Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Amin Rasyid: Hafidz 30 Juz, Wisudawan Tuna Netra yang Tak Pernah Menyerah di Unisba
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Feature

Amin Rasyid: Hafidz 30 Juz, Wisudawan Tuna Netra yang Tak Pernah Menyerah di Unisba

admin@mediakampus
Last updated: Agustus 24, 2025 10:46 am
admin@mediakampus Published Agustus 24, 2025
Share
Amin Rasyid saat prosesi Wisuda Gelombang II Universitas Islam Bandung (Unisba), Sabtu–Minggu (23–24/8/2025),(foto: komhumas unisba)
SHARE

DI balik toga hitam yang dikenakan pada Wisuda Gelombang II Universitas Islam Bandung (Unisba), Sabtu–Minggu (23–24 Agustus 2025), tersimpan kisah inspiratif seorang pemuda yang melawan keterbatasan. Dialah Amin Rasyid, lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, yang menuntaskan delapan semester kuliah dengan IPK 3,48 dan predikat Sangat Memuaskan. Bagi putra asal Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, pencapaian ini bukan hanya soal ijazah, tapi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak mampu menghentikan semangat berkarya.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini mengalami gangguan penglihatan sejak kelas dua SD. Awalnya hanya menyempitnya lapang pandang, namun ia masih mampu membaca dan menulis Al-Qur’an. Hingga masa SMA, ia tak sadar bahwa kondisinya termasuk tuna netra. Setelah lulus, penglihatannya menurun drastis hingga ia tidak bisa lagi membaca dan menulis, membuat pendidikannya terhenti selama empat tahun.

Titik balik muncul pada 2018 ketika ia memeriksakan diri ke RS Cicendo Bandung. Di sana, dokter memastikan penglihatannya tak dapat dipulihkan. Namun satu pesan menggugahnya: jangan buang waktu untuk sesuatu yang tak bisa diubah, lebih baik fokus mengejar ilmu. Nasihat itu menjadi pemantik semangat baru.

Sejak 2019, Amin aktif di komunitas tuna netra, belajar membaca Al-Qur’an braille dan mengoperasikan teknologi aksesibilitas. Ia kemudian menetap di Pesantren Tuna Netra, menemukan inspirasi dari para guru, dan memutuskan melanjutkan kuliah di Unisba setelah mendapat dorongan dari seorang mentor yang juga tuna netra.

Bagi Amin, Unisba bukan sekadar kampus. “Saya merasakan ruh 3M: Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid, yang membentuk karakter saya selama kuliah,” ujarnya.

Meski fasilitas untuk disabilitas belum sepenuhnya ideal, Amin merasa didukung oleh lingkungan kampus. “Teman-teman selalu siap membantu, meski kadang bingung caranya. Kalau saya butuh bantuan, saya minta tolong, dan mereka menyambut dengan senang hati,” katanya.

Selain fokus belajar, ia aktif di organisasi. Amin tercatat sebagai anggota HMI dan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI). Ia juga menjadi pengajar Al-Qur’an braille dan pernah mengabdi di Pesantren Tahfidz Tuna Netra Ma’had Sam’an Darushudur di Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Yang paling membanggakan, di tengah keterbatasannya membaca mushaf, Amin justru berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an. Proses yang ia jalani dari 2019 hingga 2022 ini dilakukan dengan kombinasi braille dan audio, penuh kesabaran dan disiplin. Prestasi ini membuatnya memperoleh Beasiswa Hafidz 30 Juz dari Unisba yang membebaskannya dari biaya pendidikan.

Kini, dengan gelar sarjana di tangan, Amin memantapkan langkah untuk mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Tasikmalaya. “Saya ingin mendidik anak-anak tuna netra agar mereka juga punya kesempatan belajar yang sama,” ujarnya.

Bagi Amin, profesi guru adalah panggilan jiwa. “Mengajar bukan hanya pekerjaan, tapi bentuk pengabdian untuk mencetak generasi berakhlakul karimah. Saya ingin meneruskan estafet dakwah Rasulullah dalam membimbing umat,” katanya penuh keyakinan.

Meski penglihatannya kini hanya tersisa sekitar 10 persen dan kemungkinan akan terus berkurang, Amin tetap optimis. Baginya, gelapnya mata bukanlah gelapnya masa depan. Dari keterbatasan, ia belajar melihat lebih jauh dengan mata hati.***

TAGGED:#WisudawanInspiratif #TunanetraBerprestasi #Hafidz30Juz #UnisbaBerprestasi #PendidikanInklusif #MotivasiBelajar
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
Unisba Gelar Kegiatan Penguatan Pemahaman Instrumen Akreditasi IAPT 4.1 dan IAPS 5.1

Unisba Gelar Kegiatan Penguatan Pemahaman Instrumen Akreditasi IAPT 4.1 dan IAPS 5.1

admin@mediakampus admin@mediakampus Maret 9, 2026
Dalam Rangka Milad Unisba ke-65, Fikom Unisba dan Tular Nalar Mafindo Gelar Pelatihan Sekolah Kebangsaan
Unisba Sambut Kunjungan Silaturahim dari President University
Dorong Mutu Publikasi Ilmiah Mahasiswa, MIH FH Unisba Selenggarakan Pelatihan Reference Manager
Mazhab Perubahan
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar