MEDIA-KAMPUS.COM (NMN) – Suasana ceria dan penuh antusiasme mewarnai kegiatan “Communicating Change: Pelatihan Public Speaking dan Personal Branding bagi Siswa SLB di Era Digital”. Tawa, tepuk tangan, dan percakapan hangat antarpeserta menghidupkan suasana ketika para siswa mengikuti pelatihan yang digelar tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) International Photography and Short Movie Festival (IPSMF).
Kegiatan tersebut berlangsung di SLB Negeri A Pajajaran, Jalan Pajajaran Nomor 50, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kamis (22/10/2026). Melalui pelatihan ini, siswa diperkenalkan pada keterampilan komunikasi publik sekaligus diajak mengenali potensi diri dan membangun citra positif, termasuk ketika berinteraksi di era digital.
Pada sesi public speaking, para siswa memperoleh pembekalan mengenai teknik dasar berbicara secara efektif. Materi mencakup cara membuka pembicaraan dengan menarik, mengatur intonasi suara, melafalkan kata dengan jelas, menggunakan gestur yang sesuai, serta menyampaikan pesan secara runtut dan mudah dipahami.
Tidak berhenti pada pemaparan materi, setiap peserta juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkan langsung keterampilan tersebut. Fasilitator memberikan umpan balik sebagai bahan evaluasi agar siswa dapat terus mengembangkan kemampuan berbicara dan semakin percaya diri ketika tampil di hadapan orang lain.
Mengenal Personal Branding dan Keunikan Diri
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi personal branding. Dalam sesi ini, siswa diajak mengenali karakter, minat, kemampuan, dan pengalaman yang menjadi keunikan masing-masing individu.
Para peserta diberikan pemahaman bahwa personal branding bukan berarti berpura-pura menjadi orang lain. Sebaliknya, konsep tersebut berkaitan dengan cara seseorang memperlihatkan nilai dan karakter dirinya secara jujur serta konsisten.
Narasumber dari SLB Negeri A Pajajaran, Aiza, menjelaskan konsep personal branding menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh para siswa.
“Kepribadian yang ditimbulkan itu seperti senyum dan berbicara dengan baik,” ujarnya.
Materi ini juga menekankan pentingnya menjaga citra diri ketika berinteraksi dan bersosialisasi. Siswa diajak memahami bahwa membangun citra positif bukan berarti harus menjadi pribadi yang sempurna. Hal yang lebih penting adalah berupaya menunjukkan sikap, perilaku, dan kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pembentukan citra diri selanjutnya dibahas melalui sejumlah aspek, antara lain leadership, personality, dan keunikan yang ditampilkan seseorang. Untuk memperkuat pemahaman, para siswa mengikuti praktik memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan personal branding yang ingin mereka bangun.
Meskipun beberapa peserta masih terlihat gugup pada awal latihan, dukungan dan apresiasi dari lingkungan sekitar membantu mereka tampil lebih berani. Setiap upaya untuk berbicara dan memperkenalkan diri dipandang sebagai langkah penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri.
Penampilan dan Bahasa Tubuh sebagai Identitas Diri
Narasumber lainnya dari SLB Negeri A Pajajaran, Yustika, memberikan contoh sederhana tentang hubungan antara penampilan, bahasa tubuh, dan citra diri. Ia menjelaskan pakaian yang dikenakannya pada hari itu sekaligus memperlihatkan gestur yang digunakan ketika menyampaikan materi.
“Hari ini saya menggunakan pakaian warna merah seperti panitia lain dan saya sedang berusaha menyampaikan body language dari materi yang saya sampaikan,” ujarnya.
Sesi praktik kemudian dipandu oleh Miss Yus. Saat memperkenalkan diri, ia menggambarkan penampilannya pada hari tersebut sebagai contoh yang dapat diamati dan dipelajari oleh para siswa.
Melalui praktik tersebut, siswa diajak memahami bahwa unsur penampilan, seperti pilihan warna pakaian, serta ekspresi dan bahasa tubuh dapat ikut membentuk kesan orang lain terhadap diri seseorang. Contoh konkret ini menjadi cara sederhana untuk menjelaskan bagaimana personal branding dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Mendorong Kemandirian dan Lingkungan Pendidikan Inklusif
Tim Abdimas IPSMF menegaskan bahwa keterampilan komunikasi merupakan bekal penting bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri, memperluas hubungan sosial, serta mempersiapkan masa depan. Kemampuan menyampaikan gagasan dan memperkenalkan diri diharapkan membantu siswa berpartisipasi lebih aktif dalam lingkungan sosial maupun pendidikan.
Kegiatan ini juga diharapkan mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang semakin inklusif. Setiap siswa perlu memperoleh kesempatan untuk didengar, dihargai, dan mengembangkan kemampuannya tanpa kehilangan keunikan yang dimiliki.
Melalui program Communicating Change, Abdimas IPSMF berharap para siswa SLB tidak hanya semakin terampil berbicara di depan umum, tetapi juga mampu membangun kepercayaan diri dan menampilkan potensi terbaik mereka di ruang digital.
Keberlanjutan program serupa diharapkan dapat memperkuat literasi digital, kemandirian, serta kepemimpinan siswa SLB. Dengan pembekalan keterampilan komunikasi dan dukungan lingkungan yang inklusif, para siswa diharapkan semakin siap mengembangkan diri dan menghadapi tantangan pada masa mendatang.(askur/nmn)****


