SABTU pagi di Hotel Holiday Inn Pasteur, Bandung, udara sejuk berpadu dengan semangat akademik yang terasa di setiap sudut ruangan. Bendera berbagai negara terpajang di belakang panggung, melambangkan kolaborasi lintas bangsa. Dari podium utama, terdengar salam pembuka yang menggema, membuka lembaran baru dalam perjalanan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) di kancah internasional.
Inilah The 5th Bandung International Conference of Medical and Health Sciences (BICMHS 2025) — forum ilmiah yang bukan sekadar ajang akademik, melainkan wadah pertemuan pikiran, budaya, dan semangat kemanusiaan.
Tahun ini, BICMHS mengusung tema besar: “Asian Leadership for Global Impact: Advancing Health Equity through Collaborative Action.” Tema yang menggugah kesadaran, bahwa di tengah ketimpangan kesehatan dunia, Asia memiliki peran besar untuk tampil memimpin, membawa nilai-nilai kemanusiaan dan kolaborasi lintas batas.
Kehadiran 350 peserta dari berbagai negara — Indonesia, Malaysia, Singapura, India, hingga Filipina — menjadi bukti bahwa BICMHS telah menjelma sebagai ruang dialog internasional yang diperhitungkan. Para akademisi, peneliti, dosen, dan mahasiswa duduk berdampingan, berdiskusi tentang tantangan kesehatan global yang kian kompleks.
Dari Dr. P. A. Fazal Ghafoor dari India hingga Prof. dr. M. A. Bruijnzeels dari Belanda, para pembicara utama menawarkan perspektif yang memperkaya. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Dr. Santun Bhekti Rahimah, dr., M.Kes., Dekan FK Unisba, yang dengan penuh semangat menegaskan visi lembaganya.
“FK Unisba ingin berkontribusi membangun dunia yang lebih sehat dan berkeadilan. Melalui BICMHS, kami menghubungkan nilai Islam dengan keunggulan ilmu pengetahuan,” ujarnya di tengah tepuk tangan peserta.
Bukan Sekadar Konferensi, Tapi Gerakan Intelektual
BICMHS bukan hanya tentang sesi presentasi dan prosiding ilmiah. Di balik layar, ada semangat besar untuk menguatkan jejaring riset dan publikasi internasional.
Melalui Workshop Penulisan Artikel Ilmiah yang digelar sehari sebelumnya, peserta belajar bagaimana hasil penelitian mereka bisa melintasi batas geografis — dari laboratorium kecil di Bandung hingga jurnal-jurnal bereputasi di dunia.
Tak berhenti di situ, setiap artikel yang disampaikan di konferensi ini akan diterbitkan dalam prosiding internasional terindeks Garuda, memperkuat komitmen FK Unisba untuk melahirkan karya riset yang diakui dunia.
Di balik gemerlap konferensi internasional, FK Unisba tetap meneguhkan identitasnya: menggabungkan nilai-nilai Islam dalam setiap langkah ilmiahnya.
Selama lebih dari dua dekade, fakultas ini telah melahirkan dokter-dokter muda yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga hangat dalam empati dan tinggi dalam moralitas.
“Bagi kami, kedokteran bukan hanya tentang menyembuhkan, tapi juga tentang memanusiakan manusia,” tutur Dr. Santun penuh makna.
Perhelatan ini menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan Milad ke-21 FK Unisba dan ulang tahun ke-67 Universitas Islam Bandung. Seolah menjadi refleksi dari perjalanan panjang Unisba dalam menanamkan nilai keilmuan dan kemaslahatan umat.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Asnita Frida B. R. Sebayang, S.E., M.Si., menilai konferensi ini sebagai tonggak penting dalam langkah global kampus biru Unisba.
“BICMHS bukan hanya acara ilmiah, tapi momentum untuk memperluas jejaring, melahirkan inovasi, dan memberi manfaat nyata bagi kemanusiaan,” ujarnya.
Ia berharap BICMHS menjadi pintu bagi kolaborasi strategis lintas negara — mulai dari penelitian bersama, pertukaran pelajar, hingga pengabdian masyarakat berbasis ilmiah.
Ketika acara berakhir, para peserta tak hanya membawa sertifikat dan catatan ilmiah, tapi juga semangat baru. Semangat bahwa Bandung — kota yang dikenal dengan kehangatan dan kreativitas — telah kembali menjadi pusat pertemuan gagasan global tentang kesehatan dan kemanusiaan.
Dari BICMHS 2025, FK Unisba kembali mengirimkan pesan kuat ke dunia: bahwa ilmu, iman, dan kemanusiaan bisa berjalan seiring. Dari Asia, untuk dunia.
“Semoga ilmu yang dibagikan di forum ini menjadi cahaya bagi banyak jiwa,” ucap Dr. Asnita menutup acara.
Sebuah doa yang menandai akhir konferensi — sekaligus awal dari perjalanan panjang menuju kesehatan global yang berkeadilan. (askur/png)

