DI sebuah ballroom megah di jantung Jakarta, tepuk tangan bergema ketika nama Universitas Islam Bandung (Unisba) disebut sebagai Juara 2 Mandaya Awards 2025 kategori Perguruan Tinggi Swasta. Di antara sorot lampu dan senyum bahagia, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. melangkah mantap menerima penghargaan dari Menko PM Dr. (H.C.) A Muhaimin Iskandar.
Namun, di balik panggung penghargaan itu, ada kisah yang jauh lebih menyentuh: kisah tentang masyarakat desa yang perlahan bangkit dari jerat rentenir, dan kampus Islam yang tak hanya mengajar tapi benar-benar hadir bagi mereka.
Dari Desa Kecil ke Agenda Nasional
Program “Lembur Hibar” (Hidup Bebas Rentenir) lahir bukan dari ruang ber-AC atau ruang seminar, melainkan dari keprihatinan seorang dosen Unisba, Weishaguna, S.T., M.M., yang menyaksikan langsung beratnya beban masyarakat desa akibat praktik pinjaman berbunga tinggi.
Dari situ, ia menginisiasi gerakan sosial yang sederhana tapi berdampak: mengajak warga untuk menata kembali ekonomi mereka, saling bantu, dan saling percaya.
Melalui dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisba), program ini berkembang menjadi model pemberdayaan yang unik. Warga tak hanya belajar mengelola keuangan tanpa rentenir, tapi juga diajak membangun solidaritas dengan prinsip 3R khas Sunda: ririungan (berkumpul), rereongan (saling bantu), dan rerejengan (bekerja bersama).
Kini, semangat itu hidup dalam wujud nyata seperti Koperasi Merah Putih, wadah ekonomi gotong royong yang menjaga warga tetap mandiri tanpa terjebak utang berbunga tinggi.
Tri Dharma yang Menyentuh Kehidupan
Bagi Prof. Harits, penghargaan ini bukan sekadar trofi atau piagam. Ia melihatnya sebagai bentuk pengakuan bahwa nilai-nilai Islam dan Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa berpadu indah dan berdampak nyata bagi kehidupan.
“Syukur alhamdulillah, pemerintah memberi apresiasi kepada kampus yang tak hanya mengajar, tapi menggerakkan. Pemberdayaan ini bukan proyek sesaat, melainkan perjalanan panjang yang kami tekuni dengan sabar,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Unisba memang bukan kampus yang mengejar sensasi, melainkan substansi. Di balik dinding kampus yang sejuk, para dosen dan mahasiswa bekerja dalam diam — mendampingi warga, meneliti persoalan sosial, lalu menerjemahkannya menjadi solusi nyata.
Unisba percaya, ilmu pengetahuan tak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus turun ke sawah, ke warung, ke masjid, ke tempat-tempat di mana masyarakat menanti perubahan.
“Unisba ingin menjadi bagian dari masyarakat, bukan sekadar penonton. Kami ingin menjadi ragi — agen perubahan yang memberi nilai tambah,” tegas Prof. Harits.
Melalui Lembur Hibar, Unisba menegaskan identitasnya sebagai kampus Islam yang tak hanya melahirkan intelektual, tapi juga insan berjiwa sosial dan spiritual.
Dari Bandung, semangat itu kini bergema ke tingkat nasional — membawa pesan bahwa pendidikan tinggi sejati bukan hanya tentang mencetak sarjana, tetapi juga menumbuhkan harapan dan menguatkan kehidupan.
Mandaya Awards 2025 mungkin telah usai. Tapi bagi Unisba, perjalanan baru saja dimulai — perjalanan untuk terus menebarkan cahaya, satu desa, satu hati, satu perubahan pada satu waktu.(ask/png)


