BANDUNG tampak berbeda pagi itu. Aula Universitas Islam Bandung (Unisba) dipenuhi wajah-wajah muda penuh antusiasme. Sekitar 2.000 mahasiswa baru duduk berhadap-hadapan dengan laptop dan ponsel mereka, bersiap mengikuti pengalaman pertama yang mungkin akan mengubah cara pandang mereka terhadap teknologi: Hour of Code.
Program ini bukan sekadar kelas coding biasa. Ia menjadi bagian dari inisiatif besar bertajuk AI Ready ASEAN, kerja sama ASEAN Foundation dan Ruangguru Foundation yang mendapat dukungan Google.org untuk periode 2025–2026. Sasarannya jelas: memperkenalkan dasar-dasar pemrograman dan kecerdasan buatan kepada generasi muda dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan ramah bagi pemula.
Hanya dengan waktu 60 menit, para peserta yang sebagian besar belum pernah bersentuhan dengan coding, diperkenalkan pada sequencing, looping, hingga conditional statements. Semua dikemas dalam format gim interaktif. Karakter di layar bergerak sesuai perintah sederhana yang mereka tulis—sebuah langkah kecil yang membuka pintu besar menuju dunia logika digital.
“Siapa pun bisa mulai belajar coding, tanpa harus berlatar belakang IT,” ujar Arman Wiratmoko, Chief Financial Officer Ruangguru, sambil menekankan bahwa kesenjangan literasi digital di Indonesia masih lebar. Data 2024 menunjukkan 90 persen anak muda Indonesia aktif berinternet, namun hanya 8,1 persen yang memahami dasar pemrograman. Hour of Code hadir sebagai jembatan untuk menutup jurang itu.
Bagi mahasiswa yang ingin melangkah lebih jauh, Ruangguru Foundation membuka akses gratis ke modul lanjutan: mulai dari Etika AI, teknik merancang prompt, hingga pemanfaatan AI untuk membuat konten. Bahkan ada jalur untuk menjadi Master Trainer melalui program Training of Trainers (ToT). Peserta yang lulus minimal 20 jam pelatihan berhak memperoleh sertifikat resmi dari ASEAN Foundation dan Ruangguru Foundation.
Suasana semakin hidup ketika Najwa Nur Awalia—mahasiswi berprestasi UGM sekaligus Juara 1 Mahasiswa Berprestasi 2024—hadir memberikan inspirasi. Dalam talks singkatnya, ia membagikan pengalaman tentang pentingnya pengembangan diri di era digital. Kehadirannya menambah semangat mahasiswa baru yang sedang menapaki awal perjalanan kuliah.
Bagi Unisba, kolaborasi ini lebih dari sekadar kegiatan tambahan. Wakil Rektor III, Dr. Amrullah Hayatudin, menilai program ini selaras dengan visi misi universitas, terutama gagasan “IMAN” yang diusung rektor: Islamic Spirit, Maintaining Sustainability, Adaptability, National & Global Excellence.
“Adaptability adalah kunci. Mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, tapi tetap berada dalam koridor nilai dan norma yang kita junjung,” jelasnya. Ia berharap ke depan bukan hanya mahasiswa baru yang mendapat manfaat, tetapi juga dosen agar ekosistem pembelajaran berbasis AI semakin luas.
Menyiapkan Talenta Digital ASEAN
AI Ready ASEAN sendiri adalah gerakan regional yang menargetkan jutaan pembelajar di Asia Tenggara. Di Indonesia, Ruangguru memasang target besar: menjangkau 1 juta peserta yang bisa belajar coding dan AI secara gratis.
Kegiatan di Unisba hanyalah salah satu langkah awal. Namun dari ruang kelas sederhana di Bandung ini, lahir optimisme bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta yang mampu bersaing di tingkat global.
“Mahasiswa Unisba kini memiliki bekal awal untuk memahami teknologi, bukan ditelan olehnya. Justru mereka bisa menjadikan AI sebagai alat untuk mencapai cita-cita,” pungkas Amrullah.

