“DEG-DEGAN tapi seru banget!” ujar Sinta, siswi kelas XI SMKN 5 Kota Bandung, sambil tersenyum lega setelah berhasil berbicara di depan teman-temannya. Tepuk tangan riuh dari seluruh peserta menutup sesi latihan singkat itu — bukti bahwa keberanian kecil bisa menjadi langkah awal menuju perubahan besar.
Hari itu, Jumat (17/10/2025), ruang Multimedia SMKN 5 Bandung dipenuhi energi positif. Puluhan siswa dari berbagai jurusan tampak bersemangat mengikuti seminar bertajuk “Speak to Lead: Transforming Ideas Into Influence”, sebuah kegiatan yang bukan hanya mengajarkan cara berbicara di depan publik, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri untuk bersuara.
Seminar ini diinisiasi oleh Program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) Telkom University yang diketuai oleh Nisa Nurmauliddiana Abdullah dari Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial. Di tengah derasnya arus digital dan kebutuhan komunikasi yang kian kompleks, Nisa dan timnya percaya: kemampuan berbicara adalah jembatan penting bagi generasi muda untuk menyalurkan ide dan pengaruh.
“Public speaking bukan cuma soal lancar bicara, tapi soal bagaimana kita mengubah ide menjadi pengaruh,” ungkap Haris Annisari, dosen Telkom University yang menjadi pembicara utama dalam seminar ini.
Sari — begitu ia disapa — menjelaskan bahwa materi yang dibawakan memang berfokus pada dasar-dasar berbicara di depan umum. Namun, yang membuatnya berbeda adalah bagaimana materi itu disesuaikan dengan konteks siswa SMK, yang sebentar lagi akan terjun ke dunia kerja dan industri.
“Setelah lulus nanti, kemampuan ini akan mereka butuhkan untuk menghadapi klien, mempresentasikan ide, atau sekadar menyampaikan pendapat di lingkungan profesional,” tambahnya.
Sesi interaktif menjadi bagian paling hidup dari acara ini. Para siswa diajak memahami struktur berbicara yang efektif, mulai dari membuka pembicaraan yang menarik, menjaga intonasi, hingga menggunakan gestur tubuh dengan percaya diri. Beberapa di antaranya berani maju untuk mempraktikkan langsung di depan kelas — sebuah momen yang diwarnai degup jantung, tawa, dan tepuk tangan apresiatif.
Tak hanya itu, panitia juga menyiapkan sesi ice breaking dan mini role play yang membuat suasana seminar terasa cair. Di balik tawa dan permainan ringan, tersembunyi pelajaran penting: percaya diri tumbuh bukan karena tidak takut, tetapi karena berani menghadapi ketakutan itu.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tak berhenti di satu kesempatan saja. Kami ingin terus mendampingi siswa agar mereka siap menghadapi dunia kerja dengan rasa percaya diri yang kuat,” tutur Sari dengan penuh harap.
Semangat yang sama disampaikan oleh Kepala SMKN 5 Kota Bandung, Kiki Rachmat Nugraha, yang hadir dan menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, public speaking adalah salah satu keterampilan utama yang akan menentukan kesiapan siswa SMK dalam bersaing di dunia industri.
“Kemampuan berbicara adalah pintu pertama menuju komunikasi profesional. Dengan kegiatan seperti ini, siswa belajar bukan hanya berbicara, tapi juga menyampaikan pesan dengan percaya diri,” ujarnya.
Bagi banyak siswa, seminar ini bukan sekadar kegiatan di sela rutinitas sekolah, melainkan momen pembuktian diri. Mereka belajar bahwa suara mereka penting — dan dengan latihan yang tepat, setiap kata bisa menjadi pengaruh.
Melalui kegiatan “Speak to Lead: Transforming Ideas Into Influence”, Telkom University menunjukkan kepedulian nyata terhadap pengembangan potensi generasi muda. Bukan hanya mencetak mahasiswa unggul, tapi juga membantu siswa menata masa depan dengan satu kunci penting: kemampuan berbicara yang lahir dari kepercayaan diri.
Di akhir acara, senyum para siswa berbicara banyak. Mereka datang dengan rasa gugup, dan pulang dengan keyakinan baru: bahwa berbicara bukan lagi hal yang menakutkan — melainkan cara untuk memimpin, memengaruhi, dan berani menjadi diri sendiri. (askur/png)


