DI sebuah sudut Desa Nagreg Kendal, Kabupaten Bandung, ibu-ibu rumah tangga kini punya kesibukan baru selain mengurus keluarga. Mereka memilah sampah, mengolah sisa makanan menjadi pakan ternak, hingga membuat kerajinan dari bahan bekas. Hasilnya? Telur bebek dari pakan olahan itu kini bisa dijual ke tetangga sekitar, sementara sampah plastik yang dulu menumpuk, kini jadi barang bernilai tambah.
Siapa sangka, gerakan sederhana ini berawal dari sebuah riset di kampus—tepatnya Universitas Islam Bandung (Unisba). Dari tangan para penelitinya, lahirlah sebuah reaktor plasma dingin, alat pemusnah sampah berbasis teknologi mutakhir yang kini mulai dilirik pemerintah pusat.
Pada Kamis (25/9), Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., datang langsung ke Unisba. Ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mesin berdiameter 760 mm dan menjulang setinggi hampir tiga meter itu bekerja. Bagi Fauzan, teknologi ini bukan sekadar mesin, melainkan simbol kemandirian kampus dalam menjawab tantangan lingkungan.
“Kalau alat ini efisien dan efektif, kita akan dorong kolaborasi lintas kampus. Bayangkan kalau tiap kota punya satu, masalah sampah bisa berkurang drastis,” katanya penuh optimisme.
Bagi masyarakat awam, kata “plasma dingin” mungkin terdengar asing. Tapi bagi Dr. Imam Indratno, ketua tim peneliti Unisba, teknologi ini justru sederhana dalam manfaat. Mesin yang dirancangnya bisa mengolah hingga satu ton sampah per jam dengan hanya memakan daya listrik 6.000 watt. Hasilnya nyaris tanpa residu—hanya 0,5 persen.
Tak hanya menghancurkan sampah organik, reaktor ini juga sanggup melumat limbah anorganik, bahkan popok sekali pakai. Produk sampingannya? Ada liquid smoke yang bisa dipakai di industri, serta konsentrat karbon-logam yang punya nilai ekonomi.
“Bedanya dengan insinerator biasa, alat ini lebih hemat energi, lebih selektif, dan lebih ramah lingkungan,” jelas Imam.
Dari Laboratorium ke Kehidupan Warga
Kekuatan inovasi ini bukan hanya terletak pada mesin, tetapi juga pada cara ia mengubah perilaku masyarakat. Di Nagreg, program ini diwujudkan lewat Koperasi Baraya Nazar. Para ibu yang dulunya membuang semua sampah ke bak sampah kini belajar memilah sejak dari rumah. Mereka mendapat pelatihan mengubah food waste menjadi pakan ternak, bahkan ikut kelas bahasa Inggris untuk memperluas wawasan.
“Awalnya sulit, tapi lama-lama terbiasa. Sekarang kalau tidak memilah sampah rasanya aneh,” kata salah satu ibu sambil tersenyum.
Hasil kerja mereka tak sia-sia. Rumah tangga di tiga RW sekitar kini lebih disiplin dalam mengelola sampah. Ekonomi keluarga pun terbantu dari penjualan produk olahan sampah.
Apresiasi tidak datang hanya dari pusat. Dalam kunjungan Dirjen Risbang, hadir pula Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Dr. Lukman, serta perwakilan dari BNI, KAI, Pemerintah Kota Bandung, hingga Kecamatan Nagreg. Semua pihak tampak optimis, teknologi ini bisa diperluas penerapannya.
Lebih dari sekadar riset, Unisba memastikan karya ini terlindungi secara hukum. Insinerator Plasma Dingin telah resmi didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dengan nomor S00202503097 sejak April 2025.
Bagi Unisba, reaktor plasma dingin hanyalah satu bagian dari puzzle besar bernama Halal Ecosystem with Carbon Credit Campus Initiative. Program ini menggabungkan riset, nilai Islam, dan social engineering untuk menciptakan kampus yang ramah lingkungan. Harapannya jelas: lahir generasi akademik yang cerdas, berakhlak mulia, dan peduli pada bumi.
Seperti yang terlihat di Nagreg, perubahan besar bisa berawal dari langkah kecil. Dan di balik deru mesin plasma dingin itu, ada harapan bahwa sampah bukan lagi masalah, melainkan pintu menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.(ask/png)

