan selaras dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
SALAM SEHAT Tamansari memadukan pendekatan ilmu kesehatan, behavioral economics, serta nilai-nilai keislaman. Sejumlah kebiasaan yang menjadi sasaran intervensi meliputi pengaturan waktu makan, paparan cahaya pagi, aktivitas fisik, hingga pola tidur dan istirahat.
Rangkaian kegiatan tersebut ditutup melalui SALAM Awarding Event, Sabtu (5/9). Selain menjadi ajang evaluasi, kegiatan ini sekaligus memberikan apresiasi kepada para peserta dan lima Kader SALAM yang selama dua pekan mendampingi warga menjalankan target perubahan perilaku.
Salah satu capaian paling menonjol adalah tingkat kepatuhan peserta yang mencapai 100 persen untuk target berhenti makan sebelum pukul 20.00 selama masa intervensi.
Capaian tersebut terlihat dari tidak adanya kartu deposit sembako milik peserta yang harus disobek. Sistem ini dirancang menggunakan prinsip loss aversion dalam behavioral economics.
Sejak awal program, peserta mendapatkan hak atas paket sembako secara lengkap. Namun, sebagian nilai paket tersebut dapat berkurang apabila peserta tidak memenuhi target perilaku yang telah ditentukan.
Ketua Tim SALAM SEHAT Tamansari, dr. Hilmi Sulaiman Rathomi, SpKKLP, MKM, Ph.D., menjelaskan bahwa promosi kesehatan tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai perilaku hidup sehat.
Menurutnya, tantangan sesungguhnya adalah menciptakan kondisi yang membuat masyarakat lebih mudah memilih dan menjalankan perilaku sehat.
“Tantangan promosi kesehatan bukan hanya membuat masyarakat tahu apa yang sehat, tetapi membantu agar pilihan sehat lebih mudah dilakukan,” ujar Hilmi.
Ia menyebut capaian selama 14 hari tersebut menjadi sinyal awal bahwa pendekatan ilmu perilaku dapat diterapkan secara sederhana di tingkat komunitas.
Lebih jauh, sejumlah warga bahkan menyampaikan keinginan untuk mempertahankan kebiasaan sehat tersebut setelah program dan insentif berakhir. Kondisi ini dinilai menjadi indikasi positif bahwa perubahan mulai tumbuh dari pengalaman peserta sendiri.
Dalam pelaksanaan program, FK Unisba menggunakan sejumlah perangkat sederhana untuk membantu peserta menjalankan target perilaku.
Perangkat tersebut meliputi piring dengan penanda waktu makan, penutup mata, tantangan foto langit pagi, serta kartu deposit sembako.
Peserta menilai berbagai perangkat tersebut membantu mereka menjalankan kebiasaan baru secara lebih konsisten. Beberapa warga juga melaporkan secara subjektif merasakan perubahan positif selama mengikuti program.
Keluhan dan pengalaman yang disampaikan peserta antara lain tubuh terasa lebih ringan, konsentrasi meningkat, suasana hati lebih baik, tidur lebih nyenyak, hingga buang air besar yang dirasakan lebih lancar.
Selain melihat pengalaman peserta, tim FK Unisba juga melakukan pengukuran tekanan darah dan lingkar perut sebelum dan sesudah intervensi.
Pengukuran tersebut menjadi bagian dari luaran sekunder program. Data yang telah terkumpul akan dianalisis untuk melihat perubahan kondisi peserta selama intervensi serta kemungkinan hubungan antara perubahan tersebut dengan tingkat kepatuhan.
Hasil analisis selanjutnya akan menjadi bagian dari evaluasi ilmiah SALAM SEHAT Tamansari.
Tingginya respons masyarakat menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan program. dr. Novia Fitri, PIC lapangan sekaligus alumni FK Unisba, mengaku terkesan dengan antusiasme warga selama mengikuti intervensi.
“Saya cukup mind-blown melihat antusiasme warga. Awalnya kami tidak menyangka kepatuhannya bisa setinggi ini,” kata Novia.
Menurutnya, hal yang paling menarik justru muncul ketika warga menyatakan ingin melanjutkan kebiasaan tersebut meski program telah selesai.
Artinya, motivasi peserta tidak semata-mata berhenti pada insentif berupa sembako. Pengalaman selama menjalankan kebiasaan baru mulai menjadi faktor yang mendorong warga untuk mempertahankannya.
Mahasiswa FK Unisba Belajar Langsung di Tengah Masyarakat
SALAM SEHAT Tamansari tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa kedokteran.
Melalui keterlibatan langsung dalam program, mahasiswa dapat melihat bagaimana teori promosi kesehatan dan perubahan perilaku yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Najib Andreano, mahasiswa FK Unisba yang ikut terlibat dalam kegiatan, mengatakan pengalaman tersebut membuat materi perkuliahan menjadi lebih nyata.
“Di perkuliahan kami belajar bahwa pengetahuan belum tentu langsung mengubah perilaku. Di sini saya melihat sendiri bagaimana konsep itu bekerja di masyarakat,” tuturnya.
Najib menilai cara menyampaikan pesan kesehatan, proses pendampingan warga, hingga desain lingkungan ternyata memiliki pengaruh besar dalam membantu seseorang membangun kebiasaan baru.
Program SALAM SEHAT Tamansari juga mendapatkan dukungan dari Puskesmas Tamansari. Sejak awal pelaksanaan, puskesmas turut mendukung kegiatan bersama masyarakat dan kader kesehatan.
Melihat antusiasme warga serta pengalaman implementasi di RW 09, Puskesmas Tamansari mempertimbangkan kemungkinan mengembangkan pendekatan SALAM ke RW lainnya di wilayah Tamansari.
Jika dikembangkan lebih luas, program tersebut dapat diuji dan disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masyarakat pada komunitas yang berbeda.
Satukan Ilmu Kesehatan, Behavioral Science, dan Nilai Islam
Salah satu kekhasan SALAM SEHAT Tamansari adalah integrasi antara pendekatan kesehatan modern dengan nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter FK Unisba.
Keteraturan waktu makan, aktivitas, paparan cahaya, serta tidur memiliki keterkaitan dengan pesan mengenai keteraturan siang dan malam yang berulang kali disebutkan dalam Al Quran.
Pesan tersebut kemudian dipertemukan dengan konsep ilmiah mengenai ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
Pendekatan ini diharapkan membuat pesan kesehatan menjadi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran tentang pentingnya keteraturan aktivitas sehari-hari.
Setelah menyelesaikan intervensi di tingkat komunitas, hasil SALAM SEHAT Tamansari akan didiseminasikan melalui publikasi ilmiah pengabdian kepada masyarakat.
Tim FK Unisba juga akan mempresentasikan hasil program dalam konferensi internasional BICMHS pada Oktober 2026.
Evaluasi berikutnya akan mencakup analisis data perilaku dan luaran kesehatan yang telah dikumpulkan. Tim juga akan memantau keberlanjutan perubahan perilaku peserta setelah insentif dalam program dihentikan.
Dengan berbagai capaian tersebut, SALAM SEHAT Tamansari berpotensi menjadi praktik baik (best practice) promosi kesehatan berbasis behavioral science yang dikembangkan dari tingkat komunitas.
Program tersebut diharapkan dapat direplikasi dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat di wilayah lain. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar mendorong perubahan gaya hidup dan memperkuat pencegahan penyakit kronis di Indonesia. (askur/nmn)***


