KEGAGALAN tidak selalu menjadi tanda berakhirnya perjuangan. Bagi Nizar Nurzaman Gunawan, pengalaman tidak lolos babak final Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) justru menjadi pemicu untuk terus belajar dan menghasilkan karya.
Kini, mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) tersebut telah membawa pengalaman penelitiannya hingga ke Korea Selatan. Riset mengenai potensi senyawa dari jamur untuk kanker payudara mengantarkan Nizar mengikuti Korea Science and Engineering Fair (KSEF) 2025.
Pengalaman itu juga menjadi salah satu capaian yang mendukung keberhasilannya meraih Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Unisba kategori riset.
Beasiswa 3M Unisba merupakan bagian dari upaya universitas dalam mendukung lahirnya generasi yang memiliki karakter Islami, kemampuan intelektual, daya saing global, dan kepedulian terhadap kemajuan masyarakat.
Nilai Mujahid menggambarkan semangat perjuangan, Mujtahid mencerminkan kemampuan intelektual, sedangkan Mujaddid melambangkan semangat pembaruan. Ketiganya menjadi dasar dalam mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus menghadirkan kontribusi melalui ilmu dan karya.
Dari Tasikmalaya, Nizar Mulai Mengenal Dunia Riset
Perjalanan Nizar dalam dunia penelitian dimulai ketika ia masih menjadi siswa SMA Al Muttaqin Kota Tasikmalaya. Saat itu, ia mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Langkahnya belum berhasil mencapai babak final. Namun, pengalaman tersebut justru memberikan pelajaran penting bagi Nizar. Ia terdorong untuk mengevaluasi diri, memperkuat kemampuan, dan mencari peluang lain untuk mengembangkan minatnya dalam penelitian.
Kesempatan berikutnya hadir ketika Nizar memperoleh informasi tentang Korea Science and Engineering Fair (KSEF) 2025, kompetisi penelitian internasional yang berlangsung di Korea Selatan.
Bersama seorang rekannya, Nizar kembali menyiapkan penelitian dengan memanfaatkan pengalaman mengikuti OPSI dan pembinaan yang didapatkan selama berada di sekolah.
“Dari kegagalan itu mulai tumbuh semangat dan jiwa kompetisi saya untuk terus berprestasi,” ujar Nizar.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui penelitian berjudul “Potential Secondary Metabolites of The Fungus Trichoderma sp. As A Biological Agent Candidate for Breast Cancer: In Vitro and In Silico Approach”.
Penelitian Nizar dan tim berfokus pada eksplorasi senyawa metabolit sekunder dari jamur Trichoderma sp. sebagai kandidat agen biologis untuk kanker payudara.
Objek penelitian tersebut memiliki keunikan tersendiri karena jamur Trichoderma sp. dapat ditemukan di lingkungan sekitar, termasuk pada area pepohonan pisang.
Untuk mengembangkan kajian tersebut, Nizar dan tim menggunakan pendekatan in vitro serta in silico. Dalam pendekatan in vitro, Artemia salina atau brine shrimp digunakan untuk menguji toksisitas senyawa yang diteliti.
Sementara itu, pendekatan in silico meliputi analisis farmakokinetik dan molecular docking. Analisis ini digunakan untuk melihat kemungkinan interaksi senyawa dengan target protein yang berhubungan dengan kanker payudara.
Meski telah dibawa ke ajang penelitian internasional, Nizar menjelaskan bahwa riset tersebut masih berada pada tahap analisis. Penelitian itu belum menghasilkan obat yang dapat langsung digunakan oleh manusia.
“Masih perlu waktu untuk dikembangkan sehingga nantinya bisa menjadi kandidat obat yang efektif untuk mengurangi pertumbuhan kanker payudara,” katanya.
Dengan demikian, penelitian tersebut masih membutuhkan pengembangan dan kajian lebih lanjut sebelum dapat diarahkan pada penerapan medis.
Beasiswa 3M Menjadi Dukungan untuk Melanjutkan Prestasi
Capaian penelitian yang diraih sejak bangku SMA turut menjadi bagian dari perjalanan Nizar dalam memperoleh Beasiswa 3M Unisba kategori riset.
Setelah menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba, ia ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan pengalaman penelitiannya.
Bagi Nizar, beasiswa memiliki arti penting karena pendidikan kedokteran membutuhkan dukungan biaya yang tidak sedikit. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban orang tua sekaligus memberinya ruang untuk mempertahankan dan mengembangkan prestasi.
Namun, ia tidak memandang beasiswa hanya sebagai bantuan pembiayaan pendidikan. Nizar ingin capaian yang telah diperolehnya dapat dikembangkan dan dibagikan kepada orang lain.
“Saya ingin prestasi yang saya punya bisa dikembangkan dan dipublikasikan, sehingga bisa memberikan motivasi bagi orang lain untuk mengikuti jejak saya.”
Ia juga berharap Unisba terus menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah potensi melalui penelitian, organisasi, dan berbagai kompetisi.
Keputusan Nizar memilih Fakultas Kedokteran tidak terlepas dari pengalaman hidupnya. Ia berasal dari Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, dan sejak kecil melihat sejumlah masyarakat di daerahnya masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
Sebagian warga harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik. Kondisi tersebut kemudian menumbuhkan keinginan Nizar untuk menjadi dokter dan ikut berkontribusi dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.
Unisba menjadi pilihannya karena reputasi Fakultas Kedokteran serta kiprah para alumninya yang telah mengabdi di berbagai wilayah. Nizar melihat banyak alumni FK Unisba yang memperoleh penilaian positif dari masyarakat.
Kini, ia ingin melanjutkan pengalaman riset internasional tersebut dalam kehidupan akademik di kampus. Nizar menargetkan dapat menyelesaikan pendidikan kedokteran tepat waktu dengan pencapaian akademik terbaik.
Menyiapkan Pengembangan Diri di Lingkungan Kampus
Selain mengikuti perkuliahan, Nizar juga mulai diarahkan untuk mengembangkan diri melalui kegiatan organisasi dan penelitian.
Ia berencana melanjutkan aktivitas melalui BEM Fakultas Kedokteran. Di bidang akademik, Nizar juga ingin mengembangkan kemampuan penelitian melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Menurutnya, ruang pengembangan diri di kampus dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pengalaman, meningkatkan kemampuan, dan menjalin kolaborasi dengan mahasiswa lainnya.
Untuk rencana berikutnya, Nizar ingin mengembangkan penelitian yang telah dilakukan, termasuk kemungkinan kajian lanjutan mengenai kandidat obat. Ia juga tertarik meneliti bidang saraf dan berbagai persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Perjalanan Nizar menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu diperoleh melalui jalan yang mudah. Kegagalan mengikuti OPSI justru menjadi pengalaman yang mendorongnya untuk mencoba kembali hingga memperoleh kesempatan tampil dalam kompetisi penelitian internasional di Korea Selatan.
Dari pengalaman tersebut, Nizar mengajak pelajar dan mahasiswa yang memiliki potensi, tetapi merasa terhambat oleh keadaan, agar tidak takut untuk mencoba.
“Percayalah bahwa segala sesuatu itu pasti ada jalannya. Mau kita jatuh sekalipun, tentu pasti ada titik terangnya.”
Bagi Nizar, potensi perlu dikembangkan melalui perjuangan, sedangkan kesempatan harus dijemput dengan keberanian. Kegagalan bukan selalu penanda berakhirnya sebuah perjalanan, melainkan dapat menjadi bagian dari proses menuju peluang yang lebih luas.
Dari Cikatomas menuju Fakultas Kedokteran Unisba, Nizar membawa harapan untuk terus belajar dan melakukan penelitian. Ia ingin kelak menjadi dokter yang tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi melalui ilmu pengetahuan dan riset.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah karya dapat tumbuh dari rasa ingin tahu, ketekunan, dan keberanian untuk bangkit setelah mengalami kegagalan.(askur/nmn)***


