PAGI itu, udara Wonogiri terasa sejuk. Di balik hamparan perbukitan yang hijau, sekelompok mahasiswa tampak serius menatap peta wilayah dan catatan di tangan mereka. Mereka bukan sekadar wisatawan akademik, melainkan calon perencana masa depan—mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Islam Bandung (Unisba) yang tengah menapaki pengalaman berharga: kuliah lapangan Studio Perencanaan Wilayah.
Bagi mereka, Wonogiri bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang nyata untuk memahami bagaimana teori perencanaan kota bertemu dengan realitas masyarakat dan tantangan pembangunan daerah.
“Kuliah lapangan seperti ini adalah jantung dari pembelajaran kami,” tutur Dr. Yulia Asyiawati, ST., MT., M.Si., koordinator mata kuliah yang mendampingi langsung para mahasiswa. “Mahasiswa belajar membaca ruang, memahami dinamika sosial, dan menemukan solusi berbasis konteks lokal.”
Kegiatan ini merupakan implementasi dari pembelajaran berbasis proyek (project-based learning)—pendekatan yang menggabungkan keilmuan, nilai keislaman, dan kearifan lokal.
Dalam konteks Wonogiri, pembelajaran ini menjadi lebih hidup karena mahasiswa berhadapan langsung dengan isu nyata: keterbatasan lahan, pengembangan kawasan permukiman, hingga tantangan tata ruang yang berkelanjutan.
Rombongan PWK Unisba disambut hangat oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Wonogiri, Purwadi, S.E., M.E., bersama Kabid Tata Ruang, Sih Wibowo, S.H. di aula Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Wonogiri, Selasa (14/10). Dalam pertemuan itu, diskusi berkembang jauh melampaui teori. Mereka berbicara tentang arah pembangunan daerah, kebijakan ruang, hingga upaya menyeimbangkan pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Tak hanya itu, dukungan juga datang dari Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Wonogiri.
Kepalanya, Heru Utomo, S.H., M.H., menyambut baik kolaborasi ini. “Kami terbuka terhadap ide-ide segar dari perguruan tinggi. Riset dan inovasi kebijakan yang berbasis data menjadi kunci pembangunan daerah,” ujarnya.
Sebanyak 30 mahasiswa PWK Unisba terlibat aktif dalam kegiatan ini, didampingi oleh dosen-dosen pengampu lainnya seperti Very Damayanti, ST., MT., Rose Fatmadewi, S.Si., M.URP., Riswanda Risang Aji, ST., M.URP., dan Lutfhi Ahmad Barwanto, ST., MT.
Mereka terjun langsung ke lapangan, melakukan observasi, wawancara, dan analisis spasial, sembari berdialog dengan masyarakat dan aparat daerah.
Di sela-sela kegiatan, para mahasiswa menyadari satu hal: bahwa perencanaan wilayah bukan hanya soal tata letak bangunan atau zonasi, tapi tentang mewujudkan keseimbangan antara manusia, ruang, dan masa depan.
“Belajar dari Wonogiri mengajarkan kami bahwa setiap keputusan ruang punya dampak sosial yang besar,” ujar salah satu mahasiswa peserta.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri pun memberikan apresiasi terhadap inisiatif Unisba. Kolaborasi seperti ini, menurut mereka, menjadi contoh konkret bagaimana akademisi dapat berkontribusi langsung dalam pembangunan daerah.
Harapannya, hasil studi lapangan ini dapat memberi masukan konstruktif bagi kebijakan tata ruang dan arah pengembangan wilayah Wonogiri ke depan.
Bagi PWK Unisba, kegiatan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari jalinan kemitraan yang lebih luas dengan berbagai pemerintah daerah di Indonesia.
Melalui pendekatan akademik yang kontekstual dan humanis, Unisba ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap kebutuhan ruang hidup masyarakat.
Di bawah langit Wonogiri yang cerah, para mahasiswa itu menutup harinya dengan wajah puas. Di pundak mereka, tersimpan harapan—bahwa dari ruang belajar inilah, akan lahir perencana-perencana muda yang mampu menata masa depan Indonesia dengan ilmu, iman, dan kepekaan sosial.(ask/png)

