Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Lanturan Tak Relevan
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Lanturan Tak Relevan

admin@mediakampus
Last updated: Juni 6, 2020 6:28 am
admin@mediakampus Published Juni 6, 2020
Share
SHARE

Oleh Askurifai Baksin*

Bangsa-bangsa dilahirkan di dalam hati para penyair. Mereka menjadi makmur dan mati  di tangan politisi (Muhammad Iqbal, Penyair India, 1877-1938) 

Menjelang Pemilu Raya 2019 yang lalu, kaum politisi sibuk mengurus kepentingan pencalonan, baik atas nama pribadi atau partai untuk mengusung dirinya maupun paslon presiden. Wajar, jika berbagai upaya dilakukan untuk meraih sukses menjadi anggota legislatif dan meluluskan presiden pilihannya. Tak jarang hal-hal yang bersinggungan dengan hoaks dan komunikasi tak santun mewarnai dinamika politik. Yang lagi hangat soal informasi hoak mengenai adanya tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos. Seperti biasa, ketika bola seperti ini menggelinding masing-masing menendang dari berbagai arah. Muncullah kata kunci yang kini sering keluar dari politisi, yakni ‘narasi’.

Menurut Wikipedia, yang dimaksud ‘narasi’ adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Namun, bagi  elite politik narasi dianggap sebagai ujaran yang dilontarkan seseorang sehingga menimbulkan polemik. Ketika Prabowo menyebut mengenai masa depan Indonesia, politisi menyebutnya narasi. Saat La Nyalla  Mattalitti mengatakan  adu jadi imam salat antara Jokowo dan Prabowo disebut narasi. Kalangan dai di Aceh menyatakan tes baca Alquran bagi paslon presiden 2019, dan lainnya. Semuanya selalu disebutnya sebagai ‘narasi’ yang berbeda dengan pengertian Bahasa Indonesia.

Dalam kajian komunikasi dikenal teori naratif. Teori naratif dikembangkan oleh Walter Fisher. Fisher lebih suka menyebut teori ini sebagai paradigma naratif. Teori naratif mengemukakan keyakinan bahwa manusia adalah pencerita dan pertimbangan akal emosi, dan estetika menjadi dasar keyakinan dan perilaku. Akar pemikiran Fisher berupaya menggambarkan dan menjelaskan komunikasi sebagai storytelling. Dalam pandangannya, Storytelling bukanlah aktivitas sesaat, melainkan proses yang terus-menerus di mana kita merasakan dunia dan berkomunikasi satu sama lainnya. Merunut kajian komunikasi tersebut apa yang dilakukan elit politik merupakan komunikasi naratif. Untuk memengaruhi masyarakat pemilih mereka aktif berkomunikasi naratif yang intinya melakukan storytelling, bercerita. Cerita berlangsung terus menerus meskipun terkadang tidak ‘nyambung’. Saat elit politik berstorytelling masyarakat awam dibuat bingung. Mereka terombang-ambing mendengar storytelling yang dilakukan kaum politisi. Tampaknya kutipan Muhammad Iqbal sesuai dengan kondisi sekarang. Kiasan penyair sekaligus filsuf India itu mampu mewakili segala jaman: Bangsa-bangsa dilahirkan di dalam hati para penyair. Mereka menjadi makmur dan mati  di tangan politisi.

Lanturan Relevan

Di luar istilah narasi dan komunikasi naratif, menurut penulis ada yang mewakili kondisi sekarang, yakni ‘lanturan’. Jika beberapa orang bercakap-cakap kemudian diantaranya bicaranya tidak sesuai dengan pembicaraan awal sering disebut ‘melantur’. Dari kata ‘melantur’ muncul kata bendanya, yakni ‘lanturan’. KBBI menyebut, lantur, melantur merupakan kondisi menyimpang (tentang pembicaraan, angan-angan, dan sebagainya); tersesat; teralih. Lanturan  berarti penyimpangan dalam cerita akibat masuknya bagian cerita yang menyimpang yang tidak secara langsung berhubungan dengan cerita.

Jadi, saat ini muncul banyak lanturan tak relevan. Contoh kasus soal keinginan para dai di Aceh agar diadakan tes baca Alquran untuk capres. Lanturan ini pun ada yang menanggapi dengan menyebut kalau ada tes baca Alquran nanti ada juga tes menembak, lari, pidato, dan lainnya. Nah, menurut saya lanturan yang merebak sebaiknya lanturan yang relevan. Kini yang muncul lanturan yang tidak relevan, padahal jika lanturan-lanturan ini muncul tidak karuan masyarakat awam jadi ‘mati’. ‘Mati’ di sini bisa berarti tidak peduli lagi dengan Pilpres atau semakin apatis karena banyaknya lanturan-lanturan tak relevan.

Jika para elit politik menyenangi lanturan tak relevan, jangan salahkan jika yang merebak di masyarakat gejala lanturan juga. Padahal yang namanya lanturan berakhir pada ketidaksesuaian. Idealnya, lanturan tak relevan ini diganti dengan komunikasi asertif, yakni suatu kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain tapi tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain.  Ketika kita dengan tegas dan positif mengekspresikan diri kita tanpa maksud mengalah dan juga menyerang orang lain. Kunci utama dalam berkomunikasi asertif adalah “i Messege” sampaikan perasaan, pikiran, atau opini Anda. Tidak ada satu kekuatan pun di dunia yang dapat menghambat Anda untuk berkomunikasi.**

*Penulis pengajar Ilmu Jurnalistik Fikom Unisba

Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
FH Unisba Yudisium Gelombang II, 137 Lulusan Siap Menorehkan Kiprah untuk Negeri

FH Unisba Yudisium Gelombang II, 137 Lulusan Siap Menorehkan Kiprah untuk Negeri

admin@mediakampus admin@mediakampus Agustus 25, 2025
Tim Riset Fikom Unisba Gelar FGD Tentang Green Pesantren dengan ‘Aisyiyah Boarding School Bandung
Pojok Statistik Unisba Selenggarakan Workshop SPSS, Bahas One-Way ANOVA untuk Pemula
ITS Perkuat Kompetensi Pemimpin Demi Pendidikan Berkelanjutan
Jejak Harapan di Aula Unisba: 43 Apoteker Baru Resmi Dilantik dalam Sumpah Profesi
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar