MEDIA-KAMPUS.COM – Universitas Islam Bandung (Unisba) menegaskan komitmennya dalam menghadirkan solusi nyata pengelolaan sampah di Kota Bandung melalui Program Zero Waste. Kecamatan Arcamanik ditetapkan sebagai wilayah percontohan (pilot project) yang diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah terpadu tidak hanya bagi Kota Bandung, tetapi juga bagi wilayah Jawa Barat.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Konsolidasi Penanganan Sampah yang berlangsung di Aula Lantai 4 Dispora Jawa Barat, Kompleks Jabar Sport Centre, Arcamanik, Kota Bandung, Kamis (4/3/2026).
Dalam forum strategis ini, Unisba menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang diundang. Delegasi kampus tersebut dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Alumni dan Kerja Sama (Alkerma), Prof. Dr. Ratna Januarita, S.H., LL.M., M.H., bersama tim LPPM, tim Zero Waste, serta dosen Fakultas Syariah yang turut menguatkan aspek pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi sirkular dalam program tersebut.
Rapat konsolidasi ini juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Camat Arcamanik, empat lurah se-Kecamatan Arcamanik, serta seluruh Ketua RW yang berjumlah 54 RW.
Dalam arahannya, Herman Suryatman menegaskan adanya kesepakatan bersama lintas unsur untuk menjadikan Arcamanik sebagai kawasan percontohan dalam penyelesaian persoalan sampah secara kolaboratif.
“Hari ini, alhamdulillah, kita telah memiliki komitmen bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kota, tokoh masyarakat, camat, para lurah, dan seluruh Ketua RW di Kecamatan Arcamanik. Wilayah ini akan kita jadikan pilot project bagaimana persoalan sampah dapat diselesaikan secara bersama,” ujar Herman.
Ia menjelaskan bahwa program penanganan sampah tersebut dilakukan melalui dua pendekatan utama yang dijalankan secara simultan.
Pendekatan pertama adalah rekayasa teknologi. Dalam hal ini, Unisba menghadirkan inovasi Reaktor Plasma Dingin yang telah dipasang di Living Laboratory Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Berbudaya Arcamanik. Teknologi tersebut saat ini sedang diuji coba sebagai solusi pengolahan sampah yang lebih efektif sekaligus ramah lingkungan.
Pendekatan kedua adalah rekayasa sosial (social engineering) berbasis masyarakat. Pendekatan ini difokuskan pada perubahan perilaku warga untuk mengurangi sampah, terutama zero food waste atau pengurangan sampah makanan sejak dari sumbernya.
“Kombinasi antara teknologi dan rekayasa sosial ini diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat. Sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah, tetapi justru bisa menjadi berkah dan sumber rezeki,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Ratna Januarita menyampaikan bahwa Program Zero Waste Unisba dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu pengembangan teknologi reaktor plasma dingin, pengelolaan sampah organik atau food waste, serta pendekatan social engineering untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan teknologi pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga. Oleh karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam program ini.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah sederhana. Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip pesan dai nasional Aa Gym yang menekankan pentingnya memulai perubahan dari diri sendiri.
“Seperti yang pernah disampaikan Aa Gym, kita harus mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang juga. Filosofi itu yang menjadi pegangan kita bersama,” ujarnya.
Prof. Ratna menambahkan bahwa perhatian pemerintah terhadap Arcamanik menjadi momentum penting bagi wilayah tersebut untuk menjadi pelopor perubahan dalam pengelolaan sampah.
“Karena Arcamanik mendapat perhatian khusus dan menjadi lokasi penerapan teknologi pengolahan sampah, kami berharap wilayah ini bisa menjadi agen perubahan dan model bagi kecamatan lain,” katanya.
Dalam mendukung implementasi program, Unisba juga menyiapkan sekitar 500 mahasiswa yang akan diterjunkan secara bertahap untuk melakukan pendampingan dan pemetaan kondisi lapangan.
“Insyaallah sekitar 500 mahasiswa akan turun secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan. Mudah-mudahan semangat ini dapat mengubah sampah menjadi berkah bagi masyarakat. Apalagi menjelang Ramadan, semoga ini menjadi bagian dari keberkahan bersama,” tuturnya.
Sementara itu, Person in Charge Social Engineering Tim Zero Waste Unisba, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., menjelaskan bahwa tahapan awal program dimulai dengan needs assessment melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga.
Langkah tersebut bertujuan untuk memetakan kondisi pengelolaan sampah di masing-masing wilayah RW.
Program ini menargetkan transformasi sistem pengelolaan sampah di 54 RW di Kecamatan Arcamanik secara bertahap, mulai dari tahap pemetaan, edukasi masyarakat, pelatihan, hingga evaluasi berkelanjutan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Kecamatan Arcamanik diharapkan mampu berkembang menjadi model kawasan pengelolaan sampah terpadu yang dapat direplikasi di Kota Bandung maupun wilayah lain di Jawa Barat. (ask/png)**


