Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Pesantren dan Wacana Feodalisme
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Pesantren dan Wacana Feodalisme

admin@mediakampus
Last updated: Desember 10, 2025 9:36 am
admin@mediakampus Published Desember 10, 2025
Share
Pesantren dan Wacana Feodalisme
Oleh: Muhammad Liyauddin (Mahasiswa Fikom Unisba)
Oleh: Muhammad Liyauddin (Mahasiswa Fikom Unisba)
SHARE

Oleh: Muhammad Liyauddin (Mahasiswa Fikom Unisba)

FENOMENA pesantren dan feodalisme kerap menjadi perbincangan publik, terutama ketika potongan-potongan aktivitasnya viral di media sosial. Tidak jarang lembaga ini dituduh sebagai ruang yang mempertahankan feodalisme, hierarkis, kaku, otoritas kiai, dan pembatasan kebebasan. Namun pelabelan tersebut sesungguhnya terlalu menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Untuk memahami pesantren secara adil, perspektif santri dan non-santri perlu ditempatkan dalam dialog yang setara.

Bagi sebagian pihak di luar pesantren, struktur kepemimpinan yang terpusat pada kiai dianggap sebagai bentuk ketundukan tanpa kritik. Namun bagi banyak santri, relasi tersebut bukan semata hubungan kuasa, melainkan ikatan keilmuan dan spiritual yang dibangun melalui adab, keteladanan, dan proses pembentukan karakter. Di tengah gaya hidup modern yang serba individualistis, pesantren justru menjadi ruang yang menawarkan kebersamaan, solidaritas, serta ketahanan mental yang teruji.

Tentu, kritik terhadap praktik feodalisme di pesantren tidak boleh diabaikan. Ada kasus-kasus yang menyingkap sisi problematis, seperti kepatuhan yang tidak disertai nalar kritis, eksploitasi tenaga santri, hingga minimnya inovasi pendidikan di sebagian lembaga. Tuduhan bahwa pesantren melanggengkan pola pikir tertutup memang muncul dari pengalaman dan observasi yang tidak bisa serta-merta dibantah. Tetapi menggeneralisasikan seluruh pesantren melalui kasus-kasus tersebut juga tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya.

Di banyak tempat, pesantren justru menjadi pusat pembaruan sosial. Santri terlibat dalam kewirausahaan, literasi digital, gerakan lingkungan, serta berbagai aktivitas kemanusiaan. Integrasi teknologi dan kurikulum modern membuat banyak pesantren melakukan adaptasi tanpa meninggalkan nilai spiritualnya. Transformasi ini menunjukkan bahwa pesantren bukan lembaga statis, melainkan institusi yang terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.

Era digital juga membawa perubahan dalam cara publik memandang pesantren. Diskusi antara santri dan non-santri terbuka lebih luas, menciptakan ruang kritik sekaligus ruang klarifikasi. Non-santri melihat urgensi reformasi agar pesantren lebih transparan dan akuntabel. Santri, di sisi lain, merasakan perubahan internal yang membuat lingkungan belajarnya lebih setara dan inklusif, tanpa menghilangkan tradisi penghormatan.

Dengan demikian, menilai pesantren semata sebagai lembaga feodal mengabaikan dinamika besar yang terjadi di dalamnya. Perspektif yang lebih seimbang adalah melihat pesantren sebagai wadah pembentukan generasi yang berintegritas, sambil tetap mengakui perlunya reformasi di beberapa aspek. Selama pesantren membuka ruang partisipasi santri, meningkatkan tata kelola, dan memperkuat literasi kritis, lembaga ini memiliki peluang besar menjadi model pendidikan alternatif yang relevan bagi masa depan.

Pada akhirnya, wacana feodalisme hanyalah satu sudut pandang dalam memahami pesantren. Yang lebih penting adalah bagaimana pesantren berperan membantu anak muda membangun karakter, membaca nilai-nilai tradisi, dan menemukan jati diri di tengah perubahan sosial yang cepat. Itulah realitas yang tidak bisa dirangkum hanya melalui label tunggal.**

Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang

Mengenal Mythomania, Ketika Berbohong Menjadi Kebiasaan

admin@mediakampus admin@mediakampus Agustus 19, 2023
Tim PKM-P3UM Unisba Berdayakan Ekonomi Umat
Menanam Semangat Hijau: Unisba dan BNI Bergandengan Tangan Wujudkan Kampus Berdampak dan Zero Waste
Ketika Kader Posyandu Desa Nanjung Belajar Lewat Program “ARISAN” Ala FK Unisba
Unisba Menjadi Tuan Rumah FGD Pembahasan RUU Sisdiknas
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar