MEDIA-KAMPUS.COM — Di lantai delapan Gedung Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung (FEB Unisba), suasana Sabtu itu terasa berbeda. Di antara layar Zoom yang menyala dan diskusi yang hangat, para akademisi, praktisi industri, dan alumni duduk bersama. Mereka tak sekadar berbicara tentang teori atau administrasi kampus—mereka sedang menenun masa depan pendidikan manajemen yang lebih relevan, adaptif, dan berdaya saing.
Tema kegiatan itu sederhana namun penuh makna: “Penyusunan Kurikulum Program Studi yang Link and Match dengan Dunia Industri dan Perkembangan Teknologi Informasi.” Lewat forum Focus Group Discussion (FGD) ini, FEB Unisba berusaha memastikan bahwa kurikulum Program Studi Manajemen, dari jenjang S1 hingga S3, benar-benar selaras dengan denyut kehidupan dunia kerja dan teknologi digital yang terus berubah.
Acara dibuka oleh Prof. Dr. Nunung Nurhayati, S.E., M.Si., Ak., CA., CTT., Dekan FEB Unisba, yang dengan nada penuh keyakinan menyampaikan pesan penting:
“Kurikulum yang adaptif adalah kunci agar lulusan kita tak hanya unggul di kelas, tapi juga mampu menaklukkan tantangan dunia kerja dan teknologi yang terus berevolusi,” ujarnya.
Nunung berbicara bukan sekadar sebagai akademisi, melainkan sebagai seorang pendidik yang ingin memastikan setiap mahasiswa Unisba bisa berdiri tegak di tengah arus perubahan zaman.
Di ruang yang sama, para Ketua Program Studi hadir dengan semangat yang sama, meski dengan pendekatan berbeda.
Dr. Handri, S.E., M.M., Kaprodi S1 Manajemen, menuturkan bahwa mahasiswa kini tak cukup hanya diajarkan teori. Mereka harus dilatih berpikir kreatif, berani berinovasi, dan siap menjadi entrepreneur yang membawa perubahan.
“Mahasiswa perlu punya entrepreneurial mindset—bukan sekadar memahami bisnis, tapi juga menciptakannya,” katanya mantap.
Sementara Dr. Dede R. Oktini, S.E., M.P., Kaprodi Magister Manajemen (S2), berbicara dengan nada yang lebih analitis. Ia menjelaskan bahwa kurikulum S2 kini diarahkan pada kemampuan membuat keputusan berbasis data. Dunia bisnis modern, katanya, menuntut ketajaman analisis dan pemanfaatan teknologi seperti big data analytics, kecerdasan buatan (AI), hingga cloud computing.
Dari sisi lain, Prof. Tasya Aspiranti, S.E., M.Si., Kaprodi Doktor Manajemen (S3), menegaskan pentingnya riset yang berdampak.
“Lulusan doktor bukan hanya harus mampu menulis teori, tapi juga melahirkan gagasan yang bisa menggerakkan industri dan memperkaya kebijakan publik,” jelasnya.
Diskusi berlangsung dinamis. Tak ada sekat antara akademisi dan praktisi. Para peserta saling menanggapi, bertukar gagasan, dan menelisik bagaimana kurikulum yang disusun bisa menjawab kebutuhan industri tanpa kehilangan nilai akademik.
Moderator acara, Dr. Rabiatul Adwiyah, S.E., M.Si., tampak aktif memandu jalannya diskusi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas, tetapi langkah strategis untuk membangun kesinambungan kurikulum dari S1 hingga S3.
“FGD ini memastikan bahwa pembelajaran di setiap jenjang saling terhubung. Dari sarjana yang kreatif, magister yang analitis, hingga doktor yang visioner,” ungkapnya.
Dari hasil pertemuan ini, akan lahir rancangan kurikulum baru yang bukan hanya berbicara tentang mata kuliah dan silabus, melainkan juga strategi implementasi, monitoring, dan evaluasi yang berbasis pada kebutuhan nyata industri dan perkembangan teknologi.
Lebih dari sekadar forum akademik, FGD ini menjadi simbol komitmen FEB Unisba untuk menautkan dunia pendidikan dengan kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa belajar manajemen bukan hanya tentang memahami teori organisasi, tapi tentang bagaimana mengelola perubahan, memimpin inovasi, dan menciptakan nilai bagi masyarakat.
Di akhir acara, cahaya sore Bandung menerobos kaca jendela lantai delapan. Sementara para peserta perlahan menutup laptop dan berkemas, satu hal terasa pasti — masa depan kurikulum Manajemen Unisba sedang dirancang bukan di atas kertas, melainkan di atas kesadaran bersama: bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang hidup, yang tumbuh bersama zamannya.(ask/png)


