MEDIA-KAMPUS.COM – Universitas Islam Bandung (Unisba) terus memperkokoh sistem tata kelola kelembagaan dengan menggelar Sosialisasi Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Implementasi Manajemen Risiko. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (4/2) di Aula Pascasarjana Unisba dan diikuti para dekan, wakil dekan, serta ketua program studi di lingkungan kampus.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Unisba dalam membangun sistem pengelolaan perguruan tinggi yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel.
Rektor Unisba, A. Harits Nu’man, secara resmi membuka acara sekaligus memberikan apresiasi atas terselenggaranya sosialisasi tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran SPI merupakan komitmen bersama dalam memperbaiki dan memperkuat tata kelola universitas.
Menurutnya, SPI berperan penting dalam membantu unit kerja memahami proses identifikasi hingga mitigasi risiko, baik di tingkat fakultas maupun program studi.
“SPI hadir untuk memperkuat tata kelola universitas. Melalui kegiatan ini, kita diarahkan memahami langkah-langkah pengelolaan risiko di setiap unit,” ujarnya.
Rektor juga menekankan pentingnya perencanaan matang serta evaluasi berkelanjutan pada setiap program kerja. Pendekatan ini dinilai krusial agar mutu institusi terus meningkat dari waktu ke waktu. Manajemen risiko, lanjutnya, menjadi instrumen strategis untuk mengantisipasi berbagai potensi hambatan yang dapat memengaruhi kinerja kampus.
Ia menjelaskan bahwa SPI Unisba berfokus pada pengawasan risiko non-akademik, khususnya pada aspek tata kelola manajemen. Sementara pengawasan lainnya telah dijalankan oleh yayasan dan unit terkait sesuai kewenangan masing-masing.
Sementara itu, Kepala Satuan Pengawasan Internal Unisba, Nan Rahminawati, menyampaikan bahwa sosialisasi ini bertujuan menyamakan persepsi pimpinan fakultas dan program studi dalam mengelola risiko kelembagaan secara terstruktur.
“Kami ingin para dekan dan ketua program studi memiliki pemahaman yang sama agar pengelolaan risiko dapat dilakukan secara sistematis dan profesional,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagai perguruan tinggi dengan predikat akreditasi Unggul, Unisba perlu terus memperkuat sistem tata kelola, termasuk pada aspek manajemen risiko. SPI pun berkomitmen mengawal kinerja institusi agar selaras dengan regulasi yang berlaku.
Dalam praktiknya, SPI menangani risiko non-akademik, sedangkan pengendalian mutu akademik berada di bawah Badan Penjaminan Mutu (BPM). Adapun pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, serta aset menjadi kewenangan badan pengelola, sehingga kolaborasi antarunit menjadi kunci keberhasilan tata kelola kampus.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber kompeten. Materi pertama disampaikan oleh Budi Purwanto dari IPB University yang membahas konsep dan implementasi manajemen risiko di perguruan tinggi. Selanjutnya, Asni Mustika Rani memaparkan teknis penyusunan risk register, mulai dari tahap identifikasi hingga evaluasi risiko. Sesi terakhir diisi oleh Ratna Januarita yang menyoroti urgensi manajemen risiko dalam mendukung keberlanjutan tata kelola Unisba.
Melalui sosialisasi ini, Unisba berharap seluruh pimpinan unit mampu menerapkan manajemen risiko secara konsisten demi terciptanya pengelolaan kampus yang semakin efektif, adaptif, dan berdaya saing.(ask/png)


