MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung (Unisba) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mitigasi bencana melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat Rawan Bencana Alam melalui Program LAPOR dengan Aplikasi InaRISK Personal di Desa Pakuhaji Bandung Barat.”
Kegiatan yang digelar pada Sabtu (23/8/2026) di Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, ini melibatkan Tim Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), para ketua RT dan RW, serta unsur pemerintah desa sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana alam.
Acara dibuka secara resmi oleh Camat Ngamprah, Hari Mustika Jachja, S.Sos. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran serta kemampuan warga menghadapi berbagai potensi bencana yang mengancam wilayah tersebut.
Desa Pakuhaji Hadapi Risiko Bencana Tinggi
Desa Pakuhaji dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi yang cukup tinggi di Kabupaten Bandung Barat.
Topografi wilayah yang didominasi perbukitan dengan kemiringan lereng lebih dari 30 persen, curah hujan tahunan di atas 2.000 milimeter, serta lokasinya yang berada di sekitar jalur aktif Sesar Lembang, menjadikan desa ini rentan terhadap tanah longsor maupun banjir bandang.
Walaupun telah berstatus sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana), kapasitas masyarakat dalam melakukan mitigasi secara mandiri dinilai masih perlu terus diperkuat, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital untuk mengenali dan mengantisipasi risiko bencana.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim PKM LPPM Unisba menghadirkan inovasi Program LAPOR, akronim dari Larangan Merusak, Anjuran Menanam, Peringatan Moral, Optimalisasi Ihsan, dan Respons Cepat.
Program ini dikembangkan sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan edukasi kebencanaan berbasis teknologi melalui aplikasi InaRISK Personal dengan penguatan nilai-nilai sosial dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat.
Ketua Tim PKM, Dr. Khambali, S.Pd.I., M.Pd.I., dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba, memimpin pelaksanaan kegiatan bersama anggota tim yang terdiri atas Dr. Luthfi Nurwandi, S.T., M.T. dari Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik, Dr. Giantomi Muhammad, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, serta dua mahasiswa, Shadiatul Milah dan Annisa Mutia Lestari.
Materi pertama disampaikan oleh Suyono, S.Pd., Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Taruna Siaga Bencana (FK Tagana) Kabupaten Bandung Barat.
Ia mengajak peserta memahami potensi bencana di lingkungan sekitar, memperkuat koordinasi antarwarga, mengenali jalur evakuasi, serta mengetahui langkah-langkah awal yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
Pada sesi berikutnya, Khambali memperkenalkan konsep teologi LAPOR, yang menekankan bahwa mitigasi bencana tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong untuk menjaga kelestarian lingkungan, membiasakan gerakan menanam pohon, memperkuat kepedulian sosial, mengamalkan nilai ihsan, serta membangun budaya saling membantu ketika terjadi bencana.
Sementara itu, Dr. Giantomi Muhammad memberikan pelatihan penggunaan aplikasi InaRISK Personal, sebuah platform digital yang memungkinkan masyarakat mengetahui tingkat risiko bencana di wilayah tempat tinggalnya secara cepat dan mudah.
Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan literasi digital kebencanaan sehingga warga lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Libatkan Warga melalui Participatory Action Research
Pelaksanaan PKM menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam seluruh tahapan kegiatan.
Program dijalankan melalui enam tahapan, yakni pemetaan risiko secara partisipatif, edukasi teologi-ekologi berbasis nilai lokal, pelatihan penggunaan aplikasi InaRISK Personal, simulasi evakuasi mandiri, gerakan penghijauan pada lahan kritis, serta pembentukan komunitas “Desa Siaga LAPOR.”
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang tidak hanya memahami teori mitigasi bencana, tetapi juga memiliki kemampuan praktis dalam mengurangi risiko secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, LPPM Unisba memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, relawan kebencanaan, dan masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana.
Keterlibatan Tim Destana, perangkat RT dan RW, serta warga menjadikan masyarakat bukan sekadar penerima informasi, melainkan aktor utama dalam pengelolaan risiko bencana di lingkungannya sendiri.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta Tujuan 13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim.
Dengan mengintegrasikan edukasi ekologis, penguatan nilai spiritual, dan pemanfaatan teknologi digital, LPPM Unisba berharap Program LAPOR dapat menjadi model pengabdian kepada masyarakat yang efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat rawan bencana di berbagai daerah di Indonesia.(askur/nmn)***


