MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Program Studi Magister Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar Seminar Pendidikan, Senin (27/7/2026). Seminar tersebut membahas peran strategis pendidikan Islam dalam menjawab tantangan pendidikan nasional dan membentuk generasi Indonesia yang berkarakter.
Kegiatan ini diikuti dosen, mahasiswa, dan alumni FTK Unisba. Forum ilmiah tersebut menjadi ruang untuk memperluas wawasan sekaligus membangun komitmen bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Unisba, Dr. Asnita Frida B.R. Sebayang, S.E., M.Si., membuka seminar. Dalam sambutannya, Asnita menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, perubahan zaman yang semakin kompleks membutuhkan sinergi antara kebijakan pendidikan nasional, penguatan nilai-nilai keislaman, dan inovasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Ketiga unsur tersebut harus dikembangkan secara terpadu agar pendidikan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan landasan nilai.
Seminar menghadirkan Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa, S.Si., M.Psi., sebagai narasumber. Diskusi dipandu Dekan FTK Unisba, Prof. Dr. Nan Rahminawati, M.Pd.
Dalam pemaparannya, Ledia membahas berbagai tantangan serta arah kebijakan pendidikan Indonesia, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan menengah.
Pendidikan Islam Bagian Integral Pendidikan Nasional
Ledia Hanifa menjelaskan bahwa pendidikan Islam dan pendidikan nasional memiliki semangat serta orientasi yang sejalan. Keduanya bertujuan membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, bertanggung jawab, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.
Pendidikan Islam bukan sistem yang berdiri sendiri atau terpisah dari pendidikan nasional. Pendidikan Islam justru menjadi bagian integral yang memperkuat pencapaian tujuan pendidikan nasional melalui penanaman nilai keimanan, moralitas, dan kemanusiaan.
Dia juga menjelaskan bahwa pendidikan Islam mengembangkan manusia secara menyeluruh. Mengacu pada pemikiran Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan mencakup pembinaan dimensi akidah, ibadah, akhlak, fisik, akal, sosial, emosional, dan seksual.
Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu pengetahuan. Seluruh dimensi kehidupan manusia harus diintegrasikan agar terbentuk pribadi yang seimbang, sehat secara kejiwaan, matang dalam kehidupan sosial, dan memiliki integritas moral.
Seminar turut membahas sejumlah persoalan pendidikan kontemporer. Persoalan tersebut antara lain rendahnya pemahaman terhadap hakikat pendidikan, ketidakkonsistenan penerapan nilai, serta belum harmonisnya hubungan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Perkembangan teknologi digital dan terputusnya kesinambungan proses belajar atau learning discontinuity juga menjadi tantangan yang harus mendapat perhatian.
Menurut narasumber, persoalan tersebut perlu dijawab dengan memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga, pemerintah, dan masyarakat.
Seminar juga menyoroti masih adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pemisahan tersebut dinilai menghambat proses pendidikan dalam membentuk manusia secara utuh.
Ilmu agama dan ilmu umum semestinya tidak dipertentangkan. Keduanya perlu diintegrasikan agar peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan spiritual dan moral.
Persoalan lain yang disoroti adalah krisis keteladanan, pembelajaran indoktrinatif tanpa pemahaman, serta evaluasi yang terlalu berorientasi pada kemampuan kognitif.
Ketidaksesuaian antara nilai yang diajarkan dan praktik kehidupan sehari-hari juga dapat menghambat pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan akan kehilangan maknanya apabila nilai hanya disampaikan secara teoritis, tetapi tidak diwujudkan dalam perilaku nyata.
Ledia selanjutnya menjelaskan pentingnya menyesuaikan pendidikan dengan tahap perkembangan anak. Setiap jenjang pendidikan memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda.
Jenjang pendidikan anak usia dini merupakan fase bermain. Karena itu, pembelajaran pada tingkat PAUD perlu dilaksanakan melalui pengalaman yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan dunia anak.
Jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama menjadi fase penanaman adab. Sementara itu, pendidikan menengah merupakan tahap pendampingan peserta didik menuju kemandirian dan kedewasaan.
Pendekatan tersebut diperlukan agar pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memperhatikan perkembangan fisik, intelektual, spiritual, emosional, dan sosial peserta didik.
Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Keberhasilan pendidikan, menurut Ledia, hanya dapat diwujudkan melalui sinergi tiga pilar utama, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama. Keluarga menjadi tempat awal bagi anak untuk memperoleh pendidikan nilai, agama, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Sekolah bertugas mengembangkan potensi peserta didik melalui pembelajaran dan lingkungan yang kondusif. Adapun masyarakat menjadi ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai yang telah ditanamkan keluarga dan dikembangkan sekolah.
Ketiga pilar tersebut harus membangun komunikasi dan arah pendidikan yang selaras, terutama ketika peserta didik menghadapi derasnya arus informasi pada era digital.
Dari sisi kelembagaan, seminar menekankan pentingnya tata kelola pendidikan yang profesional dan akuntabel. Pengelolaan lembaga harus dilakukan secara terpadu dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.
Tata kelola tersebut mencakup pengelolaan peserta didik, guru dan tenaga kependidikan, kemitraan dengan orang tua, pemenuhan standar mutu, serta pengembangan sarana dan prasarana.
Pencapaian visi dan misi serta penguatan citra institusi juga menjadi bagian penting dalam membangun lembaga pendidikan yang berkualitas.
Peningkatan mutu perlu dilaksanakan melalui siklus manajemen pendidikan yang dimulai dari asesmen, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, intervensi, hingga pemberian umpan balik.
Siklus tersebut memungkinkan lembaga pendidikan melakukan refleksi dan perbaikan secara berkelanjutan berdasarkan data serta kebutuhan nyata peserta didik.
Catatan Strategis bagi Pendidikan Nasional
Seminar menghasilkan sejumlah catatan strategis untuk pengembangan pendidikan nasional. Salah satunya adalah perlunya meningkatkan profesionalisme pendidik PAUD.
Layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar juga perlu diperkuat untuk mendampingi perkembangan emosional, sosial, dan psikologis peserta didik sejak dini.
Selain itu, komunikasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu semakin diperkuat dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
Penyusunan regulasi pendidikan juga harus didasarkan pada kajian akademik dan analisis yang matang mengenai dampaknya terhadap pembentukan karakter bangsa.
Melalui seminar ini, Program Studi Magister Pendidikan Islam FTK Unisba menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang akademik yang mempertemukan kebijakan pendidikan nasional, pengembangan keilmuan pendidikan Islam, dan praktik pendidikan di lapangan.
Hasil diskusi diharapkan menginspirasi dosen, mahasiswa, alumni, serta praktisi pendidikan untuk mewujudkan sistem pendidikan yang holistik, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan generasi Indonesia yang berkarakter, unggul, serta berdaya saing global.(askur/nmn)***


