MEDIA-KAMPUS.COM – Pelaksanaan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Sabtu (21/3/2026) berlangsung dengan penuh kekhusyukan di lapangan parkir Kampus Utama Universitas Islam Bandung, Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung. Kegiatan ini diikuti oleh sivitas akademika Unisba serta masyarakat sekitar kawasan Tamansari.
Bertindak sebagai khatib, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sumber Daya, Umum, dan Keuangan (PASDUK) Unisba, Dr. Helmi Aziz, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan khutbah bertema “Menuju Masyarakat Marhamah.”
Dalam khutbahnya, Helmi mengajak jamaah untuk memaknai Idulfitri tidak sekadar sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga sebagai momen refleksi spiritual yang mendalam.
Ia menuturkan bahwa Idulfitri menghadirkan dua dimensi perasaan sekaligus. Di satu sisi, terdapat kebahagiaan karena berhasil menuntaskan ibadah Ramadan, namun di sisi lain muncul rasa haru karena berpisah dengan bulan penuh berkah tersebut.
Lebih lanjut, Helmi menjelaskan bahwa ibadah puasa sejatinya membentuk karakter manusia menjadi lebih tenang, lembut, serta mampu mengendalikan diri. Namun, di tengah pesatnya perkembangan zaman, manusia juga dihadapkan pada berbagai tantangan moral dan sosial.
Ia menyoroti fenomena meningkatnya kekerasan, penyalahgunaan narkoba, hingga maraknya ujaran kebencian yang berpotensi memecah persatuan. Menurutnya, kondisi ini terjadi akibat melemahnya dimensi spiritual dalam kehidupan manusia modern.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memperbarui iman setelah Ramadan. Mengutip sabda Rasulullah, Helmi mengingatkan jamaah untuk senantiasa memperkuat keimanan dengan memperbanyak kalimat laa ilaaha illallah.
Selain itu, ia juga menguraikan tiga nilai utama dari ibadah puasa, yakni menjaga fitrah kemanusiaan, meningkatkan pengendalian diri, serta mencapai kesucian ruhani. Nilai-nilai tersebut diharapkan tetap terpelihara dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah Ramadan berlalu.
Dalam konteks kehidupan modern, Helmi turut mengingatkan bahaya materialisme yang membuat banyak orang mengukur kesuksesan semata dari aspek harta, jabatan, dan kekuasaan. Akibatnya, tidak sedikit individu yang terjebak dalam kenikmatan duniawi tanpa kontrol diri.
Menutup khutbahnya, ia mengajak seluruh jamaah menjadikan Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menebarkan kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Ia berharap, nilai-nilai Ramadan dapat melahirkan pribadi yang bertakwa dan berkontribusi dalam membangun masyarakat marhamah—yakni masyarakat yang dilandasi kasih sayang, kepedulian, dan empati terhadap sesama. (gifa/png)***


