Media Kampus
Masuk
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Reading: Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Malnutrisi: PKM FK Unisba dan Kader Kampung Wangun Desa Karyamukti
Share
Media KampusMedia Kampus
Font ResizerAa
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Search
  • Berita PT
  • Materi Kuliah & Buku
  • Tips Trik Akademis
  • Kreativitas Mahasiswa
  • Inspirasi Karir
  • Event & Kegiatan Kampus
Have an existing account? Sign In
Follow US
Feature

Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Malnutrisi: PKM FK Unisba dan Kader Kampung Wangun Desa Karyamukti

admin@mediakampus
Last updated: Juli 28, 2026 2:27 am
admin@mediakampus Published Juli 28, 2026
Share
Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Malnutrisi: PKM FK Unisba dan Kader Kampung Wangun Desa Karyamukti
Dr. Wida Purbaningsih, dr., MKes (Dosen FK Unisba)
Dr. Wida Purbaningsih, dr., MKes (Dosen FK Unisba)
SHARE

Oleh: Dr. Wida Purbaningsih, dr., MKes (Dosen FK Unisba)

KAMPUNG WANGUN terletak di Desa Karyamukti, Kabupaten Bandung Barat. Perjalanan menuju kampung yang berjarak 34 km dari Universitas Islam Bandung dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Kondisi jalan berupa jalan desa di daerah pegunungan dengan banyak jalan mendaki dan curam serta sempit.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kader kesehatan, ditemukan permasalahan Mitra, yakni  belum terdapat program skrining Penyakit Jantung Bawaan (PJB), terutama pada anak malnutrisi. Sehingga banyak anak mengalami gejala seperti mudah lelah, sesak, gagal tumbuh, atau sering kebiruan di sekitar mulut atau di daerah ujung-ujung jari (sianosis) tidak teridentifikasi. Solusi yang ditawarkan oleh program pengabdian kepada masyarakat (PKM) Hibah internal dosen Fakultas kedokteran Unisba, sebagai pengamalan dari Tri Dharma perguruan tinggi adalah program skrining PJB berbasis masyarakat.

Kegiatan PKM ini terdiri atas edukasi kader mengenai gejala dan tanda anak dengan PJB, skrining massal PJB pada anak dengan malnutrisi usia 0–12 tahun, dan  mengenalkan sistem rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.

Seringkali, orang tua di daerah terpencil melihat berat badan anak yang sulit naik hanya sebagai masalah gizi atau kurang makan semata. Namun, realitas klinis menunjukkan hubungan yang lebih kompleks. Penyakit Jantung Bawaan memiliki kaitan erat dengan hambatan pertumbuhan anak yang sering kali terabaikan.

Secara teknis, jantung anak yang mengalami PJB harus bekerja ekstra keras—setidaknya 2-3 kali lebih kuat—hanya untuk mengedarkan oksigen yang tidak lancar ke seluruh tubuh. Aktivitas ini menguras seluruh energi anak sehingga kalori dari makanan habis terbakar hanya untuk bernapas dan memompa jantung, tanpa menyisakan energi untuk pertumbuhan berat badan.

Pada buku saku kader yang dirancang oleh tim PKM FK Unisba, fenomena ini dijabarkan melalui tanda-tanda yang sering luput dari perhatian, yakni pertama Menetek Terputus.  Bayi sering berhenti menetek untuk mengambil napas terengah-engah karena kelelahan fisik. Kedua, Keringat Berlebih.  Keluar keringat dingin berlebihan di dahi saat anak sedang makan, menyusu, atau bahkan saat tidur. Inilah mengapa PJB seringkali bersembunyi di balik diagnosa malnutrisi kronis; sang anak sebenarnya “kelaparan” energi karena mesin utama tubuhnya bekerja terlalu berat.

Pada kegiatan PKM dijelaskan bahwa akses kesehatan bukan hanya soal jarak tapi soal ketersediaan jaring pengaman.

Data statistik menunjukkan kesenjangan ditemukan di Kabupaten Bandung Barat, yaitu pertama Rasio Puskesmas.  Saat ini satu Puskesmas harus melayani rata-rata 55.648 penduduk, hampir dua kali lipat dari standar ideal nasional (1:30.000). Kedua, Kebutuhan Mendesak.  Dibutuhkan tambahan sekitar 28 Puskesmas lagi untuk mencapai pelayanan yang manusiawi. Ketiga, Keterbatasan Rujukan.  Dengan hanya 9 rumah sakit untuk 1,7 juta jiwa, rasio rujukan berada pada angka 1:197.863. Beban fasilitas yang berlebihan ini membuat  geografi menjadi komorbiditas. Pegunungan yang sulit ditembus bukan sekadar tantangan logistik, melainkan penghalang diagnosis yang sering kali baru terpecahkan saat komplikasi berat, seperti infeksi paru (pneumonia) atau gagal tumbuh sudah mencapai tahap kritis.

Beberapa Kendala

Membawa peralatan medis canggih ke Kampung Wangun merupakan sebuah operasi teknis yang menantang. Untuk memberikan diagnosa pasti, tim Fakultas Kedokteran Unisba harus memobilisasi ekokardiografi  (USG jantung) portabel. Alat ini sangat sensitif dan menuntut syarat teknis yang ketat, diantaranya kestabilan arus listrik dengan daya minimal 2000 Watt.

Keberhasilan membawa teknologi ini ke pelosok bukan hanya soal mesin, melainkan hasil dari pendekatan  Participatory Rural Appraisal  (PRA). Melalui PRA, masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek tetapi mitra aktif yang membantu tim medis memetakan dua hal, yakni Stabilitas Kelistrikan. Memastikan titik daya yang mampu menyokong alat tanpa risiko kerusakan teknis. Kedua, Privasi Medis.  Menata ruangan khusus yang menjamin privasi pasien selama tindakan, sebuah tantangan besar di fasilitas desa yang terbatas. Keterlibatan warga dalam menyiapkan sarana ini membuktikan bahwa teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan sentuhan kearifan lokal agar bisa berfungsi.

Kesenjangan akses kesehatan hanya bisa dijembatani oleh mereka yang berada paling dekat dengan pintu rumah warga, yaitu para kader kesehatan. Melalui metode sederhana  “Lihat – Raba – Laporkan” , mereka dilatih menjadi sistem deteksi dini mandiri.Kader dan orang tua diajarkan untuk mengidentifikasi tanda bahaya kardiovaskular, yaitu Lihat;  memeriksa adanya  sianosis  (kebiruan pada bibir atau kuku) dan napas yang cepat hingga dada tampak cekung ke dalam. Raba; merasakan detak jantung yang bergetar ganjil di dinding dada kiri, serta  merasakan kaki dan tangan yang dingin  sebagai tanda aliran darah (perfusi) yang tidak sampai ke ujung tubuh.Laporkan;  segera merujuk ke petugas medis jika ditemukan minimal satu tanda ganjil.Dalam proses ini, tim juga memantau  saturasi oksigen, sebuah ukuran sederhana untuk mengetahui seberapa banyak oksigen yang dibawa oleh darah anak menggunakan alat  pulse oximeter  portabel.

Identifikasi 70 anak malnutrisi usia 0–12 tahun di Kampung Wangun adalah langkah awal yang krusial. Angka ini bukan sekadar statistik laporan kemajuan, melainkan peluang lebih besar untuk tumbuh sehat menuju Indonesia Emas.Perjalanan medis ke balik perbukitan ini adalah sebuah pengingat bahwa pemerataan kesehatan adalah tanggung jawab kolektif kita bersama. Tidak boleh ada satu pun anak yang terlupakan hanya karena mereka lahir di balik punggung gunung yang sulit dijangkau.

Dalam kegiatan skrining kesehatan di daerah terpencil bukan sekadar tugas profesi,  melainkan tanggung jawab spiritual untuk menjaga amanah Allah. Nilai-nilai Islam melalui konsep  Maqashid Syariah, khususnya  Hifdzun Nafs  (menjaga jiwa), menjadi motor penggerak utama kegiatan ini.

Ketika negara dan fasilitas kesehatan terbatas secara rasio, tanggung jawab kolektif untuk mencegah kebinasaan menjadi kewajiban yang suci. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195).

Melakukan deteksi dini adalah bentuk nyata dari ikhtiar untuk memastikan anak-anak tidak menderita akibat keterlambatan diagnosis yang sebenarnya bisa dicegah. Sehingga dengan berbagai kendala, tim pengabdi mengajak para kader kesehatan tetap mengupayakan maksimal dan mengharapkan anak sebagai generasi pelanjut berkualitas, sebagai pengamalan QS 4: 9 (jangan meninggalkan generasi yg lemah) dan QS 2:247 (mengharapkan generasi Basthotan fil ilmi wal jismi, generasi kuat illmu dan fisik).***

TAGGED:#DeteksiDiniPJB #PenyakitJantungBawaan #KesehatanJantungAnak #AnakMalnutrisi #SkriningKesehatanAnak #PengabdianMasyarakat #PKMFKUnisba #KaderKesehatan #KesehatanMasyarakat #GenerasiSehatIndonesia
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
FacebookLike
TwitterFollow
PinterestPin
YoutubeSubscribe

LATEST NEWS

Yuk Gabung Jadi Penulis di MediaKampus.Info

Punya ide dan cerita menarik? Salurkan bakat menulismu dan bagikan inspirasimu bersama kami! Bergabunglah menjadi penulis sekarang!

Daftar Sekarang

Putri Jasmin Lepas Single “DIA”, Balada Mengharu Biru yang Menyentuh Hati Pendengar Indonesia–Malaysia

admin@mediakampus admin@mediakampus Desember 9, 2025
Menumbuhkan Jiwa Kreatif dan Tangguh Sejak Dini: Kisah Inspiratif dari Studium General PG-PAUD Unisba
Kayuhan Ceria di Pagi Bandung: Fun Bike 2025 Jadi Simbol Kebersamaan di Milad ke-67 Unisba
PSTA & LAPAN mengembangkan radar hujan bernama Sistem pemantau hujan (Santanu)
LPPM Unisba Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren melalui Pelatihan Peternakan Ayam Petelur di Garut
Media Kampus
  • Info Kampus
  • Opini
  • Riset & PKM
  • Info Video
  • Feature
  • Dunia Kerja
  • Profil
  • Contact

Mediakampus.info adalah wadah kreatifitas civitas akademi untuk berbagi informasi

© MediaKampus.info – . All Rights Reserved.

Follow US on Socials

  • Disclaimer
  • Ketentuan Privasi
  • Tentang Kami
Selamat Datang Kembali

Silakan Masuk Ke Akun Anda

Username or Email Address
Password

Lupa Pasword?

Belum Jadi Member? Daftar