MEDIA-KAMPUS.COM – Menyambut fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi Selasa (3/3/2026), Universitas Islam Bandung (Unisba) mengadakan kegiatan Simulasi Samagaha Bulan dan praktik fikih Salat Gerhana. Agenda ini digelar melalui Lembaga Peningkatan Insan Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (LPI3M) bekerja sama dengan Fakultas Syari’ah serta Observatorium Albiruni.
Kegiatan berlangsung di Masjid Al-Asy’ari Unisba dan Observatorium Albiruni mulai pukul 17.00 WIB hingga selesai. Acara ini menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan penguatan literasi sains di lingkungan sivitas akademika maupun masyarakat umum.
Rangkaian kegiatan diawali dengan simulasi tata cara pelaksanaan Salat Gerhana sebagai bentuk edukasi praktik ibadah. Selanjutnya, peserta mengikuti buka puasa bersama, Salat Magrib berjamaah, pelaksanaan Salat Gerhana (samagaha), hingga ditutup dengan Salat Isya dan Tarawih.
Berdasarkan data astronomi, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 melewati sejumlah fase penting, yaitu:
-
Awal kontak penumbra (P1) pukul 15.44.19 WIB
-
Awal kontak umbra (U1) pukul 16.50.04 WIB
-
Awal fase total (U2) pukul 18.04.29 WIB
-
Puncak gerhana pukul 18.33.40 WIB
-
Akhir fase total pukul 19.02.51 WIB
-
Akhir kontak umbra (U4) pukul 20.17.16 WIB
-
Akhir kontak penumbra (P4) pukul 21.23.01 WIB
Momentum ini tidak hanya menjadi ajang observasi astronomi, tetapi juga sarana penguatan spiritual melalui ibadah yang dianjurkan dalam syariat Islam.
Momentum Ilmiah dan Spiritual
Ketua LPI3M Unisba, Dr. Parihat, Dra., M.Si., menegaskan bahwa samagaha bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum ilmiah sekaligus spiritual. Ia mengingatkan bahwa dalam sabda Rasulullah SAW disebutkan matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Menurutnya, fenomena gerhana perlu disikapi tidak hanya dengan pengamatan ilmiah, tetapi juga melalui ibadah seperti Salat Gerhana, khotbah, memperbanyak sedekah, serta refleksi keimanan.
Kolaborasi antara Fakultas Syari’ah dan LPI3M dinilai sebagai bentuk nyata integrasi keilmuan—memadukan dimensi sains dan iman, observasi dan ibadah, serta teori dan praktik. Keberadaan Observatorium Albiruni dan Masjid Al-Asy’ari menjadi simbol bahwa ilmu falak bukan sekadar perhitungan astronomi, melainkan jalan menuju ketundukan kepada Allah SWT.
“Sains menghadirkan kekaguman, iman menghadirkan ketundukan. Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah insan yang cerdas sekaligus berkesadaran spiritual,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Syari’ah Unisba, Dr. N. Eva Fauziah, Dra., M.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Ilmu Falak yang terintegrasi dengan praktik ibadah. Observatorium Albiruni tidak hanya menjadi laboratorium akademik, tetapi juga sarana literasi publik.
Ia menambahkan, pada masa Nabi Muhammad SAW, gerhana sempat dipahami sebagai fenomena mistis. Namun Rasulullah meluruskan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah, bukan terkait kematian atau kelahiran seseorang. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, sedekah, dan melaksanakan Salat Gerhana ketika fenomena tersebut terjadi.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan ciri khas Unisba sebagai perguruan tinggi Islam yang mampu memadukan kajian teoretis dan kedalaman spiritual dalam satu kesatuan pembelajaran.
Dengan adanya simulasi samagaha ini, Unisba berharap fenomena Gerhana Bulan Total tidak hanya menjadi peristiwa astronomi, tetapi juga momentum refleksi dan penguatan keimanan bagi seluruh peserta.(ask/png)***


