Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Dari Jogokaryan ke Bandung: Membandingkan Model Pengelolaan Masjid yang Berdaya Umat
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Dari Jogokaryan ke Bandung: Membandingkan Model Pengelolaan Masjid yang Berdaya Umat

admin@mediakampus
Last updated: Februari 5, 2026 3:07 pm
admin@mediakampus Published Februari 5, 2026
Share
SHARE

Oleh Annisa Tri Lestari & Nabil Athala Naufal

MASJID hampir selalu ada di tengah masyarakat muslim, baik di desa maupun di pusat kota. Ironisnya, kehadiran fisik yang begitu masif tidak selalu berbanding lurus dengan peran sosial bagi umat.

Secara ideal, masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual tetapi juga ruang sosial yang hidup bersama umat. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit masjid yang hanya ramai pada waktu-waktu salat namun sepi dari aktivitas sosial yang menyentuh persoalan riil jamaah di sekitarnya. Kondisi ini menegaskan adanya jarak yang lebar antara fungsi ideal masjid sebagai pusat kehidupan umat dan realitas persoalan masyarakat muslim kontemporer.

Dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan masjid di berbagai daerah cenderung terjebak  pada orientasi fisik dan kemegahan arsitektur. Anggaran besar digelontorkan untuk renovasi bangunan, ornamen, dan estetika ruang ibadah. Ironisnya, kemegahan  tersebut sering berdiri berdampingan dengan kemiskinan, keterbatasan pendidikan dan ketimpangan sosial jamaah di sekitarnya. Masjid pun tampil megah sebagai simbol tetapi absen sebagai solusi umat.

Sejarah Islam  menunjukkan bahwa masjid sejak awal berdiri sebagai pusat peradaban umat. Pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah tetapi pusat pendidikan, tempat musyawarah, penyelesaian konflik, hingga distribusi zakat dan bantuan sosial. Dimensi spiritual dan sosial terintegrasi secara utuh tanpa sekat yang kaku. Karena itu,  penyempitan fungsi masjid pada masa kini patut dikritisi sebagai reduksi makna institusi keagamaan yang seharusnya bersifat inklusif dan transformatif saat menjawab persoalan umat.

Popularitas Masjid Jogokariyan

Di tengah kondisi tersebut, Masjid Jogokariyan di Yogyakarta kerap dijadikan contoh praktik pengelolaan masjid yang berorientasi pada pemberdayaan umat. Masjid ini aktif mengelola zakat, infaq, dan sadaqah  berbasis kebutuhan jamaah, serta terlibat langsung dalam persoalan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa masjid memiliki potensi besar untuk menjadi solusi konkret bagi umat, bukan sekadar simbol religius di ruang publik.

Kekuatan utama Masjid Jogokariyan terletak pada transparansi keuangan dan prinsip distribusi dana yang cepat kepada jamaah. Dana masjid tidak ditumpuk sebagai saldo pasif tetapi dialirkan kembali dalam bentuk program sosial dan ekonomi produktif. Praktik ini membuktikan bahwa masjid dapat dikelola secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada dana negara. Ironisnya, model seperti ini belum menjadi arus utama pengelolaan masjid di Indonesia, menandakan lemahnya sistem pembelajaran dan replikasi praktik baik antarmasjid. Keberhasilan masjid sering berhenti sebagai daya tarik simbolik, bukan menjadi ruang refleksi dan transformasi pengelolaan masjid lainnya.

Di sisi lain, Masjid Agung Bandung memiliki posisi strategis sebagai masjid kota sekaligus ikon keislaman di ruang publik perkotaan. Dengan legitimasi sosial dan sumber daya yang besar, absennya peran signifikan dalam pemberdayaan ekonomi justru menunjukkan persoalan orientasi, bukan keterbatasan kapasitas. Hingga kini Masjid ini belum sepenuhnya menjadi magnet bagi umat untuk menitipkan zakat, infaq, sadaqah bahkan dan waqaf dalam skala besar, yang dapat dikelola secara produktif bagi penguatan ekonomi umat.

Masjid juga belum sepenuhnya hadir sebagai pusat pendidikan publik, advokasi sosial, maupun penguatan ekonomi masyarakat perkotaan. Kondisi ini menegaskan  bahwa tantangan utama pengelola masjid bukan terletak pada minimnya sember daya, melainkan pada  desain pengelolaan dan keberpihakan program  yang belum sepenuhnya berangkat dari kebutuhan riil umat sekitar masjid.

Karena itu, penguatan fungsi sosial masjid perlu diwujudkan dalam langkah nyata dan terukur. Masjid dapat memulai  dengan menjadikan pengelolaan zakat, infaq dan sadaqah sebagai program inti pemberdayaan ekonomi jamaah, bukan sekadar aktivitas pelengkap. Dana ZISWAF dapat diarahkan pada skema modal usaha bergulir bagi pedagang kecil di sekitar masjid, pelatihan keterampilan ekonomi bagi keluarga jamaah, serta pendampingan usaha sederhana bagi anak muda.

Di saat yang sama, pemerintah memiliki peran penting sebagai fasilitator melalui penyediaan kerangka kebijakan yang mendukung,  seperti standar tata kelola yang transparan dan partisipatif, tanpa mengurangi kemandirianya. Melalui kolaborasi ini, masjid tidak hanya menyalurkan bantuan tetapi dapat bertransformasi menjadi pusat penggerak  ekonomi umat di tingkat lokal. Tanpa keberanian mengambil langkah konkret dan kolaboratif tersebut, masjid berisiko berhenti  sebagai simbol kesalehan ritual dan kehilangan daya transformatifnya dalam menjawab tantangan sosial umat Islam hari ini.

*Penulis Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Unisba

TAGGED:#FungsiSosialMasjid #PemberdayaanUmat #MasjidBerdaya #ZakatInfaqSedekah #PengelolaanMasjid #MasjidJogokariyan #MasjidAgungBandung #EkonomiUmat #MasjidPusatPeradaban #TransformasiMasjid
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang
Research Talk Series 03 FEB Unisba: Mahasiswa Magister Manajemen Dibekali Teknik Penyusunan Kuesioner Tesis yang Valid dan Reliabel

Research Talk Series 03 FEB Unisba: Mahasiswa Magister Manajemen Dibekali Teknik Penyusunan Kuesioner Tesis yang Valid dan Reliabel

admin@mediakampus admin@mediakampus Februari 11, 2026
LPPM Unisba Gelar Bimtek dan Expo ‘Halalpreneurship Excellence’
Peringati Hari Santri 2025, Fakultas Syariah Unisba Selenggarakan Pelatihan Ilmu Waris di Pesantren Daruttaubah Bandung
Ratusan Lansia Mendapat Materi Pemberdayaan Kualitas Hidup Lansia dari LPPM Unisba
Unisba Gelar Seminar Refreshment Dosen Wali 2026, Perkuat Pendampingan Mahasiswa Generasi Z
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar