MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Memotret kehidupan di ruang publik bukan sekadar mengarahkan kamera kepada objek. Dibutuhkan kepekaan untuk membaca gestur, interaksi, dan berbagai peristiwa yang berlangsung secara spontan. Perspektif tersebut menjadi bagian dari rangkaian pre-event International Photography & Short Movie Festival (IPSMF) 2026 melalui workshop street photography bersama fotografer Arif Rudiana, Sabtu (19/9/2026).
Dalam sesi tersebut, Arif menjelaskan bahwa kekuatan street photography terletak pada kemampuan fotografer menemukan cerita dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, fotografer perlu mengamati terlebih dahulu sebelum menentukan momen yang akan diabadikan.
“Sebelum memotret, kita harus mengamati terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan objek. Street photography itu tentang menemukan sesuatu yang menarik dari kehidupan yang biasa,” jelas Arif.
Peserta pun diajak membangun kebiasaan mengamati lingkungan sebelum menekan tombol shutter. Cara tersebut menjadi relevan dengan tema IPSMF 2026, “Framing Social Change”, yang mengajak fotografer dan sineas melihat realitas melalui beragam perspektif.
Arif juga memperkenalkan prinsip set and forget dalam fotografi. Konsep ini menekankan pentingnya mempersiapkan kamera sebelum momen berlangsung agar fotografer tidak kehilangan peristiwa penting hanya karena sibuk melakukan pengaturan teknis.
Menurut Arif, kemampuan menghasilkan foto yang kuat bukan hanya bergantung pada penguasaan perangkat dan teknik fotografi. Kepekaan dalam membaca situasi justru menjadi bagian penting dalam menangkap sebuah momen.
“Selain mencari momen, kita juga bisa menciptakan dan mengantisipasi kemungkinan munculnya momen. Kita harus bisa menembak gesture selanjutnya dari objek yang mau difoto,” ujarnya.
Pandangan tersebut memperluas pemahaman peserta bahwa fotografi jalanan merupakan proses membaca situasi. Fotografer tidak hanya menunggu peristiwa terjadi, tetapi juga perlu memperkirakan kemungkinan gerakan dan interaksi yang akan muncul.
Melalui workshop ini, IPSMF 2026 mendorong peserta memahami fotografi sebagai proses mengamati, membaca, dan membingkai kehidupan sehari-hari. Sebuah foto tidak berhenti sebagai gambar, tetapi dapat membawa cerita dan perspektif tertentu kepada orang yang melihatnya.
Bagi Arif, ketertarikan terhadap fotografi juga dapat berkembang menjadi nilai personal melalui proses berkarya.
“Kalau suka dengan dunia fotografi, jalani saja karena itu bisa menjadi value untuk diri kita sendiri,” tutupnya.
Photography Hunting Menyusuri Sudut Kota Bandung
Semangat membaca realitas melalui fotografi kemudian berlanjut dalam agenda Fun Walk Hunting & Community Gathering sebagai bagian dari rangkaian pre-event IPSMF 2026.
Dalam sesi Photography Hunting, peserta diajak menyusuri kawasan Pasar Baru, Bandung. Perjalanan dibagi menjadi dua rute yang menawarkan karakter ruang berbeda sebelum seluruh peserta bertemu di titik akhir yang sama.
Rute A membawa peserta melewati kawasan terminal dan deretan ruko lawas sebelum menuju pasar tradisional sebagai titik utama. Sementara itu, Rute B mengarahkan peserta melewati gang-gang permukiman yang sempit dan deretan ruko lama di kawasan Jl. ABC.
Sepanjang perjalanan, peserta tidak hanya ditantang menghasilkan foto secara spontan. Mereka juga diajak memperhatikan berbagai aktivitas dan interaksi masyarakat yang ditemui di ruang publik.
Kawasan kota kemudian menjadi ruang belajar fotografi secara langsung. Peserta berlatih menangkap dinamika sosial, membaca situasi, serta menemukan cerita autentik yang muncul dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bandung.
Aktivitas tersebut selaras dengan semangat “Framing Social Change”, yang menempatkan fotografi sebagai medium untuk membaca realitas sosial melalui perspektif personal. Peserta tidak hanya mengejar gambar yang menarik secara visual, tetapi juga mencari makna dan cerita di balik objek yang mereka abadikan.
Sesi Photography Hunting menjadi salah satu pengalaman awal bagi peserta sebelum memasuki kompetisi utama IPSMF 2026. Melalui aktivitas tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengasah kepekaan visual sekaligus menentukan bagaimana sebuah realitas akan mereka ceritakan melalui kamera.
Pada tahap kompetisi, peserta nantinya memiliki ruang untuk menentukan sendiri cerita, sudut pandang, dan realitas sosial yang ingin mereka bingkai.
Dengan demikian, rangkaian pre-event IPSMF 2026 tidak hanya menjadi kegiatan menuju festival utama. Rangkaian tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memahami bahwa kekuatan sebuah foto tidak hanya terletak pada apa yang terlihat, tetapi juga pada cerita dan perspektif yang berhasil disampaikan. (askur/nmn)***


