MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Pada 8–9 Agustus 2026, tim dosen FK Unisba melaksanakan kegiatan di Kampung Wangun, Desa Karya Mukti, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung dengan mengusung tema “Hilirisasi Tanaman Obat melalui Teknologi Pengeringan Sederhana untuk Meningkatkan Kemandirian dan Nilai Ekonomi Petani Kampung Wangun.”
Program ini berangkat dari besarnya potensi tanaman obat yang dimiliki Kampung Wangun. Kawasan tersebut memiliki lahan yang sangat mendukung pengembangan berbagai jenis tanaman herbal, sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap bahan baku obat tradisional dan pangan fungsional berbasis alam.
Sayangnya, potensi tersebut belum mampu memberikan nilai ekonomi yang maksimal. Sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam kondisi segar sehingga masa simpannya terbatas dan kualitasnya mudah menurun setelah dipanen. Selain itu, masyarakat juga masih menghadapi keterbatasan pengetahuan mengenai hilirisasi tanaman obat, teknologi pengolahan pascapanen, serta strategi pengembangan produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Menjawab tantangan tersebut, Tim PKM FK Unisba menghadirkan program pemberdayaan yang menggabungkan edukasi dan praktik langsung. Kegiatan meliputi penyuluhan tentang peluang ekonomi tanaman obat, pelatihan pengolahan pascapanen, penerapan teknologi pengeringan sederhana, peningkatan pemahaman mengenai mutu dan keamanan bahan baku, hingga penguatan kapasitas kewirausahaan kelompok tani.
Kegiatan ini diketuai Dr. Lelly Yuniarti, S.Si., M.Kes. bersama anggota Dr. Noormartani, dr., M.Kes., Eka Hendryanny, dr., M.Kes., dan Widayanti, dr., M.Kes. Program tersebut sekaligus menjadi implementasi integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang Farmakologi dan Naturopati di lingkungan Fakultas Kedokteran Unisba.
Teknologi Pengeringan Jadi Solusi Pascapanen
Salah satu materi utama dalam PKM adalah pengenalan teknologi pengeringan sederhana sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas hasil panen tanaman obat. Teknologi ini dinilai mudah diterapkan masyarakat dan mampu memperpanjang daya simpan bahan, mempermudah proses penyimpanan maupun pengemasan, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk herbal.
Peserta memperoleh pelatihan mulai dari pemilihan bahan baku, proses sortasi, pencucian, pemotongan, teknik pengeringan, penyimpanan, hingga pengemasan. Tim juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan, standar mutu, dan konsistensi proses agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik.
Pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung. Metode ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengoperasikan setiap tahapan pengolahan tanaman obat secara mandiri.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Tim PKM FK Unisba menyerahkan satu unit mesin pengering sederhana kepada pengurus RT dan Kelompok Tani Hurip Barokah.
Mesin tersebut diharapkan menjadi sarana bersama dalam mengolah hasil panen tanaman obat sehingga proses pengeringan menjadi lebih efisien, kualitas bahan baku lebih terjaga, risiko kerusakan pascapanen dapat ditekan, serta menghasilkan produk herbal kering yang lebih seragam.
Penyerahan mesin tidak sekadar berupa bantuan peralatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses alih teknologi kepada masyarakat. Sebelum alat digunakan, peserta memperoleh pelatihan mengenai teknik pengoperasian, pengaturan proses pengeringan, perawatan mesin, hingga aspek keselamatan kerja.
Dengan demikian, mesin pengering diharapkan mampu menjadi aset produktif kelompok tani sekaligus memperkuat keberlanjutan program hilirisasi tanaman obat di Kampung Wangun.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, program PKM juga bertujuan mengubah pola pikir masyarakat agar tanaman obat tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.
Tim PKM membekali peserta dengan pengetahuan mengenai kewirausahaan, teknik pengemasan, pengembangan produk, hingga pembentukan unit usaha kelompok. Melalui pendekatan tersebut, Kelompok Tani Hurip Barokah didorong untuk mengembangkan kegiatan produksi secara kolektif sehingga teknologi dan keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Keberadaan mesin pengering menjadi modal awal untuk membangun usaha berbasis tanaman obat. Pengelolaan alat secara bersama diharapkan memperkuat kelembagaan kelompok, meningkatkan tanggung jawab terhadap aset bersama, sekaligus memperbesar peluang berkembangnya ekonomi produktif di tingkat desa.
Dalam jangka panjang, kelompok tani diharapkan mampu menghasilkan bahan baku tanaman obat kering yang lebih terstandar, meningkatkan kualitas kemasan, memperluas jaringan pemasaran, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak.
Monitoring, Evaluasi, dan Buku Saku Pendamping
Untuk memastikan keberhasilan program, Tim PKM FK Unisba juga melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap peningkatan pengetahuan peserta, keterampilan teknis, kemampuan menggunakan mesin pengering, hingga kesiapan masyarakat membangun usaha berbasis tanaman obat.
Keberhasilan program diharapkan tercermin dari meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai hilirisasi tanaman obat, bertambahnya keterampilan pengolahan pascapanen, optimalnya pemanfaatan mesin pengering, terbentuknya unit usaha kelompok, serta meningkatnya nilai ekonomi produk herbal yang dihasilkan.
Sebagai pendukung keberlanjutan program, peserta juga memperoleh buku saku yang berisi panduan praktis mengenai pengolahan tanaman obat. Buku tersebut diharapkan menjadi referensi yang dapat digunakan masyarakat dalam mengembangkan usaha secara mandiri setelah kegiatan PKM selesai.
Program ini merupakan bagian dari unggulan Pengabdian kepada Masyarakat FK Unisba dalam pemanfaatan material alam untuk kesehatan. Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata hilirisasi hasil pendidikan dan penelitian perguruan tinggi agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Melalui penerapan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, petani diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan mutu produk, serta memperbesar nilai jual tanaman obat. Dengan dukungan mesin pengering dan pendampingan berkelanjutan, tanaman herbal tidak lagi hanya dipasarkan sebagai komoditas segar, tetapi dapat berkembang menjadi bahan baku herbal kering yang memiliki kualitas lebih baik dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Kolaborasi antara FK Unisba, pengurus RT, dan Kelompok Tani Hurip Barokah diharapkan menjadi fondasi lahirnya sentra tanaman obat berbasis potensi lokal di Kampung Wangun. Langkah ini tidak hanya membuka peluang peningkatan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat dalam membangun ekonomi desa yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (askur/nmn)***


