MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Hampir satu dekade setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa susu kental manis (SKM) bukan merupakan susu pertumbuhan, persepsi masyarakat Indonesia ternyata masih belum banyak berubah. Hal itu terungkap dalam survei nasional yang dilakukan Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menunjukkan 67,6 persen orang tua masih memberikan susu kental manis kepada balita sebagai pengganti susu pertumbuhan.
Survei yang melibatkan 2.150 orang tua balita dari berbagai daerah di Indonesia tersebut mengungkap masih kuatnya kesalahan persepsi mengenai fungsi susu kental manis dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Temuan ini menjadi perhatian serius karena sebagian besar balita yang menjadi objek penelitian berada pada rentang usia 1–3 tahun, yaitu masa emas pertumbuhan yang membutuhkan asupan protein, vitamin, dan mineral secara optimal.
Yang menarik, mayoritas responden dalam penelitian ini merupakan lulusan sarjana. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan penggunaan susu kental manis bukan hanya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan faktor ekonomi, budaya keluarga, kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, hingga kuatnya pengaruh promosi dan iklan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba yang diketuai Firmansyah, dengan anggota Prof. Septiawan Santana Kurnia, Ahmad Fadhli, Betha Dwi Octaviani, Ridfiadzi Aldreka, dan Khalifia Rahma Nidya.
Ketua Tim Peneliti dari Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba, Firmansyah, mengatakan penelitian ini berangkat dari fenomena masih banyaknya orang tua yang menganggap susu kental manis memiliki manfaat yang sama dengan susu pertumbuhan.
Padahal, menurutnya, produk tersebut memiliki kandungan gula yang tinggi dengan kadar protein dan zat gizi yang relatif rendah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak pada masa tumbuh kembang.
“Kami ingin mengetahui sejauh mana masyarakat memahami kandungan gizi susu kental manis. Persoalan ini penting karena Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan gizi anak, mulai dari stunting, wasting, hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular sejak usia dini,” ujar Firmansyah.
Dokter Anak: Susu Kental Manis Bukan Sumber Nutrisi Balita
Temuan survei tersebut mendapat perhatian dari dokter spesialis anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Viramitha Kusnandi Rusmil, M.Kes., Sp.A., Subsp.NPM(K).
Ia menegaskan bahwa susu kental manis tidak dapat dijadikan sumber nutrisi utama bagi anak karena komposisinya didominasi gula, sementara kandungan protein, vitamin, dan mikronutrien yang dibutuhkan balita sangat terbatas.
“Anak usia satu hingga tiga tahun seharusnya memperoleh susu pertumbuhan atau sumber nutrisi lain yang sesuai dengan kebutuhan gizinya. Susu kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi, tetapi protein dan mikronutriennya sangat rendah,” jelas Viramitha.
Menurutnya, usia satu hingga tiga tahun merupakan fase yang sangat menentukan bagi pertumbuhan tinggi badan, pembentukan jaringan otot, perkembangan organ tubuh, serta perkembangan fungsi otak.
Ia menambahkan bahwa salah satu nutrisi paling penting pada periode tersebut adalah protein berkualitas tinggi yang mengandung asam amino esensial. Meskipun protein susu sapi dikenal baik untuk mendukung pertumbuhan anak, kandungan protein dalam susu kental manis tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Hasil Kolaborasi Riset dan Jurnalisme Presisi
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara Tim Peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba dengan Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) sebagai implementasi konsep jurnalisme presisi.
Pendekatan tersebut menggabungkan metode ilmiah, survei, analisis statistik, dan pengolahan data dalam proses peliputan sehingga menghasilkan informasi yang lebih akurat, objektif, mendalam, dan berbasis bukti.
Melalui hasil penelitian ini, tim peneliti berharap masyarakat semakin memahami perbedaan antara susu pertumbuhan dan susu kental manis, sehingga orang tua dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam memenuhi kebutuhan gizi anak pada masa emas pertumbuhan serta membantu menekan risiko stunting, wasting, dan berbagai gangguan kesehatan di masa mendatang.(askur/nmn)***


