BANDUNG pada pertengahan September 2025 terasa lebih hidup dari biasanya. Kota yang dikenal ramah dan penuh kreativitas itu menjadi tuan rumah The 17th ISGF-AISG Asia Pacific Region Gathering 2025, ajang silaturahmi pramuka senior se-Asia Pasifik. Delegasi dari 18 negara hadir, membawa cerita, semangat, dan persaudaraan lintas batas negara.
Di tengah gegap gempita acara internasional itu, dua wajah muda tampak sibuk berbaur dengan para delegasi. Mereka adalah Tamara Nabila Putri dan Daffa Sumarlan, mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) angkatan 2023. Bukan sebagai peserta, apalagi penonton, tetapi keduanya dipercaya menjadi volunteer—sosok yang berada di balik layar sekaligus di garis depan untuk memastikan jalannya acara.
Bagi Tamara, dunia pramuka sebenarnya bukan hal baru. Ia pernah aktif saat SMA, namun sempat terhenti ketika masuk kuliah. “Saya merasa rindu suasana itu,” katanya dengan senyum lebar. Rasa rindu itu kembali tumbuh ketika ia bergabung dengan English Learners Community (ELC) Unisba, sebuah komunitas yang banyak menggelar kegiatan alam. Dari sanalah api pramuka yang sempat padam kembali menyala.
Kesempatan menjadi volunteer datang melalui informasi dari dosen sekaligus pembina pramuka kampus, Dr. Nety Kurniaty. Meski tak sempat hadir dalam seleksi, Tamara nekat mengirim CV dan dokumen pendaftaran. Keberaniannya berbuah manis—ia terpilih.
Tak tanggung-tanggung, Tamara langsung dipercaya menjadi MC di berbagai acara penting, mulai dari pendopo Kota Bandung bersama Gubernur dan Wali Kota, hingga acara budaya di Saung Angklung Udjo. “Banyak rundown berubah mendadak. Kadang H-10 menit baru diberi kepastian. Saya harus cepat menyesuaikan teks dan alur acara,” kenangnya.
Puncak pengalamannya adalah ketika ia harus menjemput puluhan delegasi di bandara pada dini hari. Dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, Tamara menjadi koordinator dadakan bagi sekitar 30 orang dari dua bus. “Rasanya campur aduk—lelah tapi bangga,” ujarnya. Bahkan meski sempat jatuh sakit di akhir kegiatan, Tamara tetap menyebut pengalaman itu sebagai salah satu momen paling berharga dalam hidupnya.
Berbeda dengan Tamara, Daffa justru menganggap pengalaman ini sebagai ujian keberanian. “Dulu saya agak minder berhadapan dengan orang asing. Tapi sekarang, Alhamdulillah, sudah terbiasa menyambut tamu dari berbagai negara,” katanya.
Peran utama Daffa adalah menjadi Guide dan Helper. Mengingat sebagian besar peserta berusia lanjut, ia harus selalu sigap membantu. Namun, ia juga mendapat tantangan sebagai MC dalam acara Welcome Dinner. “Banyak perubahan teknis mendadak. Saya dan Tamara cukup kelabakan. Tapi syukurlah acara berjalan lancar,” kenangnya sambil tertawa.
Kesibukan di ajang internasional ini tak membuat Daffa melupakan aktivitas lain. Ia tetap aktif di UGIS (Unisba Global Inspired Society), pramuka, hingga baru saja lolos seleksi Google Student Ambassador (GSA). Baginya, kunci manajemen waktu adalah membuat prioritas dan mengelompokkan kegiatan sesuai urgensi.
Bandung, Persaudaraan, dan Generasi Muda
Ajang pramuka Asia Pasifik yang berlangsung di Bandung 19-22 September ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan jembatan persaudaraan antarbangsa. Dengan dukungan Hipprada, Kwarnas, dan Kwarcab Bandung, acara ini sekaligus memperlihatkan wajah ramah Bandung di mata dunia.
Bagi Tamara dan Daffa, pengalaman menjadi volunteer adalah kisah tentang keberanian, ketekunan, dan belajar keluar dari zona nyaman. Lebih dari itu, kehadiran mereka membuktikan bahwa generasi muda bisa mengambil peran penting dalam diplomasi budaya.
“Pramuka bukan hanya soal baris-berbaris atau seragam cokelat,” ujar Tamara. “Lebih dari itu, ini tentang persaudaraan global.”
Dan Bandung—dengan segala keramahan dan kehangatannya—kembali menegaskan diri sebagai kota yang tidak hanya kreatif, tetapi juga menjadi rumah bagi persaudaraan dunia.(askur/png)


