MEDIA=KAMPUS.COM (NMN) — Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) bagi 86 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mengikuti sertifikasi dalam tiga skema profesi, Senin, 27 Juli 2026.
Uji kompetensi yang berlangsung di Kampus Unisba, Jalan Tamansari Nomor 1, Kota Bandung, tersebut terlaksana melalui kolaborasi Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1) Unisba dengan LSP Public Relations Indonesia (LSPPRI) Jakarta dan LSP Komunikasi dan Siaran Indonesia (LSP Komsindo) Jakarta.
Tiga skema yang diujikan adalah Reporter, Continuity Presenter, dan Junior Public Relations Officer (JPRO). Dari seluruh peserta, lima mahasiswa memilih skema Reporter, 24 mahasiswa mengikuti skema Continuity Presenter, dan 57 mahasiswa menjalani asesmen skema JPRO.
LSP Komsindo bertanggung jawab melaksanakan uji kompetensi untuk skema Reporter dan Continuity Presenter. Sementara itu, asesmen skema JPRO diselenggarakan oleh LSPPRI Jakarta. Dalam kolaborasi tersebut, LSP Unisba menyediakan dan memfasilitasi TUK, sedangkan proses uji kompetensi menjadi kewenangan masing-masing LSP P3.
Acara pembukaan dipusatkan di Aula Unisba dan diikuti oleh seluruh peserta. Setelah pembukaan, peserta JPRO menjalani asesmen di aula. Adapun pengujian skema Reporter dan Continuity Presenter dilaksanakan di Laboratorium Radio Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba.
Kolaborasi LSP P1 dan LSP P3 Buka Peluang Lebih Luas
Ketua LSP Unisba, Dr. Ani Yuningasih, M.Si., mengapresiasi kolaborasi yang terbangun antara LSP Unisba, LSPPRI, dan LSP Komsindo. Menurutnya, sinergi tersebut memberikan manfaat penting, terutama dalam memperluas pilihan sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa.
LSP P1 pada umumnya dibentuk oleh lembaga pendidikan untuk melaksanakan sertifikasi bagi peserta didik di lingkungan lembaga tersebut. Sementara LSP P3 didirikan oleh asosiasi profesi dengan jangkauan sertifikasi lebih luas serta berorientasi pada kebutuhan profesi dan dunia kerja.
Perbedaan karakteristik kedua jenis lembaga sertifikasi itu dinilai dapat saling melengkapi. Mahasiswa tidak hanya memperoleh kesempatan menguji kemampuan akademiknya, tetapi juga dapat mengikuti sertifikasi yang memiliki keterkaitan langsung dengan standar dan kebutuhan industri.
Ani menilai kerja sama antarlembaga sertifikasi merupakan langkah positif untuk memperluas akses mahasiswa terhadap pengakuan kompetensi profesional. Melalui proses tersebut, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan dapat dinilai menggunakan standar kompetensi yang berlaku dalam bidang profesi terkait.
Sertifikat kompetensi juga dapat menjadi bukti bahwa mahasiswa telah melalui proses asesmen untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerjanya.
Enam Asesor Terlibat dalam Skema JPRO
Manajer Sertifikasi LSPPRI Jakarta, Dr. Maylanny Christin, mengaku senang dan antusias dapat berkolaborasi dengan LSP Unisba. Ia menilai Unisba memiliki pengalaman dalam memfasilitasi pelaksanaan uji kompetensi bidang Public Relations.
Sekitar enam asesor bidang Public Relations dilibatkan untuk menguji peserta skema JPRO. Para asesor tersebut telah memiliki pengalaman melakukan asesmen kompetensi mahasiswa, termasuk terhadap mahasiswa Fikom Unisba dan UPI.
Maylanny menilai peserta mampu memperlihatkan penguasaan materi yang baik selama asesmen. Hal itu terlihat ketika mereka menjelaskan berbagai materi secara terperinci dan menghubungkannya dengan mata kuliah yang dipelajari di kampus.
“Mereka cukup serius dan profesional dalam menyiapkan portofolio yang ditugaskan oleh panitia,” ujar Maylanny.
Portofolio merupakan salah satu komponen penting dalam uji kompetensi. Melalui portofolio, peserta dapat memperlihatkan bukti pekerjaan, pengalaman, serta kemampuan yang relevan dengan skema sertifikasi yang dipilih.
Dokumen tersebut juga membantu asesor menilai hubungan antara pengetahuan akademik yang dikuasai peserta dan kemampuan mereka menerapkannya dalam pekerjaan yang sesungguhnya.
Sejumlah Peserta Telah Memiliki Pengalaman Praktis
Manajer Mutu LSP Komsindo, Hari Setiawan, turut menyambut baik kerja sama dengan LSP Unisba. Kolaborasi tersebut menjadi pengalaman pertama bagi LSP Komsindo dalam menjalin kerja sama dengan LSP P1.
“Untuk kerja sama dengan LSP Unisba, kami menggunakan TUK LSP Unisba dalam menyelenggarakan uji kompetensi. Selain itu, kami juga biasa melakukan kerja sama pelatihan. Penyelenggaraan pelatihannya dilakukan pihak kedua, kemudian uji kompetensinya oleh LSP kami karena LSP tidak diperbolehkan menyelenggarakan pelatihan,” ungkap Hari.
Menurut Hari, peserta skema Reporter dan Continuity Presenter secara umum telah menunjukkan penguasaan kompetensi yang cukup baik. Beberapa peserta bahkan telah mempunyai pengalaman bekerja di lembaga penyiaran maupun berkegiatan sebagai kreator konten.
Pengalaman praktis tersebut menjadi modal berharga bagi peserta dalam menjalani asesmen. Selain dituntut memahami materi secara konseptual, mereka harus mampu memperlihatkan keterampilan yang sesuai dengan karakter pekerjaan pada masing-masing skema.
Peserta skema Reporter diuji dalam sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan pekerjaan jurnalistik. Pada skema Continuity Presenter, penilaian diarahkan pada kemampuan penyiaran dan penyajian program. Sementara skema JPRO digunakan untuk mengukur kompetensi dasar yang diperlukan dalam menjalankan pekerjaan kehumasan.
Pelaksanaan uji kompetensi ini menjadi salah satu upaya menjembatani pembelajaran di perguruan tinggi dengan standar kompetensi dunia profesi. Melalui proses asesmen, mahasiswa memperoleh ruang untuk membuktikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang dibangun selama menempuh pendidikan maupun melalui pengalaman praktis.(askur/nmn)***


