MINGGU pagi, 5 Oktober 2025. Mentari baru saja menembus lembut dedaunan di sekitar Jalan Tamansari, ketika ratusan pesepeda dengan kaus biru muda bertuliskan Fun Bike 2025 mulai memadati halaman Kampus Utama Universitas Islam Bandung (Unisba).
Suara tawa, deru sepeda, dan musik ceria berpadu menciptakan suasana yang berbeda. Tak ada wajah tegang khas perlombaan. Yang ada hanya kebahagiaan sederhana — menikmati hari bersama keluarga besar Unisba dan warga Bandung.
Di tengah keramaian itu, Moh. Subur Drajat, M.Si., sang koordinator pelaksana, tampak tersenyum lega. “Fun Bike ini bukan soal siapa yang paling cepat,” ujarnya sambil menepuk bahu salah satu panitia muda. “Ini tentang menikmati kebersamaan.”
Dan benar saja. Ratusan peserta dari berbagai usia mulai mengayuh sepedanya dengan riang. Anak-anak, dosen, mahasiswa, hingga warga sekitar berbaur tanpa sekat. Mereka menempuh rute 10 kilometer, melintasi jalan-jalan legendaris Bandung — Wastukencana, Martadinata, Kosambi, Asia Afrika, Sudirman, hingga Cihampelas — sebelum kembali ke titik awal di kampus perjuangan umat Islam Jawa Barat itu.
Sambil menunggu pengundian doorprize — termasuk satu unit sepeda motor yang menjadi incaran banyak orang — suasana kampus pagi itu berubah menjadi semacam pesta rakyat mini. Ada tawa, musik, dan aroma makanan menggoda dari deretan tenda di tepi halaman.
Jejak Komunitas UMKM Sarijadi
Di antara deretan tenda itu, terdapat sesuatu yang menarik perhatian banyak peserta. Beberapa stand UMKM Sarijadi Bandung tampak ramai diserbu pengunjung. Ada yang menjual minuman herbal, kudapan tradisional, hingga kerajinan tangan. Semuanya produk karya warga binaan LPPM Unisba — bukti nyata bahwa pengabdian kampus bukan hanya berhenti di ruang kelas.
“Rasanya seperti pulang kampung,” kata Yunyun Yunengsih, S.Sos, sang penggerak komunitas UMKM Sarijadi sekaligus alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba.
Matanya berbinar ketika menceritakan bahwa sebagian peserta UMKM ini adalah anggota baru yang masih belajar merintis usaha.
Komunitas yang ia pimpin dulu mendapat bimbingan teknis dan sertifikasi halal dari dua dosen Unisba: Dr. Kiki Zakiah Darmawan dan Dr. Nurul Chotidjah. Keduanya kini kembali mendampingi mereka — bukan di ruang seminar, tapi di lapangan, di tengah keringat dan tawa peserta Fun Bike.
“Pendampingan itu tidak berhenti di pelatihan. Kami ingin mereka punya ruang nyata untuk berkembang,” ujar Dr. Kiki Zakiah sambil memandangi antrean peserta yang membeli jajanan UMKM binaannya.
Sementara Dr. Nurul menambahkan, “Dengan ikut di acara seperti ini, Unisba bukan hanya dikenal sebagai kampus akademis, tapi juga kampus yang memberdayakan. Selain itu untuk menggiatkan UMKM, agar bisa menambah penghasilan para pegiat UMKM.”
Tak jauh dari keramaian itu, tampak Bu Rektor Yanyan Ruhyani, Ketua Ikatan Ibu-Ibu Keluarga Besar Unisba (3iKB), berbincang hangat dengan beberapa pelaku UMKM.
Beliau tersenyum bangga melihat antusiasme para peserta yang mencicipi produk lokal buatan warga Sarijadi.
“UMKM seperti ini bisa jadi inspirasi bagi sivitas akademika, terutama para purna bakti Unisba,” ucapnya. “Mereka pun bisa tetap produktif, bahkan setelah pensiun. Kita akan bantu memfasilitasi agar bisa berkolaborasi dan terus berkarya.”
Kata-kata Bu Rektor terasa sederhana, tapi mengandung pesan yang kuat: bahwa produktifitas dan semangat berbagi tidak mengenal usia maupun status.
Ketika siang mulai merayap, satu per satu peserta kembali ke kampus dengan wajah sumringah. Tak ada piala, tak ada podium. Tapi semua pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa kebersamaan.
Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., Rektor Unisba, menutup kegiatan dengan pesan ringan tapi bermakna dalam.
“Hadiah hanyalah bonus. Yang terpenting, kita bisa gowes bareng dengan hati gembira,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Bagi sebagian orang, Fun Bike mungkin hanya acara tahunan. Tapi bagi Unisba, ia adalah simbol.
Simbol dari energi, kebersamaan, dan keberlanjutan — baik dalam dunia akademik, sosial, maupun ekonomi masyarakat.
Dan bagi Komunitas UMKM Sarijadi, hari itu bukan sekadar kesempatan berjualan, melainkan panggung kecil untuk menegaskan bahwa kerja keras, kolaborasi, dan keberanian untuk maju adalah roda kehidupan yang terus berputar.
Minggu, 5 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari TNI ke-80, menjadi bukti bahwa di bawah langit Bandung, semangat perjuangan masih tetap hidup — di jalanan, di kampus, dan di hati setiap insan Unisba.(ask/png)

