DI bawah langit sore Bandung Barat yang cerah, suasana di Ballroom Mason Pine Hotel terasa hangat dan penuh semangat. Tepuk tangan bergemuruh ketika nama Universitas Islam Bandung (Unisba) disebut tiga kali berturut-turut dalam ajang Anugerah LLDIKTI Wilayah IV Tahun 2025.
Senyum bahagia tampak di wajah Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., saat melangkah ke panggung untuk menerima tiga penghargaan bergengsi sekaligus — sebuah bukti nyata kiprah Unisba di dunia pendidikan tinggi.
Tiga apresiasi yang dibawa pulang bukanlah penghargaan biasa: Anugerah PPKM dan Hilirisasi Terbaik (Silver Award), Anugerah Pengelolaan JAD Terbaik (Silver Award), dan Anugerah Profesor Terbanyak (Bronze Award).
Di balik tiga plakat berkilau itu, tersimpan cerita panjang tentang komitmen, kesungguhan, dan doa yang menyertai perjalanan Unisba selama bertahun-tahun.
Dalam sambutannya, Prof. Harits berbicara dengan nada yang teduh namun penuh keyakinan.
“Capaian ini adalah kebahagiaan bagi seluruh keluarga besar Unisba,” ujarnya. “Kami tidak sekadar mengejar penghargaan, tetapi menjaga amanah untuk terus meningkatkan mutu layanan, meneladani semangat para pendahulu, dan memastikan keberlanjutan prestasi ini.”
Bagi Unisba, penghargaan ini bukan akhir, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi dengan ruh pengabdian Islam.
Nilai khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama — menjadi napas di setiap aktivitas akademik, penelitian, dan pengabdian dosen-dosen Unisba.
Dari Ruang Riset hingga Desa Binaan: Hilirisasi yang Hidup
Di balik penghargaan PPKM dan Hilirisasi Terbaik, ada puluhan kisah dosen dan mahasiswa Unisba yang turun langsung ke masyarakat — dari pendampingan UMKM, program gizi anak, hingga inovasi pertanian ramah lingkungan.
Bukan hanya meneliti, mereka menghidupkan hasil risetnya, agar bisa dirasakan manfaatnya oleh warga.
“Itu yang membedakan Unisba,” tutur Prof. Harits. “Kami ingin hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi sampai ke tangan masyarakat.”
Tak heran, LLDIKTI menilai Unisba sebagai salah satu kampus dengan kontribusi paling nyata dalam hilirisasi riset di Jawa Barat dan Banten. Tahun ini, Unisba bahkan tercatat sebagai penerima dana penelitian dan pengabdian terbesar kedua di wilayah tersebut — capaian yang menegaskan kualitas akademik dan integritas dosennya.
Menjaga Sistem, Menumbuhkan Guru Besar
Penghargaan Pengelolaan JAD Terbaik menjadi simbol konsistensi Unisba sejak 2018 dalam menjaga tata kelola jabatan akademik yang transparan dan berkelanjutan.
“Maintenance sistem ini kami jaga terus. Setiap tahun kami menambah rekognisi baru, sehingga jumlah lektor, lektor kepala, dan guru besar meningkat pesat,” jelas Prof. Harits.
Kini, Unisba juga dikenal sebagai salah satu kampus dengan jumlah profesor terbanyak di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV — sebuah bukti bahwa iklim akademik di kampus biru ini benar-benar tumbuh subur.
Namun bagi Prof. Harits, keberhasilan itu bukan sekadar angka.
“Setiap guru besar adalah cahaya ilmu. Dan tugas kami di rektorat adalah memastikan cahaya itu terus menyala untuk generasi berikutnya,” ucapnya lembut.
Ke depan, Unisba tak ingin berhenti di titik ini. Rektor menargetkan agar Unisba segera naik kelas menjadi Gold Winner dan memperluas rekognisi di berbagai bidang — mulai dari kerja sama, akreditasi, hingga sistem penjaminan mutu internal (SPMI).
Dari 35 program studi yang dimiliki, 17 sudah berakreditasi unggul, dan target berikutnya: lebih dari 20 prodi unggul pada tahun depan.
“Kerja sama ke depan tidak hanya berhenti pada MoU, tapi diwujudkan dalam MoA dan IA yang benar-benar menghasilkan manfaat,” tegasnya.
Ia pun menekankan pentingnya peningkatan pengelolaan data PDDIKTI agar Unisba semakin solid dalam penilaian kinerja nasional.
“Mimpi saya sederhana,” ujarnya, “Unisba harus menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan secara nasional dan internasional—dengan SDM unggul yang berakar pada nilai-nilai Islam.”
Menutup sambutannya, Prof. Harits menyampaikan pesan penuh makna bagi seluruh dosen Unisba.
“Kampus ini bukan sekadar tempat bekerja,” katanya, “tetapi rumah tempat kita bernaung, mencari ilmu, dan beramal. Mari terus berkhidmat, bekerja profesional, dan menebar manfaat bagi masyarakat.”
Ia mengingatkan, dosen Unisba harus terus melangkah—mengajar, meneliti, menulis, dan berkontribusi untuk bangsa.
“Setiap tugas yang selesai dengan baik bukanlah titik akhir, melainkan awal dari karya berikutnya. Mari kita berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat),” pungkasnya.
Tiga penghargaan yang dibawa pulang Unisba tahun ini menjadi simbol bahwa kerja ikhlas dan berorientasi manfaat selalu menemukan jalannya untuk diakui.
Dari ruang kuliah hingga pelosok desa, dari jurnal ilmiah hingga program pemberdayaan masyarakat, Unisba terus menebar nilai Islam dalam bentuk yang paling nyata — manfaat untuk umat dan bangsa.(gifa/png)

