SENYUM antusias puluhan mahasiswa calon guru PAUD memenuhi Auditorium Gedung Dekanat Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung (Unisba) pagi itu. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengarkan kuliah umum, melainkan untuk menemukan inspirasi baru dalam dunia yang kelak akan mereka geluti—dunia anak-anak, dunia penuh warna, imajinasi, dan keikhlasan.
Acara bertajuk “Pengembangan Media Pembelajaran Anak Usia Dini” itu menjadi lebih dari sekadar Studium General. Ia berubah menjadi ruang refleksi, tempat para calon pendidik muda belajar tentang makna menjadi guru yang sejati—guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menyalakan cahaya kehidupan di hati anak-anak kecil.
Guru: Pendidik Pertama, Penanam Nilai Kehidupan
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Dr. Aep Saepudin, M.Ag., menyampaikan pesan yang menggugah.
“Guru anak usia dini bukan hanya pengajar, tetapi pendidik pertama yang menanamkan nilai kehidupan. Karena itu, kreativitas harus selalu berpadu dengan moralitas,” ujarnya penuh keyakinan.
Kata-kata itu menggema di ruangan. Banyak mahasiswa yang mengangguk pelan, seolah menyadari betapa berat dan mulianya tugas mereka kelak. Menjadi guru PAUD berarti menjadi pembentuk karakter pertama seorang manusia, di saat hati dan pikiran anak masih polos dan mudah dibentuk.
Suasana pun berubah lebih hangat ketika Dr. Thomas Balduci, M.Pd., tampil sebagai narasumber utama. Dengan tangan lincah, ia memperagakan magic learning—perpaduan antara permainan sulap dan edukasi.
Di depan mahasiswa, sehelai kertas berubah menjadi bunga, balon kecil tiba-tiba muncul dari balik buku cerita, dan suara tawa pun pecah.
Thomas menjelaskan bahwa media pembelajaran seperti itu mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak sekaligus membantu mereka memahami konsep-konsep abstrak dengan cara yang menyenangkan.
“Anak-anak belajar paling baik saat mereka bahagia,” katanya. “Guru yang kreatif bukan hanya mengajar, tapi menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.”
Membangun Jiwa Wirausaha di Dunia Pendidikan
Namun, bukan hanya soal kreativitas yang dibicarakan Thomas. Ia juga berbicara tentang sesuatu yang sering terlupakan: mental kewirausahaan bagi pendidik.
Menurutnya, guru yang hebat bukan hanya pandai mengajar, tapi juga tangguh menghadapi kegagalan, pekerja keras, dan memiliki keyakinan spiritual yang kuat.
“Jatuh itu biasa,” ujarnya lembut. “Yang luar biasa adalah bangkit lagi dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang jernih. Dalam pendidikan maupun usaha, bukan kecepatan menuju sukses yang penting, tapi keteguhan dalam prosesnya.”
Pesan itu menampar lembut kesadaran banyak mahasiswa. Mereka belajar bahwa menjadi pendidik sejati bukan sekadar soal metode mengajar, tapi juga tentang bagaimana terus bertumbuh, pantang menyerah, dan tetap rendah hati.
Belajar dari Warna dan Budaya
Kegiatan ditutup dengan parade budaya mahasiswa PG-PAUD. Mereka tampil memukau dalam busana adat dari berbagai daerah di Nusantara. Ada yang mengenakan kebaya Sunda, songket Palembang, hingga ulos Batak.
Warna-warni kain tradisional itu seolah menjadi simbol keberagaman yang harus dirayakan dan diajarkan kepada anak-anak sejak dini—bahwa setiap perbedaan adalah keindahan yang patut disyukuri.
Sorak tepuk tangan pun bergema, bukan hanya karena keindahan kostum, tetapi karena makna yang tersirat di dalamnya: pendidikan sejati adalah merawat keberagaman, menumbuhkan empati, dan menanamkan cinta terhadap budaya sendiri.
Melalui kegiatan ini, PG-PAUD Unisba menegaskan kembali misinya: melahirkan pendidik yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, kreatif dalam berkarya, dan berkarakter islami dalam pengabdian.
Mereka bukan sekadar guru, tetapi pembangun masa depan bangsa—dengan hati yang lembut, pikiran yang terbuka, dan semangat yang tak pernah padam.(askur/png)


