MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Bandung (Unisba) menghadirkan perspektif pendidikan internasional melalui kegiatan Studium Generale bertajuk “Prophetic Pedagogy: Educating with Love, Compassion and Purpose”.
Kegiatan yang digelar Early Childhood Program FTK Unisba tersebut berlangsung Jumat (2/10/2026) di Auditorium Lantai 8 Gedung Dekanat FTK Unisba. Forum akademik ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk memperluas pemahaman mengenai pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan kompetensi akademik dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Studium Generale yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB menghadirkan Edris Khamissa, konsultan pendidikan dan pengembangan manusia dari Afrika Selatan, sebagai keynote speaker. Kehadiran pakar pendidikan dari Afrika Selatan ini memberikan warna baru sekaligus wawasan global bagi mahasiswa FTK Unisba dalam melihat perkembangan dunia pendidikan.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Dekan FTK Unisba Prof. Dr. Nan Rahminawati, Dra., M.Pd. Dalam kesempatan itu, FTK Unisba menegaskan pentingnya membekali mahasiswa calon pendidik dengan wawasan internasional. Langkah tersebut dinilai penting agar calon guru mampu menghadapi dinamika serta tantangan pendidikan yang terus berkembang di tengah perubahan zaman.
Tekankan Pendidikan Berbasis Cinta dan Keteladanan
Konsep Prophetic Pedagogy menjadi pembahasan utama dalam Studium Generale tersebut. Pendekatan ini menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga sebagai proses membangun karakter dan kepribadian peserta didik.
Nilai cinta, kasih sayang, keteladanan, kepedulian, serta orientasi terhadap tujuan yang bermakna menjadi bagian penting dalam konsep pendidikan tersebut. Dengan pendekatan demikian, proses belajar diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap perkembangan peserta didik sebagai manusia.
Dalam paparannya, Edris Khamissa mengajak para peserta memandang pendidikan sebagai proses pembentukan manusia secara utuh. Guru, menurut perspektif yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tidak sebatas bertugas menyampaikan pengetahuan dan materi pembelajaran.
Lebih dari itu, pendidik memiliki tanggung jawab membangun hubungan yang positif dengan peserta didik melalui empati, perhatian, keteladanan, dan kepedulian. Relasi pendidikan yang sehat diharapkan mampu menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna serta memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan peserta didik.
Perspektif tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan anak usia dini. Pada fase perkembangan ini, pengalaman yang diperoleh anak selama mengikuti proses pembelajaran turut berperan dalam membentuk karakter, kemampuan sosial dan emosional, rasa percaya diri, serta cara anak berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
idikan yang lebih luas dan terbuka terhadap berbagai praktik pendidikan internasional. Namun, keterbukaan terhadap perspektif global tetap diarahkan agar berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan keteladanan sebagai fondasi pendidikan.
Kehadiran Edris Khamissa juga menjadi bagian dari langkah FTK Unisba dalam memperluas jejaring akademik dan membuka ruang pertukaran pengetahuan lintas negara. Pertemuan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi peluang kerja sama dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, penelitian, serta pengembangan kompetensi pendidik.
Studium Generale ini sekaligus menegaskan komitmen FTK Unisba untuk terus mengembangkan pendidikan yang humanis, berkarakter, dan berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh.
Pesan “Educating with Love, Compassion and Purpose” menjadi inti kegiatan tersebut. Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berbicara tentang proses transfer pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan cinta, kasih sayang, keteladanan, kepedulian, dan tujuan yang bermakna dalam membentuk generasi masa depan. (askur/NMN)***


